Dengarkan Artikel
Oleh Teuku Masrizar
Selesai makan siang hari ini saya kembali ke kantor untuk melaksabakan tugas-tugas yang belum selesai dilaksanakan pagi tadi. Namun saya singgah kembali di Reborn Kupi, Kampung Padang,Tapaktuan setelah dua minggu tidak berkunjung. Saya kembali rindu dengan Hayuzar Saputra yang kerap dipanggil Bogem, kocak dan candanya dalam melayani setiap pengunjung di cafenya.
Sekilas cafe ini kelihatan tidak menarik, justru tidak nampak seperti sebuah cafe layak biasanya. Hanya rumah biasa, layaknya rumah-rumah yang ada di sepanjang Pesisir barat Aceh lainnya. Namun suasanannya berubah ketika sudah memasuki dan sudah di dalam cafe.
Designnya menarik dengan gaya modern menjadi lebih nyaman untuk berlama-lama sambil meyeruput bir pala.
📚 Artikel Terkait
Kata Bogem, awalnya pasca resign dari Staf Pengaman Bank Rakyat Indonesia (BRI), dia membuka sebuah cafe. Sebagai cafe yang lazim pada umumnya, namun usahannya jalan di tempat. Lalu bogem ingin mencoba jenis minuman baru. Tidak saja kopi dan variasi minuman turunannya, namun juga coba meracik hal baru sesuai dengan potensi Aceh Selatan, Pala.
Dalam tradisi petani pala di Aceh Selatan, biasanya biji dan fuli saja yang dimanfaatkan dan bernilai ekonomis/Sementara daging buah selama ini telah dijadikan berbagai varian deversifikasi, baik manisan pala, sirup pala, permen pala, hingga balsem pala sebagai hasil ikutan.
Bogem terus mencoba berbagai inovasi dengan bahan baku daging buah pala. Berkali-kali banyak yang gagal belum menemukan taste yang cocok . Dia tidak putus asa, terus mencoba dan bertanya dengan banyak orang juga dengan ahli dalam bidang makanan dan minuman. Perjuangannya berbuah manis. Dia telah menghasilkan minuman ekstrak pala yang lebih sering disebut Bir Pala.
Menariknya ada perbedaan antara makanan dan minuman olahan pala lainnya dengan bir pala. Dalam proses pembuatan bir pala tidak menghasilkan limbah, karena daging dan kulit buah semua digunakan. Bahkan ampas sisa olahan bir pala biasanya dihinggapi lebah, bisa jadi untuk memperkaya rasa madunya dan tidak dikunjungi lalat. Setelah busuk biasanya dapat digunakan sebagai pupuk.
Bogem jadi senang, namun sekali – kali bingung. Senangnya karena telah menemukan jenis minuman baru dan cocok dikomsumsi oleh semua kalangan, enak dan menyehatkan. Tapi di lain sisi, dia bingung dengan nama “bir pala”. Bagaimana mungkin maju usahanya jika nama minuman favoritnya “bir pala” yang mengandung alkohol dan haram diminum oleh kalangan muslim. Akhirnya dia mengurus dokumen dan sertifikat dari BPPOM dan LPPOM MPU ACEH bahwa minuman bir pala halal dan aman dikomsumsi dan tidak mengandung alkohol.
Selanjutnya Bogem kembali sertifikat merek dari Kemenkum HAM dengan etiket merek “Berpala”. Ya begitulah kalau sesuatu yang sering disebut dalam masyarakat Aceh, bila namanya Ismail maka dipanggil mae, Muhammad Kasim dipanghil Mak kasem dan sebagainya. Nah begitu juga harusnya “Berpala” uang dimaknai mari sama-sama minum ekstrak pala namun disebut “birpala”. Oalllla@
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






