Dengarkan Artikel
Tidak semua orang dapat berbicara dan mendengarkan dengan baik dan benar. Padahal kemampuan ini sudah dipelajari sejak kecil. Saat usia dua bulan sampai delapan bulan, bayi belajar mendengarkan dari orang-orang di sekitar yang berbicara kepadanya. Sampai usia dewasa terkumpul ribuan konsep yang dibunyikan melalui kata-kata.
Tibalah waktunya berbicara memiliki kekuatan yang sama pentingnya dengan mendengarkan. Menurut Carol Wade dalam buku Psikologi, mengatakan “kebanyakan orang mendengar untuk menjawab, padahal sebenarnya kita mendengar untuk mengerti”. Hal ini menjelaskan perlunya kemampuan mendengarkan yang baik, agar kita dapat mengerti saat menerima informasi.
Seperti pernyataan diatas, berbicara di mulai dari memahami lawan bicara. Bagi guru mengetahui kondisi murid sebelum memberikan materi sama halnya dengan mendengarkan suara murid. Siapapun ingin didengar dan siapapun ingin berbicara.
Mendengarkan murid
Guru merupakan orang yang mengajar dan mendidik orang lain, padahal satu sisi guru sedang belajar untuk mendidik dirinya sendiri. Orang yang tidak pernah berhenti belajar itulah guru.
Belajar mendengarkan setiap topik yang dibicarakan seharusnya juga dimulai dari guru. Konsep teori secanggih apapun tidak akan efektif bila tidak diimbangi langkah praksis. Guru perlu menerapkan dalam setiap pola pikir dan tindakannya. Banyak dijumpai, dalam setiap forum ilmiah, baik lokakarya, seminar, rapat, atau pengarahan masih banyak ditemui guru tidak fokus, berbicara dengan teman kanan kirinya, bahkan ada yang asyik dengan ponselnya.
https://www.beritamagelang.id/kolom/belajar-mendengarkan
Related Postingan
Menurut penjelasan diatas, keteladanan dari guru dalam hal mendengarkan perlu dimulai dari guru saat berhadapan dengan murid maupun tidak. Hal ini menjelaskan sebuah bentuk karekter kejujuran dari guru saat mengajar dengan menampilkan dirinya yang sebenarnya.
Guru bukan mengatakan hal yang benar hanya saat mengajar tetapi juga saat tidak sedang mengajar. Guru tidak hanya mengatakan kebaikan di depan murid namun juga memberikan contoh kebaikan dengan benar saat tidak bersama murid.
Pendengar yang baik sekaligus pembicara yang baik
Suatu waktu guru telah selesai memberikan penjelasan tentang materi yang diajarkan kepada murid di kelas. Guru bertanya kepada murid, “apa yang dapat kalian ambil dari penjelasan saya barusan?.”
Kebanyakan murid hanya diam, Guru pun juga terdiam sejenak, sambil berpikir dan mencoba menjadi pendengar yang baik bagi murid. Dengan berkata “apa penjelasan bapak barusan terlalu cepat atau lambat sehingga anak-anak tidak mampu menangkap pembicaraan bapak?”
Sontak murid mengeluarkan suaranya dengan beberapa kata kunci dan sedikit penjelasan yang berhubungan dengan materi hari ini dan dilanjutkan dengan jajak pendapat dan diskusi.
Salah satu strategi mengajar anak milenial adalah dengan mengajak mereka untuk berkomunikasi. Komunikasi dua arah antara guru dan siswa membuat siswa merasa terlibat sehingga meningkatkan semangat belajarnya.
Bayangkan jika guru hanya berbicara satu arah tanpa memberi kesempatan siswa untuk bertanya atau mengemukakan pendapat? Pasti siswa akan merasa cepat bosan pada pelajaran dan akhirnya tidak mendengarkan penjelasan yang Guru Pintar sampaikan.
📚 Artikel Terkait
https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/cara-guru-agar-siswa-mau-mendengarkan-saat-belajar-di-kelas
Komunikasi dua arah secara langsung melibatkan murid saat pembelajaran berlangsung. Selain itu pendengar yang baik yaitu mampu menangkap ide-ide pokok yang disampaikan oleh pembicara dan menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri. Hal ini terlihat sederhana, namun memberikan manfaat yang besar bagi ketercapaian pembelajaran.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan pendengar yang baik merupakan sekaligus pembicara yang baik karena untuk menjadi pembicara kita harus memulai dengan mendengarkan.
Menulis untuk murid
Eksperimen kecil-kecilan yang dilakukan penulis di kelas, saat meminta murid menuliskan hasil diskusi yang telah terangkum di papan tulis, terlihat lebih menyenangkan murid dibanding meminta murid menuliskan rangkuman dari buku cetak.
Di sini penulis melihat fenomena saat guru memberi contoh dirinya langsung kepada murid lebih efektif dalam pembelajaran.
Seperti kisah Gandhi, Pahlawan Revolusioner India, beliau kedatangan seorang ibu yang meminta bantuan mendidik anaknya agar berhenti memakan garam, kemudian beliau menyuruh ibu tersebut agar kembali seminggu lagi.
Saat waktunya telah tiba, datanglah ibu tersebut bersama anaknya di rumah Gandhi, dan Beliau pun memberi nasehat kepada anak tersebut agar tidak lagi memakan garam secara berlebihan.
Sang ibu terlihat keheranan pada Ghandi, mengapa saat beliau yang menasehati si anak mau mendengarkan. Singkat cerita Ghandi menjelaskan bahwa sebelum menasehati anak tersebut.
Beliau melakukannya terlebih dahulu. Kisah ini juga bisa dijadikan inspirasi bagi orang tua dan guru dalam mendidik. Tentu tidak sulit bagi siapapun untuk mendidik orang lain jika kita memulai dari diri sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








