Dengarkan Artikel
1Salah satu kisah dari Detektif Jimmy
Oleh Reza Pahlevi
Di tengah derasnya hujan, Genzi memacu mobil di kecepatan tinggi. Di momen tengah malam begini, ia seolah-olah begitu leluasa mengemudi. Hampir sepanjang jalan tak ada kendaraan lain yang lewat.
Kedua mata Genzi tetap fokus menatap jalan — sesekali dia juga melirik kaca spion tengah dan juga kiri serta kanan. Gelagat lelaki ini dalam kewaspadaan tinggi.
“Ke mana… kau membawaku?” tanya seorang wanita. Suaranya terdengar lemah dan tidak berdaya.
Ya, Genzi tidak sendirian. Dia membawa seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun dari kadiamannya. Saat ini, wanita yang dikenal sebagai Azkiya itu berada di bagian belakang mobil. Dia terbaring lemah di kursi dengan lumuran darah di sekujur wajah dan sebagian pakaiannya.
“Apa kau… ingin… membunuhku?” tanya sang wanita lagi.
Genzi menanggapi perempuan itu dengan senyuman sinis dan menjawab, “membunuhmu tak ada artinya bagiku. Lebih baik aku menyiksamu terlebih dahulu — dengan begitu kau bisa memahami bagaimana penderitaanku selama ini setelah kau membunuh istriku.” katanya.
Azkiya spontan berteriak. “Aku tidak membunuh istrimu!”
📚 Artikel Terkait
“Memang… kematian istriku bukan langsung dari tanganmu. Tapi, kau orang yang sudah membuat istriku tewas melalui orang lain. Kau menuduhnya berselingkuh, dan semua itu berujung pada kematian istriku.”
“A… aku tidak menuduh — istrimu memang berselingkuh. Aku melihatnya langsung — ”
“Diam…!” teriak Genzi. Ia cukup berang mendengar ujaran Azkiya. Dan, kekesalannya itu membuat dirinya secara tak sadar memacukan kendaraan lebih tajam dari sebelumnya.
Sekitar dua puluh menit berselang, Genzi menepikan mobilnya di depan sebuah gedung yang gelap dan kusam. Bangunannya yang berlantai tiga itu terlihat sudah lumayan rusak. Wajar saja sebab sudah sangat lama tidak dipakai.
Di dalam mobil, Genzi melirik ke sekitar untuk memastikan keadaannya. Saat ia mengira situasinya aman, lantas lelaki ini membawa masuk mobilnya ke pekarangan belakang gedung, kemudian keluar dari dalam dengan membawa serta Azkiya.
Ketika sedang menggotong sang wanita berjalan yang sudah berdarah-darah itu, terlihat ada sebuah belati yang menancap di paha kirinya. Sepertinya, Genzi melukai Azkiya menggunakan senjata tajam tersebut.
Tiba di lantai dua, Genzi membaringkan Azkiya di atas sebuah meja. Tempat yang mereka datangi ini dipenuhi dengan meja, kursi serta rak-rak buku yang tertata kacau. Pemandangan itu menandakan bahwa gedung tua yang kusam ini dulunya adalah sebuah perpustakaan.
“Jangan. Tolong jangan.” ujar Azkiya. Kedua tangan wanita itu spontan menggenggam erat pakaiannya.
“Hanya pria bodoh yang mau melakukannya…” balas Genzi. Dia paham gelagat Azkiya yang menggenggam erat pakaiannya. Wanita itu takut Genzi berniat memerkosainya.
“Aku tidak melampiaskan dendam dengan cara menodai kesucianmu. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk membuatmu paham bahwa semua perlakuanmu terhadapku — juga keterlibatanmu di balik tewasnya istriku —semua sudah meninggalkan luka batin di hatiku.
Karna itu, kau harus tau apa yang sedang kurasakan saat ini. Mungkin, aku tidak bisa melukai hatimu seperti yang kau lakukan — maka satu-satunya cara adalah menyiksamu sampai kau benar-benar merasa bersalah dan memohon ampun padaku — memohon seperti budak.”
Genzi lantas melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk sekujur tubuh Azkiya. Ia terus melakukannya dan sama sekali tidak peduli terhadap wanita itu yang berteriak serta juga menangis histeris. Tidak hanya itu, Genzi juga sesekali mencekik leher sang perempuan, menjambak rambutnya bahkan juga mengantukkan kepala wanita tersebut ke permukaan meja.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






