Dengarkan Artikel
Feri Irawan
Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh
Saya sering datang ke warung kopi untuk bersantai sambil menikmati secangkir kopi. Bagi saya, warung kopi (warkop) adalah rumah kedua. Tanpa hari tanpa ngopi. Begitu mungkin filosofinya. Jujur, ada kenikmatan di secangkir kopi di warung kopi.
Tidak hanya sekadar ngopi, di warkop saya juga mencari bahan kajian, sekadar refreshing menonton video di Youtube, buka sosmed atau sekadar download film atau lagu.
Meskipun demikian, selalu ada pemandangan yang sama yaitu para gamer ceumaroet (teumeunak) atau memaki.
Banyak gamer dengan berteriak-teriak, bahkan kadang memaki dengan kata-kata yang kurang enak didengar.
Teriakan dan makian yang terdengar saat bermain game mengganggu kenyamanan saya hingga pengunjung lainnya. Beberapa pengunjung merasa terganggu dengan suara bising dan bahasa kasar yang sering terlontar. Para gamer ini nampaknya telah menjadi peganggu abadi di setiap warung kopi.
Perilaku ini membuat suasana menjadi kurang nyaman bagi saya dan mungkin pengunjung lain yang datang untuk bersantai atau mengerjakan tugas.
📚 Artikel Terkait
Para gamer ini umumnya dihuni para remaja tanggung. Namun ada juga yang sudah berkepala tiga, empat, atau lebih. Sungguh miris rasanya.
Para gamer yang saya temui di warkop itu saya amati terdiri dari beragam profesi. Ada dari mereka anak sekolahan, pekerja swasta, hingga ASN. Lucunya terkadang seorang APH juga datang ke sana. Ia sendiri terlihat sering main di warkop itu. Namun ia seolah tidak tahu dan mendiamkan kejadian itu.
Hal yang miris adalah para gamer ini berasal dari golongan ekonomi lemah. Selama saya mengamati para gamer ini, saya hanya mendengar sumpah serapah dan makian yang kerap keluar dari mulut mereka disertai dengan asap rokok yang mengepul tebal.
Nampaknya sumpah serapah sudah menjadi musik pengiring mereka, ketika bermain dan rokok telah menjadi candu wajib sebelum bertempur. Bahkan ada gamer khusus membawa kipas angin mini untuk mendinginkan suasana kesalahan dalam bermain.
Entah apa yang menjadikan para gamer itu bermain seperti orang kesetanan sampai-sampai mereka tidak peduli bahwa di warkop ada orang lain. Yang ada keributan tanpa arah, ketawa sendiri, cuek hingga begadang sampai pagi.
Dengan wajah serius dan jari-jari yang lincah di atas layar ponsel, mereka menghabiskan waktu berjam-jam sambil menikmati suasana santai di tempat tersebut. Namun, perilaku mereka sering kali mengundang perhatian, bahkan keluhan, dari pengunjung lain.
Terlepas dari apa pun makna dari sebuah game online, yang pada awalnya permainan ini hanya sekadar hiburan, lambat laun beralih menjadi suatu kebiasaan sehingga menjadi kecanduan
Dari segi bersosilasisasi, anak muda yang dulunya aktif dan perduli dengan orang di sekitarnya sekarang berubah menjadi apatis (tidak perduli).
Seharusnya mereka memahami bahwa ada norma sosial yang harus diikuti, terutama di tempat umum. Bermain game adalah hak mereka, tetapi mereka juga harus belajar menghormati kenyamanan orang lain. Pendidikan dan pengarahan dari orang tua serta masyarakat sangat penting dalam hal ini.
Pengelola kafe dan warkop pun dituntut untuk mencari solusi agar semua pengunjung bisa merasa nyaman. Beberapa tempat telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini, seperti menyediakan ruangan khusus untuk bermain game atau menerapkan aturan ketat mengenai penggunaan bahasa dan volume suara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






