Dengarkan Artikel
Oleh: Heri Haliling
Kedatanganku di rumah berornamen adat dan penuh patung ini sekitar awal November pada musim penghujan di Desa Jelai, Kota Sampit Kalimantan Tengah.
Kami dari Kapuas; jarak pulang itu seharian. Ayahku duda dan pendulang emas di perbatasan desa tersebut. Kebanyakan harinya akan dihabiskan di tenda sekitar lokasi dan hanya pulang seminggu sekali untuk mengambil perbekalan.
“Kau di rumah itu saja. Mumpung sekolah libur semester, nikmati dan belajar di sana” kata Ayah sekali waktu.
Kretek!!!!tekkk!!!tek!!!!tekkk!!!
Tuhan?? Ini menggangguku kembali. Ku tinggalkan catatan lembar pertamaku. Ku lihat jam dinding di kamar, pukul 10 malam. Tiga malam aku telah di sini sendirian. Melalui pesan Julak Ampoy selaku pemilik rumah yang tinggal 500 meter dari sini; aku tak perlu cemas.
📚 Artikel Terkait
“Itu penjaga rumah! Anggaplah teman. Kau lahir seurat sedarah dengannya” begitu yang ku ingat.
Ku putuskan untuk keluar kamar. Sedikit gelap, ku hidupkan saklar lampu dan berjalan ke arah suara yang berada di ruang tamu. Bunyi burung cabak bersahutan dipadukan dengan derit lantai kayu yang ku pijak.
Di balik rak kaset dvd dan sedikit berhimpit dengan salon speaker; dalam posisi berdiri menyandar tembok dan tamengnya, mandau itu berulah kembali.
Prangggg!!!!!!!!! Kini satu suara benda jatuh datang dari dapur mengejutkan pengamatanku. Aku memutar langkah sementara mandau itu kian bergetar hebat. Belum satu pijakan baru, sekonyong-konyong angin begitu saja masuk membuka jendela dan menyibakkan hordennya.
Suasana desa sepi kehitaman terlihat sekarang. Angin menerpa wajah memulas mataku untuk menutup. Sesaat cepat mataku membuka, tiba-tiba sesosok pria tegap tanpa kepala telah berada menghadapku. Lehernya buntung dan menyemburkan darah kehitaman. Badannya lebam dengan kaos penuh sayatan dalam. Tak kalah, darah juga merembes bahkan tampak bulir gelembung-gelembung kecil. Kontan aku terhenyak dan hendak teriak tapi kaku kena gendam.
Sementara itu bau anyir darah bercampur bangkai begitu menyiksaku. Aku kelojotan dengan mata membelalak. Sosok itu memajukan lehernya. Tiba-tiba rak terdorong ke depan; jatuh. Lalu ku lihat sebuah besi hitam pipih dengan bunyi lonceng khas, tercabut dari sarungnya lalu melayang sejenak di udara untuk kemudian jatuh menebas kuat. Sekejab dingin, badanku lemas tak tertahan; aku ambruk.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






