POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kartini: Fajar di Balik Tirai Keheningan

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (4)

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
January 26, 2025
Kartini: Fajar di Balik Tirai Keheningan
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tangah

Kartini menjadi salah satu sosok penting dalam emansipasi wanita di Indonesia. Oleh karena itulah, tanggal 21 April yang juga merupakan hari lahir perempuan asal Jepara, Jawa Tengah, tersebut diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasanya dalam kesetaraan gender. [1]
***

Di balik dinding Jepara yang sunyi,
Di bawah langit yang menggenggam malam pekat,
Hiduplah seorang perempuan muda,
Yang menatap dunia lewat jendela impian.
Kartini, sebuah nama yang takkan pudar,
Mengukir sejarah dengan pemikiran dan pena,
Mendobrak gelap yang membelenggu perempuan,
Dengan nyala cahaya pengetahuan yang membara.

Ia lahir dalam batas-batas adat yang keras,
Dibentuk oleh tradisi yang tak memberi ruang.
Perempuan, katanya, harus tunduk,
Menundukkan kepala di altar keluarga.
Namun Kartini, di balik kelembutannya,
Adalah api yang tak mudah padam.
Ia bertanya pada dirinya,
“Apakah ini takdir perempuan selamanya?”

Dinding kamarnya menjadi saksi,
Malam-malam panjang yang ia habiskan,
Bersama surat-surat yang melintasi samudera,
Berbicara pada sahabat di Belanda.
Pena di tangannya adalah senjata,
Setiap huruf yang ia tulis adalah peluru,
Menggugat batas, mendobrak tradisi,
Memimpikan dunia di mana perempuan bebas berdiri.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Puisi Esai dan Panggilan Cinta

Teknologi Membawa Nikmat

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Kartini menulis tentang pendidikan,
Bukan sekadar hak, tapi kebutuhan.
Ia memimpikan sekolah untuk perempuan,
Tempat jiwa-jiwa muda belajar terbang.
“Ilmu adalah sayap jiwa,” katanya,
“Tanpa itu, kita terkurung dalam gelap.”
Ia melihat dunia yang lebih besar,
Lewat buku-buku yang ia baca dengan rakus.

Namun, mimpi besar itu terjal jalannya,
Di hadapannya, tembok adat berdiri kokoh.
“Perempuan tak perlu berpikir,” kata mereka,
“Diam adalah keindahan sejati.”
Namun Kartini, dengan keberanian dalam suaranya,
Menjadi badai di tengah keheningan.
Ia tahu bahwa perubahan tak datang seketika,
Namun langkah kecil adalah awal dari revolusi.

Di usia yang masih belia,
Ia harus menikah seperti adat yang digariskan.
Namun, pernikahan baginya bukan akhir,
Melainkan jembatan menuju peluang baru.
Ia membangun sekolah kecil di tanahnya,
Mengajarkan perempuan untuk bermimpi.
Setiap kata yang ia ucapkan adalah nyala,
Menyalakan api keberanian di hati generasi muda.

Namun hidup Kartini tak panjang diberi waktu,
Di usia dua puluh lima, ia berpulang.
Namun kematiannya bukanlah akhir,
Melainkan awal dari sebuah perjalanan abadi.
Buku yang ia tinggalkan,
“Habis Gelap Terbitlah Terang”,
Adalah warisan yang takkan pudar,
Cahaya yang menerangi jalan perempuan Indonesia.

Kartini adalah simbol harapan,
Bagi mereka yang hidup dalam gelap.
Ia mengajarkan bahwa gelap hanyalah awal,
Dan pagi selalu menunggu di balik malam.
Ia adalah pelita di tengah kabut,
Menerangi jalan yang penuh duri.
Di hatinya, ia menyimpan satu keyakinan,
Bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih adil.

Namanya kini terukir dalam sejarah,
Bukan hanya sebagai seorang perempuan,
Namun sebagai jiwa yang berani melawan zaman.
Setiap tahun, saat hari itu tiba,
Kita mengenang Kartini bukan hanya sebagai nama,
Namun sebagai suara yang terus bergema.
Ia adalah fajar yang menyinari masa depan,
Fajar yang tak pernah padam.
***

Rumah Kayu Cepu, 25 Januari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Raden Adjeng Kartini tokoh perempuan Indonesia yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Pemikirannya dituangkan dalam surat-surat yang dikumpulkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. https://tirto.id/biografi-ra-kartini-kisah-pemikiran-habis-gelap-terbitlah-terang-gdd5

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
BESOK: MAJALAH POTRET BERUSIA 22 TAHUN MENGAWAL PENCERDASAN ANAK BANGSA

Gema Pantun di Milad ke 22 POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00