POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jadilah Legenda

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
January 31, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Penulis akan mati dan bisa saja dilupakan seiring waktu berjalan. Tapi, sebagian penulis akan tetap hidup meski dia sudah tiada karena karya tulisannya telah membuat dirinya menjelma sebagai seorang legenda.

Menulis itu menyenangkan, bukan? Tentu saja, bagi kita yang memang suka menulis. Rasanya, hidup ini seperti hambar jika tidak menulis satu kalimat saja. Apa kamu merasakannya? Saya jelas merasakannya. Meski tidak selalu saya publish, tapi paling tidak saya harus menulis walaupun hanya berupa satu kalimat sederhana.

Menulis sudah seperti bagian dari hidup saya. Saya merasa seperti punya banyak nyawa saat menulis — sebaliknya saya merasa seperti mati jika tidak menulis. Begitulah perumpamaannya.

Apalagi, sekarang ini cukup mudah. Banyak platform online yang siap menerima tulisan kita. Beberapa ada yang gratis, tapi tidak sedikit juga yang memberikan honor bagi siapa saja yang menulis di platform-platform tertentu.

Saya sendiri selama ini cukup aktif menulis di Medium. Mulai dari puisi, cerita-cerita pendek sampai opini, saya tuangkan di situ. Selain Medium, saya juga sempat aktif berkarya di beberapa media novel seperti Wattpad, KBM dan Fizzo. Tentu saja, banyak hal baru yang saya temukan di sana, terutama dalam hal kepenulisan novel yang baru-baru ini sedang saya coba kembangkan ke arah yang lebih baik.

Dengan banyaknya wadah menulis online, sebenarnya itu sudah memudahkan kita yang suka menulis. Kita tak perlu pusing harus memikirkan bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca oleh publik. Atau, jika ingin tulisan kita mendapatkan uang, maka tinggal dikirimkan saja ke media yang memang akan memberikan honor kepada para penulis.

Sebagai contoh; di KBM dan Fizzo — di sana banyak penulis pemula yang dengan penuh percaya diri menulis novel. Dan, karena konsistensi mereka yang “tidak ada obat”, beberapa karya dari penulis-penulis terbaik sudah berhasil dibukukan dan laris di pasaran.

Padahal, mungkin mereka awalnya hanya mencoba-coba saja dan tak pernah menduga buku mereka banyak yang ingin membacanya. Luar biasa memang, jika ingin tulisan kita menjadi uang, maka yang harus dilakukan adalah konsisten menulis.

Jika tidak, kecil kemungkinan tulisan kita dapat menjadi uang, bahkan mungkin untuk berkembang saja susah. Oleh karena itu, konsistensi sangat diperlukan bagi para penulis sebab menulis itu bukan hanya tentang menuangkan ide ke dalam kata-kata, tapi juga bagaimana cara kita merancang kata-kata menjadi sesuatu yang disukai dan mudah dipahami oleh pembaca.

Saya percaya, salah satu cara untuk membuat tulisan kita menjadi lebih berwarna adalah dengan membaca tulisan orang lain. Membaca tulisan dari penulis lain dapat membantu kita memperkaya kosakata. Jadi, kata yang kita pakai tidak selalu sama di setiap judul tulisannya. Kita punya banyak sinonim untuk menjelaskan suatu hal yang sama berulang kali.

Selain memperbanyak kosakata, dengan membaca tulisan orang lain juga membantu kita belajar cara membentuk satu kalimat sederhana namun sarat makna dan akan terus terngiang di benak setiap orang.

Terkadang, kita bertanya-tanya, bagimana seseorang bisa membuat sebuah kutipan sederhana tapi kata-katanya terus terngiang di kepala, bahkan sampai membuat kita mengikuti apa yang ia tulis. Itu terjadi karena bisa saja seseorang itu memang ahli menciptakan tulisan yang mampu membuat pembaca tertarik — atau bisa saja karena dia sering membaca.

Jika kita adalah seorang yang gemar menulis, ingatlah bahwa di atas kita ada lagi penulis hebat. Dari merekalah kita belajar menjadi lebih baik. Semua agar tulisan kita berkembamg sebagaimana mestinya.

Meskipun di era ini sudah serba mudah — terutama bagi penulis karena sudah banyak platform online yang menerima berbagai macam tulisan — bahkan ada yang sampai berhasil menghasilkan uang — tetap saja, kita harus banyak membaca.

Sebab, percuma saja kita mengirim banyak tulisan dan kemudian mendapatkan banyak uang akan tetapi kita menolak untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Oleh sebabnya, membaca sangat penting terutama bagi penulis yang ingin karyanya dikenal luas oleh banyak orang dan mendapatkan hasil yang sepadan berupa royalti.

Akan tetapi, ada hal penting lainnya yang perlu digarisbawahi selain membaca. Saya, secara pribadi, selalu menekankan diri untuk memberikan kesan manfaat kepada para pembaca. Sekali pun itu novel, puisi atau bahkan opini.

Tetap saya mencoba agar di dalam tulisan saya ada sesuatu yang bisa diambil oleh para pembaca. Karena itulah, walaupun saya menulis puisi yang arahnya tentang percintaan atau tentang kegelisahan dari seseorang, saya akan mencoba merangkainya dengan teliti agar para pembaca dapat mengambil sesuatu.

📚 Artikel Terkait

Pelajaran Pahit dari Banjir Aceh–Sumut–Sumbar: Mengapa Hutan Kita Hancur dan Negara Gagal Belajar

Hilirisasi Produk Riset: Jalan Menuju Aceh Sejahtera

Selamat Hari Ayah Nasional

DPR Sekolah, Cara Unik Menyaingi Gawai

Contoh; jika saya menulis puisi tentang depresi, saya akan merangkai kata-kata yang setidaknya memberi pesan kepada para pembaca bahwa penyakit mental itu cukup berbahaya. Atau, akan saya terangkan secara tersirat bahwa cara menghadapi orang-orang yang dipresi berbeda-beda — tekadang yang mereka butuh hanya tempat curhat karena itulah solusinya agar dia bebas dari depresi — bukan menceramahi atau pun mengguruinya.

Begitu juga jika saya menulis tentang percintaan, umumnya tentang penolakan cinta. Meskipun tulisannya banyak melibatkan pelampiasan kekesalan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, saya tetap mencoba memberi pesan tersirat bahwa penolakan cinta bukanlah akhir dari segalanya.

Sebisa mungkin saya rancang kata-katanya bahwa penolakan cinta itu hal yang lumrah dan bisa terjadi pada siapa pun. Yang terpenting adalah bagaimana cara seseorang bereaksi setelah menerima kenyataan pahit — salah satu yang terpahit dalam hidupnya. Sebab, cinta bertepuk sebelah tangan itu juga perkara rumit. Banyak orang yang tertekan bahkan sampai bunuh diri hanya karena cintanya tidak diterima.

Atas alasan itu, saya yang sejak dulu sudah gemar menulis, punya kekuatan besar untuk memengaruhi segelintir orang. Ya, setiap kata yang tercipta punya pengaruh yaitu baik atau buruk. Melalui kata-kata, seseorang bisa terjerumus kepada hal-hal negatif atau sebaliknya.

Nah, di sini, seakan-akan saya punya tanggung jawab besar untuk membawa siapa saja pembaca yang membaca tulisan saya ke sebuah ruang imajinasi. Tanggung jawab ini bukan perkara mudah karena saya akan menjadi orang pertama yang mesti bertanggung jawab ke mana saya membawa mereka melalui tulisan-tulisan saya. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya menghindari diri dari menulis sesuatu yang menjurus ke arah negatif, salah satunya hal-hal vulgar atau pornografi.

Kenapa tiba-tiba arah topiknya berubah ke vulgar atau pornografi? Jawabannya karena saya cukup sering menemukan bentuk tulisan yang bahasanya sangat vulgar dan tidak layak dibaca oleh sekelompok orang, terutama yang masih di bawah umur.

Bahkan, judul tulisannya saja sudah tidak elok — besar kemungkinan isinya pun juga sama.

Memang, judul punya peran yang cukup signifikan. Penulis mesti menyusun judul yang dapat membuat pembaca penasaran agar tulisan kita dibaca atau paling tidak sekedar dilihat. Akan tetapi, seharusnya penulis tidak mesti menyisipkan kata-kata vulgar yang dapat membangkitkan hasrat seksual.

Beda halnya jika kita menulis di platform online khusus area dewasa dan tulisannya hanya tersebar di situ saja. Tapi, jika platform yang kita kirim tulisannya bisa ditelusuri oleh kalangan umur, sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum membuat judul yang kesannya “wow”.

Kemudian, belakangan ini sepertinya banyak pembaca muda yang gemar membaca cerita-cerita vulgar, terutama yang arahnya sangat berdekatan dengan bau-bau pornografi. Jika ditelusuri umurnya, rata-rata mereka masih anak-anak SMA.

Saya mengetahui ini ketika bergabung ke sebuah platform novel online. Di situ, sebelum mulai menulis, saya mesti menentukan target usia pembaca saya. Dan, saya memilih rentang usia 18-an sampai 20-an. Lantas, setelah menentukan rentang usia, secara otomatis ada banyak novel yang disarankan untuk saya baca.

Dari sekian banyak novel yang disarankan itu, sebagian besar arahnya cukup liar — sangat memprihatinkan. Dari situ saya mencoba mengambil kesimpulan, ternyata banyak anak usia belasan sampai dua puluhan tahun yang gemar membaca tentang sesuatu yang vulgar-vulgar. Hal- hal tentang membenarkan perselingkuhan atau hubungan intim di luar nikah cukup sering saya temukan.

Saya paham, agar tulisan kita menarik, kita mesti membuatnya dengan baik dan menyematkan judul dengan bahasa yang dapat memikat perhatian pembaca.

Selain itu, bagi penulis yang mengharapkan royalti, sudah pasti harus memahami pasaran — dalam arti kata pembaca. Oleh karenanya, para penulis mesti mencari tahu jenis bacaan seperti apa yang paling digemari di era sekarang ini. Atau, penulis mesti sadar jenis bacaan apa yang sedang viral, dan apabila kita menulisnya, besar kemungkinan viewer-nya meningkat drastits. Tapi, itu semua tidak menjadikan alasan untuk menulis tentang sesuatu yang vulgar-vulgar atau yang mengarah kepada pornografi. Ada baiknya penulis menghindari topik-topik seperti itu yang banyak sisi negatifnya.

Saya pribadi tidak ingin menyalahkan penulis-penulis yang memang mengarahkan topik pembahasannya ke arah vulgar atau pornografi. Mereka jelas punya pandangan tersendiri dan tentu saja siap dengan segala resikonya.

Hanya saja, saya mencoba menghindarinya sebisa mungkin dan tidak ingin terpengaruh untuk menulis tentang topik-topik itu meski besar kemungkinan rasio viewer saya bisa meningkat drastis atau saya akan mendapatkan bayaran tinggi.

Benar bahwasanya saat ini saya juga sudah mengubah kebiasaan menulis; dari yang awalnya hanya sekedar hobi, kini menjadi pekerjaan sampingan yang bisa menghasilkan uang. Akan tetapi, seperti yang saya cantumkan tadi, ada tanggung jawab besar yang dibebankan kepada saya karena setiap kalimat yang saya tulis bisa memiliki pengaruh bagi sebagian pembaca.

Nah, di sini, saya tidak bermaksud menggurui, hanya mencoba memaparkan pendapat saya bahwa daripada terlalu mengejar viewer hingga kita menulis segala sesuatu tentang yang vulgar, ada baiknya kita mencari topik lain yang sebenarnya tidak kalah menarik. Contoh; jika anda seorang traveller dan juga kebetulan suka menulis, bukankah bagus jika anda menulis tentang tempat-tempat yang sudah anda kunjungi? Atau, jika anda suka menulis novel, coba kaitkan dengan apa saja yang menjadi ciri khas dari daerah tempat tinggal anda.

Topik-topik seperti ini dapat memberi informasi yang cukup bermanfaat bagi para pembaca. Banyak topik yang bisa membuat tulisan kita menarik di mata pembaca tanpa harus memaksa diri menulis tentang sesuatu yang vulgar.

Bahkan, topik-topik itu juga bisa menjadi kesan tersendiri yang akan tersangkut lama di dalam hati mereka. Di era teknologi yang semakin canggih, banyak anak sekolahan yang seakan-akan hilang karakternya sebagai seorang pelajar.

Tak jarang kita mendengar kata-kata tak senonoh yang belakangan ini sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilontarkan. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, dan salah satunya adalah melalui tulisan yang mereka baca.

Maka, kita yang menulis di platform-platform online, punya tanggung jawab besar. Paling tidak, tulisan yang kita rangkai tidak sampai menyisipkan pikiran-pikiran negatif kepada para pembaca, terutama para pembaca muda — anak sekolahan — yang umumnya masih belum bisa memilah-milah.

Para penulis online, kita sebenarnya punya banyak ruang untuk memperkenalkan diri kita sebagai penulis yang berwibawa kepada banyak khalayak. Ciptakan kata-kata sederhana namun punya pengaruh besar terhadap pembaca, yang melekat di hati dalam waktu nan panjang. Bukankah keren rasanya jika kumpulan kata ciptaan kita menjadi kutipan untuk memotivasi orang lain? Kita menjadi referensi bagi orang-orang hanya karena sebuah kalimat sederhana yang kita tulis — meskipun sederhana tapi sarat akan makna.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
FTIK IAIN Langsa Adakan Webinar Batch 8

FTIK IAIN Langsa Adakan Webinar Batch 8

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00