POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menulislah dan Anda Akan Bahagia

RedaksiOleh Redaksi
March 15, 2017
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dina Triani GA (Writer/Author-Banda Aceh)

Banyak orang yang mengeluh tentang betapa sulitnya menulis. Alasannya beragam, mulai dari tidak percaya diri, tidak berbakat, malas, tidak punya ide, tidak ada waktu, sedang tidak mood dan sebagainya. Namun, jika tahu betapa asyiknya menulis, semua orang mungkin ingin menjadi seorang penulis. Menulis adalah cara kita mencurahkan isi hati yang terdalam. Bentuk ekspresi diri. Dan yang terpenting, menulis bisa membuat kita jauh lebih bahagia. Kecuali jika seseorang melihat menulis sebagai beban dan kewajiban.

Menjadi seorang penulis dapat dilakukan tanpa meninggalkan pekerjaan utama, baik dia seorang dokter, dosen, pengusaha, atlit, polisi, arsitek, mahasiswa, ibu rumah tangga dan sebagainya. Jadi tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak menulis hanya karena profesinya bukan seorang penulis. Sesibuk apa pun pekerjaan dalam keseharian, kalau saja mau, kita tetap punya waktu untuk menulis. Sama seperti kita mengeluhkan sesuatu di status Facebook atau BBM. Maka, sempatkanlah! Dengan menulis orang lain akan tahu siapa diri kita, karena tulisan-tulisan kita membuat orang ingat tentang diri kita. Dan tulisanlah yang membuat dunia masih mengenang kita bahkan jika kita sudah meninggal dunia. Contohnya karya-karya Helen Keller yang berusia ratusan tahun, masih menjadi inspirasi jutaan orang untuk bangkit dari ketidakberdayaan sebagai perempuan buta, tuli, dan bisu. Bukan hanya Helen, buku harian gadis kecil bernama Anne Frank yang kemudian dibukukan setelah ia mati oleh kekejaman Nazi juga menjadi bacaan yang memperkaya dan bermanfaat.

Dibutuhkan niat yang kuat untuk mau berbagi dan mengivestasikan waktu minimal satu jam saja dalam sehari untuk menulis. Seseorang bisa menulis jika diiringi kemauan dan komitmen yang kuat untuk memulainya, kapan dan dimana saja. Niatkan dengan teguh bahwa pesan tulisan yang kita bagikan kepada pembaca bermanfaat baik, memberi pencerahan, dan menyejukkan hati. Jangan menulis hanya sekadar mencari uang meskipun ada bonus tambahan lain yang didapat dari menulis. Jadikan menulis tujuannya untuk kebaikan: ibadah. Sebagai investasi akhirat. Berharaplah semoga setiap tulisan kita yang dibaca ada sebagian pesan yang bermanfaat bagi orang lain.

Sejatinya, menulis itu adalah berbagi ilmu, informasi, ide, gagasan, pesan-pesan moral dan pengalaman. Menulis merupakan cara berkomunikasi. Semua ide, gagasan, atau saran dapat dituangkan dalam tulisan. Menulis, baik itu novel, cerpen, motivasi, inspirasi, opini, tidak bermaksud mengajari, berdakwah atau mendongeng. Nilai terpenting adalah mungkin ada manfaat yang berhak diketahui orang lain. Untuk memberi tahu apa yang ada dalam pikiran kita sehingga pembaca dapat mengambil manfaatnya. Menulis juga membuat manusia yang cermat. Jika saja semua orang punya semangat menulis untuk saling berbagi melalui tulisan, bakal betapa cerdasnya bangsa kita!

📚 Artikel Terkait

Menerbitkan Buku Kala Toko Buku Gulung Tikar

Kisah Hanifah

Jambo Politek Aneuk Nanggroe

Gelar Tinggi, Moral Rendah – Ulasan Artikel

Senjata untuk membuat sebuah tulisan yang kaya makna adalah membaca buku. Buku adalah sumber ilmu dan amunisi kreativitas dalam kepala kita. Maka banyaklah membaca, karena membaca buku sumber kekuatan menulis. Dengan membaca, pengetahuan seseorang akan bertambah, akan menajamkan pikiran, dapat memercikkan gagasan, ide, dan bahan untuk bekal menulis. Francis Bacon, filsus dan penulis asal Inggris berkata, “Seseorang yang gemar membaca akan mempunyai pandagan yang luas, membuat menjadi manusia yang utuh, sedangkan orang yang gemar berdiskusi membuat orang harus siap memberikan jawaban atau mengajukan pertanyaan, dan orang yang gemar menulis membuat menjadi manusia yang cermat.”

Dr. Aidh al-Qarni, seorang hafidz Al-Quran dan pengarang buku terkenal La Tahzan mengungkapkan, “ Buku adalah teman yang paling baik. Bercakaplah dengan buku, bersahabatlah dengan ilmu, dan bertemanlah dengan pengetahuan.” Banyak hal yang dapat digali dari sebuah buku. Tetapi sedikit dari kita yang memanfaatkan buku sebagai jembatan untuk menuju dunia yang lebih baik. Ilmu yang bermanfaat akan berguna sekali bagi diri kita dan juga orang lain. Dan ketika harta ilmu itu sudah bertambah dan menggunug, tiba saatnya kita bersedekah ilmu melalui tulisan.

Hamka, seorang ulama dan sastrawan Indonesia pernah mengeluh, “Banyak kawan saya yang terlalu takut mengarang, maju-mundur sehingga tidak pernah mengarang. Mereka tidak punya keberanian, karena ingin karangannya sempurna. Mana ada di dunia ini karanganna sempurna? “ Tepat sekali, jika kita hanya terpaku pada kaidah penulisan yang benar, maka akan merasa terpenjara dengan hal-hal itu. Akibatnya gagasannya menjadi buntu, lemah, mati dan akhirnya kita tak pernah menulis. Seorang penulis berpesan dengan sangat bijak bahwa kita sebaiknya menulis seperti bercerita layaknya menggunakan bahasa lisan, yang dicerminkan kembali ke dalam bahasa tulisan. ” Writing comes more easily if you have something to say, “ kata novelis Amerika, Sholem Asch. Sempurna itu harus, namun berharap kesempurnanaan total hingga mengorbankan kreativitas itu jangan sampai terjadi. Kaidah EYD, tata bahasa, pemenggalan kata dan kaida-kaidah lainnya dalam penulisan tidak begitu saja menuntut kita harus sempurna dalam penulisan. Teruslah menulis dan jangan takut salah.

Menulis dapat digunakan sebagai alat terapi untuk lepas dari trauma dan masalah-masalah kejiwaan. Seorang psikolog klinis dan peneliti di bidang psikiatri, bernama Beikie serta Wilhem, seorang konsultan psikiater asal Australia sangat menyarakan menulis secara ekspresif sebagai terapi kejiwaan. Saat ini tersedia banyak media online dan offline yang bisa kita gunakan untuk menuangkan ekspresi ke bentuk tulisan. Ada Facebook, blog, koran, majalah, buku, wordpress, twitter, tabloid, buletin dan sebagainya yang telah membuka jalan bagi mereka yang ingin menulis.

Mulailah menulis! Dengan menulis beban dan tekanan kerja yang ada akan sedikit berkurang karena emosi yang tertuang ke dalam tulisan. Anda akan merasakan nikmatnya menulis. Dan saat yang paling bahagia adalah ketika melihat tulisan kita dimuat di media. Namun ada pesan yang tak boleh kita abaikan dari Imam Al Ghazali: “ Sebuah karangan yang ditulis sekadar mencari uang tidak akan hidup.” So, menulislah dengan hati yang ikhlas agar tulisan kita memiliki nyawa. Selamat menulis!***

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Puisi-puisi Tahnia Katshura

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00