• Latest
Kisah Hanifah - IMG 20250215 WA0001 | Suara Siswa | Potret Online

Kisah Hanifah

Februari 15, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kisah Hanifah - 1001348646_11zon | Suara Siswa | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kisah Hanifah - 1001353319_11zon | Suara Siswa | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kisah Hanifah - 1001361361_11zon | Suara Siswa | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kisah Hanifah

Redaksi by Redaksi
Februari 15, 2025
in Suara Siswa
Reading Time: 3 mins read
0
Kisah Hanifah - IMG 20250215 WA0001 | Suara Siswa | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh Dwi Sutarjantono,

Namanya Hanifah. Sederhana, seperti embun pagi yang turun tanpa suara, namun menyegarkan bumi yang kering. Tidak memiliki ejaan yang rumit seperti kebanyakan nama remaja seusianya. Wajahnya pun sederhana, tapi matanya tajam, bagaikan nyala obor di tengah malam gelap, memberi petunjuk ke mana arah kebenaran.

Baca Juga
  • Senyum Adalah Sedekah

Di saat dunia pendidikan tenggelam dalam pusaran kebijakan yang tak tersentuh, Hanifah muncul sebagai riak kecil yang berani menantang arus. Siswi kelas 12 di SMAN 7 Cirebon ini mungkin tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya akan bergema di seluruh negeri. Saat dihadapkan pada ketidakadilan, ia memilih berbicara. Bukan sekadar untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kebenaran yang lebih besar.

Sebagai anak ASN penerima Program Indonesia Pintar (PIP), Hanifah seharusnya paham tata krama: diam, tunduk, menerima. Tapi Hanifah memilih sebaliknya. Mulut yang seharusnya terbungkam, justru membuka kenyataan yang tak ingin didengar banyak orang. Sebagian dari dana itu dipangkas oleh tangan-tangan yang mengatasnamakan partai politik, dengan dalih untuk “kelancaran” pencairan. Bagi banyak siswa, pemotongan ini dianggap sebagai takdir, seperti hujan yang turun tanpa bisa dicegah. Tapi tidak bagi Hanifah.

Ketika sebagian besar memilih tunduk, ia berdiri tegak. Suaranya yang lantang membelah kebisuan, seperti lonceng gereja yang berdentang di tengah malam, membangunkan mereka yang tertidur dalam kebungkaman. Ia mengungkap praktik curang ini kepada Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi. Hanifah tidak berbicara dengan amarah, tetapi dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa diam berarti membiarkan ketidakadilan berakar semakin dalam. Dan keberaniannya pun tak sia-sia. Kata-katanya mengguncang banyak pihak dan menguak tabir kejanggalan dalam distribusi dana bantuan pendidikan.

Hanifah adalah bunga liar yang tak memilih tanah tempatnya tumbuh. Ia mekar di antara reruntuhan, menantang semak berduri yang ingin mencekiknya. Ia tidak meminta izin untuk mekar, tidak tunduk pada aturan yang hanya menguntungkan mereka yang rakus. Keberaniannya seperti burung kecil yang menantang angin topan, mengepakkan sayapnya di langit yang tak menjanjikan perlindungan. Tapi ia terus terbang, sebab menyerah bukan pilihannya. Namun, justru karena langka, anak-anak seperti Hanifah harus kita jaga. Mereka adalah percikan kecil yang, jika dibiarkan redup, akan hilang ditelan kerakusan sistem.

Berbicara kebenaran bukanlah perkara mudah. Ada harga yang harus dibayar. Pandangan sinis, tekanan dari mereka yang merasa terusik, bahkan ancaman yang mengintai di balik bayang-bayang. Tapi itulah risiko yang harus dihadapi oleh mereka yang memilih untuk tidak tinggal diam. Hanifah telah membuktikan bahwa keberanian lebih berharga daripada ketakutan.

Kisah Hanifah bukan sekadar tentang seorang gadis yang berani berbicara. Ini adalah refleksi dari realitas yang sering kita abaikan. Tentang bagaimana korupsi merayap seperti akar pohon tua, menggerogoti sistem yang seharusnya menopang masa depan generasi muda. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi sering kali dari suara kecil yang cukup berani untuk didengar.

Di usia yang masih belia, Hanifah telah menjadi mercusuar keberanian. Ia mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk melawan ketidakadilan, bahwa kebenaran selalu layak diperjuangkan. Namun, keberanian seperti ini tidak boleh dibiarkan sendirian. Hanifah dan anak-anak sepertinya adalah nyala api kecil yang harus kita lindungi, agar tidak padam sebelum sempat menerangi dunia, agar tidak tenggelam sebelum sempat menyentuh langit. Sebab tanpa mereka, kita hanya akan terus hidup dalam sunyi yang menghamba pada kebobrokan.

Hanifah, namamu memang sederhana. Tapi keberanianmu tidak. Suaramu kecil, tapi menggema panjang. Pilihanmu sederhana, tapi berat: mengungkap kebenaran, meski dunia lebih nyaman dalam kebohongan.

(Dwi Sutarjantono, Penulis/Mind Programmer/Sekretaris Umum Satupena DKI)

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Kisah Hanifah - IMG_2154 1 scaled | Suara Siswa | Potret Online

Mengajak Anak Menulis Traveling Notes

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com