POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 19, 2025
in Essay, Indonesia
0
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 94d776fc b881 417e 9aca c66a6725773d | Essay | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Banyak orang Sambas di Kalbar sudah lama memilih kabur ke Sarawak Malaysia. Fenomena ini sudah sangat lama. Ada puluhan ribu orang Sambas di negeri jiran itu. Ternyata, ajakan kabur ke luar negeri, viralnya sekarang. Bahkan, Noel seorang Wamen justru berujar, “Bila perlu tak usah pulang.” Sambil sarapan pagi di Jalan Pancasila Pontianak, kita bedah tagar #KaburAjaDulu.

Langit Indonesia masih biru. Matahari masih terbit dari timur. Tapi di media sosial, sebuah tagar berkibar lebih kencang dari bendera di tiang sekolah setiap Senin pagi, #KaburAjaDulu. Bukan sekadar kata-kata, ini adalah jeritan jiwa, deklarasi digital dari generasi yang merasa hidup di tanah kelahiran sendiri lebih sulit dari ujian matematika tanpa kalkulator.

Mereka ingin pergi. Bukan karena tidak cinta, tapi karena lelah. Mereka tumbuh dengan janji bahwa kerja keras akan membawa keberhasilan, tapi yang mereka temui hanyalah lowongan kerja dengan syarat “pengalaman lima tahun” untuk fresh graduate, gaji yang bahkan kalah banyak dari biaya parkir bulanan di Jakarta, dan harga rumah yang seolah dibuat khusus untuk manusia abadi yang punya waktu menabung seribu tahun.

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    Hilang Sepeda
    01 Sep 2024
  • 02
    Essay
    Kita Ingin Dikenang Sebagai Apa?
    26 Mar 2025

Setiap hari, mereka bangun dengan doa yang sama, “Semoga hari ini lebih baik.” Tapi yang datang malah berita harga beras naik, biaya hidup naik, apa saja naik. Sementara satu-satunya yang tidak naik adalah gaji dan harapan. Mereka disuruh bersyukur, tapi perut tetap harus diisi. Disuruh berjuang, tapi yang menang tetap orang-orang itu lagi. Lalu muncullah pikiran sederhana, kalau hidup di sini seperti permainan yang sudah diatur supaya selalu kalah, kenapa tidak pindah ke arena lain?

Mereka melihat Instagram, TikTok, YouTube, anak-anak muda di luar negeri hidup dengan tenang. Makan enak tanpa harus hitung-hitungan sampai angka nol di rekening. Gaji cukup untuk hidup layak, bukan hanya untuk bertahan hidup. Sistem yang lebih jelas, aturan yang lebih masuk akal, kesempatan yang lebih nyata. Bukan ilusi, bukan janji manis.

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    RIZAL RAMLI DALAM KENANGAN
    03 Jan 2024
  • KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 1000551521_11zon | Essay | Potret Online
    #Hardiknas
    Kilau Masa Depan di Bengkel Schneider
    02 Mei 2025

Maka dimulailah pencarian. Beasiswa? Bisa. Kerja? Bisa. Nikah sama warga lokal? Kalau beruntung, kenapa tidak? Grup-grup diskusi bertebaran, tips dan trik pindah negara beredar lebih cepat dari gosip artis. Anak-anak muda yang dulu diajari mencintai tanah air, sekarang diajari cara meninggalkannya dengan rapi, legal, dan tanpa drama.

Tentu saja, tidak semua orang setuju. “Nasionalisme!” teriak mereka yang nyaman hidup di posisi atas. “Jangan lari, bangun negeri ini!” Tapi bagaimana mau membangun kalau alatnya rusak, bahan bakunya mahal, dan setiap kali ada yang mencoba, malah dijegal oleh sistem? Nasionalisme itu indah, tapi perut kosong lebih nyata.

Baca Juga
  • KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 2025 07 15 15 30 16 | Essay | Potret Online
    Artikel
    Pepaya, Pisang, dan Jambu Air: Pelajaran dari Yogyakarta
    16 Jul 2025
  • KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - 9c4c192b 476b 4fb7 a693 a3a3f83b9655 | Essay | Potret Online
    Essay
    Pemancing Ikan: Optimisme, Kesabaran dan Iman
    16 Jan 2025

Jadi mereka pergi. Satu per satu, pelan tapi pasti. Ada yang hanya sementara, ada yang memilih selamanya. Setiap kali seseorang berhasil kabur, yang tinggal hanya bisa melihat dengan dua perasaan, iri dan sadar bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka juga harus mulai mencari jalan keluar.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tags: #kaburajadulu
Previous Post

Pujian Penebas Leher

Next Post

Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King

Next Post
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang” - IMG 20250219 WA0003 | Essay | Potret Online

Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah