HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Penambahan Waktu Sekolah Agar Semakin Pintar?

Redaksi by Redaksi
November 1, 2016
in Artikel, Bingkai, Pendidikan, Sekolah
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ayu Shalihah
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Ar-raniry, Banda Aceh 
Dari judul di atas, pasti kita punya rasa ingin tahu tentang jawabannya bukan? Rasa ingin tahu ini makin mewabah di kalangan masyarakat semenjak adanya kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang rencananya akan mulai menambah jam belajar siswa pada tahun ajaran mendatang. Tentu hal ini melahirkan banyak spekulasi dan bahkan tak jarang oknum atau masyarakat menentang perencanaan kebijakan ini, karena dinilai akan banyak kerugian yang ditimbulkan jika jam belajar siswa ditambah. Adapun kerugian-kerugian yang tidak diharapkan akan timbul seperti kelelahan, kurangnya waktu bersama keluarga, interaksi sosial yang terbatas, kekurangan waktu bermain dan juga bisa membuat anak menjadi depresi. Sebaiknya kita ulas satu per satu.
Pertama adalah kelelahan. Jika waktu sekolah terlalu lama, istirahat pasti berkurang. Bahkan tak jarang anak-anak ke sekolah dalam keadaan kelelahan. Hal ini pernah saya alami ketika duduk bangku SMA. Jadwal sekolah yang panjang dan ditambah dengan jarak yang jauh, saya diharuskan untuk siap dengan segala konsekuensi yang ada. Mengingat jarak yang harus ditempuh antara sekolah saya dengan tempat tinggal saya, kurang lebih memakan waktu 30 menit. Ditambah dengan jadwal sekolah dari pagi hingga sore hari, mengharuskan saya untuk bersiap dari jam 06.00 pagi dan tiba kembali di rumah jam 18.00 sore. Alat transportasi yang saya gunakan adalah bus sekolah yang tentunya membutuhkan waktu lebih lama diakibatkan karena bus yang saya tumpangi harus mengangkut murid-murid lainnya dari berbagai sekolah. Belum lagi waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat menjadi berkurang untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Hal ini tak jarang menimbulkan beberapa efek buruk bagi si anak seperti mudah jatuh sakit, terganggunya pola makan, pola tidur yang tidak sehat, kurang konsentrasi atau susah fokus. Ini juga menjadikan suasana hati anak mudah terganggu.
Kedua, kurangnya waktu bersama keluarga. Hal ini juga dapat mengecilkan dan mengganggu peran keluarga. Padahal anak-anak sangat membutuhkan waktu bersama keluarga. Akibatnya si anak jadi kurang perhatian ke orang tua atau keluarganya sendiri. Hal ini dikarenakan si anak memiliki target sendiri atau punya tanggung jawab sendiri atas tugas sekolah yang harus diselesaikan. Akibat terlalu diharuskan untuk menyelesaikan tugasnya, anak menjadi tidak peduli lagi pada keluarga. Sehingga waktu senggang pun hanya sedikit bersama keluarga. Padahal hal-hal kecil saja dalam ruang lingkup keluarga sangatlah berdampak besar terhadap emosional si anak. Misalnya seperti makan malam bersama, saling berbagi cerita ataupun menonton bersama. Meskipun hal kecil seperti makan bersama, menurut sebuah penelitian terbaru di Journal of American Dietetic Association menyatakan bahwa anak yang makan bersama keluarga, cenderung lebih banyak mengonsumsi buah dan sayuran hijau. Anak yang tidak makan bersama keluarga cenderung memilih makanan yang disukainya serta minum minuman manis. Kebiasaan yang buruk tersebut dapat menempatkan anak pada risiko obesitas. Hal-hal seperti inilah yang ditakutkan akan berkurang apabila waktu si anak dihabiskan lebih banyak untuk sekolah.
Ketiga, interaksi sosial yang terbatas. Dikerenakan waktu si anak lebih banyak dihabiskan atau fokus ke ruang lingkup sekolah, maka jelas interaksi social di luar sekolah mereka pun menjadi terbatas. Dengan kurangnya waktu yang mereka miliki di luar sekolah menjadikan si anak pasif dalam berinteraksi dengan orang di sekitar tempat tinggalnya dan bahkan pergaulan yang lebih luas. Padahal, hal ini sangat berguna bagi pengembangan kepribadian si anak dalam menjalin hubungan dengan masyarakat luas sepeti meningkatkan rasa kepercayaan dirinya, mengasah sikap kepemimpinannya dan membentuk karakter si anak. 
Keempat, kekurangan waktu bermain. Masa kanak-kanak merupakan tahap pertumbuhan yang sangat memerlukan hal-hal yang tidak terikat, sehingga mampu mengurangi tingkat kejenuhan dan tekanan. Masa perkembangan dan pertumbuhan jiwa anak secara alami membutuhkan kegiatan bermain. Menurut beberapa ahli, aktivitas bermain bukan hanya untuk kesenangan semata, namun untuk merangsang respon anak terhadap sesuatu. Respon tersebut yang nantinya akan berakibat pada perkembangan anak. bermain merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan bagi semua orang. Bermain akan memuaskan tuntutan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosial, nilai-nilai dan sikap hidup. Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa pertimbangan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. Dengan demikian, aktivitas bermain dan perkembangan anak saling mempengaruhi terutama dalam perkembangan fisik motorik, bahasa, sosial, kognitif, dan emosional. Selain itu, kegiatan bermain pada anak-anak juga bermanfaat untuk mengembangkan kreativitasnya yang mana di pembelajaran sekolah lebih fokus dalam mengembangkan kemampuan otak kiri dan untuk mengembangkan kemampuan otak kanan dilakukan dengan cara bermain. Sehingga ada keimbangan yang didapatkan oleh si anak. 
Kelima, membuat anak-anak menjadi depresi. Dikarenakan waktu sekolah yang lama, durasi waktu pengerjaan tugas yang relatif kurang, waktu istirahat dan hiburan yang juga kurang, si anak mudah tertekan dan depresi. Ketua Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Guntur Ismail juga melontarkan ketidaksetujuannya akan hal ini, ia takut akan ada kontraproduktif terhadap metode pembelajaran, sehingga justru mengekang emosi siswa yang suatu waktu bisa meledak keluar. Selain itu beliau berpendapat bahwa rencana ini tak ubahnya seperti upaya pengurungan. Maka tak ayal jika rencana kebijakan ini diberlakukan akan membuat anak-anak semakin tertekan dan depresi. Hal lain yang ditakutkan adalah si anak mengatasi hal ini sendiri dengan cara yang salah seperti merokok, menggunakan obat-obatan terlarang atau minum minuman beralkohol.
Jadi kebijakan yang akan diberlakukan ini akan menyebabkan banyak kerugian karena dinilai kurang efektif terlebih pada kesiapan si anak. Ini bukan hanya sekedar masalah “kuantitas” tambahan jam pelajaran sekolah, tapi yang perlu diperhatikan adalah “kualitas” si anak dalam menjalaninya, karena yang dinamakan dengan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membuat para murid nyaman dalam menuntut ilmu, tidak bersifat mengekang apalagi membuat para murid merasa tertekan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 335x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 258x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 173x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
Esai

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026
Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Next Post

Menikmati TransKoetaradja Air di Kota Madani

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com