POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cut Nyak Dien: Nyala Perjuangan yang Abadi

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (5)

RedaksiOleh Redaksi
January 28, 2025
Cut Nyak Dien: Nyala Perjuangan yang Abadi
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Provinsi Jawa Tengah)

Perjuangan Cut Nyak Dien semasa hidupnya adalah dengan terus melakukan pertempuran. Semua itu ia lakukan demi menggapai cita-cita bangsa, yakni terbebas dari kekuasaan penjajah. [1]
***

Di tanah yang harum oleh rempah dan darah,
Di bawah bayang gunung yang melindungi Aceh,
Seorang perempuan berdiri tegak,
Dengan nyala di hatinya yang tak pernah surut.

Cut Nyak Dien, nama itu bukan sekadar julukan,
Ia adalah jiwa yang melawan gelombang penjajahan.
Dalam darahnya mengalir keberanian para leluhur,
Dalam langkahnya terpatri sumpah yang luhur.

Ketika Belanda datang membawa senjata,
Dien menjawab dengan doa dan keberanian.
Ia bukan hanya istri seorang pejuang,
Ia adalah api yang mengobarkan semangat perang.

-000-

Bersama Teuku Umar, ia berjalan di medan perlawanan,
Dua jiwa menyatu dalam cinta dan perjuangan.
Di setiap sudut Aceh, mereka menorehkan jejak,
Menyatukan rakyat, menantang kekuatan yang angkuh.

Namun perang tak pernah menjanjikan kedamaian,
Hanya air mata dan darah yang mengiringi langkah.
Ketika Umar gugur di medan laga,
Dien tak membiarkan hatinya rapuh,
Ia melanjutkan perjuangan dengan tekad yang utuh.

“Aku adalah ibu bagi tanah ini,” katanya,
“Dan tak akan kubiarkan tanah ini ternoda penjajah.”
Dengan pedang di tangan dan doa di bibir,
Ia memimpin pasukan di tengah hutan yang lirih.
Di Tengah Hutan, Bara Tak Pernah Padam

Hutan Aceh menjadi benteng terakhirnya,
Setiap langkah di sana adalah saksi keberaniannya.
Ia bukan hanya seorang pejuang,
Ia adalah ibu bagi rakyat yang tertindas.

Kelaparan dan kelelahan menjadi teman sehari-hari,
Namun api di hatinya tak pernah mati.
Ia ajarkan anak-anak Aceh tentang arti melawan,
Bahwa kebebasan adalah harga yang harus diperjuangkan.

Setiap pohon mengenal namanya,
Setiap sungai mengalirkan kisahnya.
Dien adalah perempuan yang tak kenal gentar,
Seorang ibu yang melahirkan revolusi dari luka.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Aan Rehan, Siswa SMK Agribisnis yang Bisa Menembus NASA

Sumbar Talenta Indonesia Tampil Memukau di Resepsi Nasional RI di Hilton Bosphorus, Istanbul

Dari Tsunami Aceh Hingga COVID 19

Budaya Ukir Inai Dilombakan

-000-

Namun takdir sering kali bermain dengan cara yang kejam.
Seorang pengikut yang tergoda oleh janji musuh,
Mengkhianati tempat persembunyian sang pahlawan.
Dien ditangkap dalam kondisi yang lemah,
Namun semangatnya tetap membara.

Dengan rantai di tangan dan luka di tubuh,
Ia diarak oleh penjajah yang tak memahami jiwanya.
Namun Dien tak pernah menundukkan kepala,
Matanya tetap memancarkan perlawanan yang membara.

-000-

Di Sumedang, jauh dari tanah kelahirannya,
Cut Nyak Dien menghabiskan sisa hidupnya.
Namun ia bukan seorang tawanan dalam jiwa,
Ia tetap pejuang, meski tanpa pedang di tangannya.

Di tempat asing itu, ia hidup dalam kerinduan,
Kerinduan pada tanah Aceh yang ia perjuangkan.
Namun ia tahu, perjuangannya tak sia-sia,
Karena semangatnya telah menjadi warisan bangsa.

“Aceh adalah tanah para pemberani,” ia berbisik,
“Dan perjuangan ini akan terus berlanjut.”
Hingga akhir hayatnya, Dien tetap setia,
Setia pada tanah yang melahirkannya.

-000-

Kini, Cut Nyak Dien adalah simbol keberanian,
Bagi perempuan, bagi bangsa, bagi manusia.
Namanya terukir dalam lembaran sejarah,
Sebagai bukti bahwa perjuangan tak mengenal gender.

Setiap langkahnya adalah pelajaran,
Bahwa cinta pada tanah air melampaui segalanya.
Dien bukan hanya pejuang,
Ia adalah nyala yang tak pernah padam.

Di tanah Aceh, di antara deru ombak dan gemuruh gunung,
Cerita tentang Cut Nyak Dien terus bergema.
Ia adalah mutiara yang bersinar di tengah gelap,
Sebuah inspirasi bagi generasi yang tak ingin menyerah.

-000-

Cut Nyak Dien adalah bukti bahwa keberanian adalah abadi,
Bahwa perjuangan melawan penjajah adalah suci.
Ia adalah ibu, pejuang, dan cahaya,
Yang akan terus menyala di hati rakyat Aceh dan Indonesia.

Sejarahnya bukan sekadar kisah masa lalu,
Namun nyala yang membimbing masa depan.
Cut Nyak Dien, perempuan Aceh yang tak pernah gentar,
Adalah simbol dari perjuangan yang tak pernah pudar.
***

Rumah Kayu Cepu, 26 Januari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Cut Nyak Dien pahlawan perempuan dari Aceh yang memimpin perang melawan kolonial Belanda setelah kematian suaminya, Teuku Umar.
https://tirto.id/biografi-cut-nyak-dhien-sejarah-singkat-pahlawan-wanita-dari-aceh-ga6X

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Cerita Tanpa Kisah

Cerita Tanpa Kisah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00