Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Kita update perang Israel vs Iran. Kedua negara belum tanda-tanda berdamai. Iran yang selalu dianggap remeh seperti membuktikan pada dunia, tidak bisa diremehkan. Serangan Iran semakin menakutkan. Dengan terpaksa Israel memberlakukan darurat nasional. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Sejak 28 Februari 2026, negara Israel resmi hidup dalam mode darurat nasional. Bukan darurat biasa seperti listrik padam atau Wi-Fi lemot. Ini darurat tingkat “semua orang siap lari ke bunker sebelum sempat menyelesaikan kopi pagi.” Status itu diumumkan langsung oleh Menteri Pertahanan Israel Katz setelah Israel lebih dulu meluncurkan serangan pendahuluan ke Iran. Logikanya sederhana, memukul dulu, lalu bersiap menerima balasan. Seperti orang yang melempar batu ke sarang lebah sambil berlari mencari helm.
Sejak saat itu, langit Israel berubah seperti arena kembang api paling mahal di Timur Tengah. Sirene peringatan udara meraung hampir setiap hari di kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Jerusalem. Bedanya dengan kembang api tahun baru, yang ini membuat orang tidak bersorak, melainkan sprint ke shelter dalam waktu kurang dari satu menit. Hidup mendadak seperti lomba lari 100 meter versi geopolitik.
Pemerintah mengeluarkan aturan yang membuat kehidupan sehari-hari terasa seperti film survival. Sekolah dan universitas ditutup. Tempat kerja non-esensial sempat dihentikan total. Pertemuan publik dilarang, kemudian dilonggarkan dengan syarat maksimal 50 orang dan harus dekat shelter. Bahkan perayaan keagamaan seperti Purim ikut mengalami transformasi unik. Dari festival kostum meriah menjadi pesta bawah tanah di bunker atau garasi parkir. Bayangkan merayakan festival sambil sesekali menengok langit, memastikan yang jatuh bukan hadiah dari balon udara, melainkan serpihan rudal.
Bandara utama negara itu, Ben Gurion Airport, juga ikut tutup bagi penerbangan sipil. Ribuan warga Israel yang berada di luar negeri mendadak seperti turis yang lupa kunci rumah. Ingin pulang, tetapi pintunya belum dibuka. Langit Israel praktis ditutup, seperti toko yang memasang papan “Closed karena rudal.”
Namun bagian yang paling keras bukanlah ironi, melainkan angka korban. Sejak akhir Februari, sekitar 10 hingga 13 warga sipil Israel tewas akibat serangan rudal balasan Iran. Salah satu peristiwa paling tragis terjadi di Beit Shemesh ketika rudal menghantam area permukiman dan menewaskan beberapa orang sekaligus. Di wilayah sekitar Tel Aviv, serpihan rudal jatuh seperti hujan logam, menambah kepanikan dan luka.
📚 Artikel Terkait
Lebih dari 1.000 orang dilaporkan cedera, dari luka ringan sampai yang harus dirawat serius di rumah sakit. Ratusan rumah rusak akibat hantaman langsung atau serpihan yang meluncur dari langit. Beberapa keluarga terpaksa dievakuasi ke hotel atau tempat penampungan sementara. Rumah yang dulu tempat menonton televisi kini berubah menjadi puing yang hanya bisa dikenang lewat foto ponsel.
Secara psikologis, warga hidup dalam kondisi yang bisa disebut “mode waspada permanen.” Banyak keluarga menghabiskan waktu di shelter bawah tanah. Garasi parkir berubah fungsi menjadi ruang keluarga darurat. Anak-anak belajar mengenali suara sirene sebelum hafal lagu kartun favorit mereka. Malam hari sering diwarnai kurang tidur karena sirene bisa berbunyi kapan saja, seperti alarm yang dipasang oleh nasib.
Meski begitu, sistem pertahanan udara seperti Iron Dome terus bekerja keras di langit, mencegat sebagian besar ancaman sebelum mencapai target. Teknologi ini sering digambarkan seperti payung raksasa yang menangkis hujan rudal. Masalahnya, payung terbaik pun kadang bocor ketika badai terlalu besar.
Pada 5 Maret 2026, otoritas keamanan melalui Israel Home Front Command mulai melonggarkan sebagian pembatasan karena intensitas serangan Iran menurun drastis, turun sekitar 70 hingga 86 persen dari puncak awal. Aktivitas terbatas kembali diizinkan, tetapi syaratnya jelas: shelter harus bisa dicapai dalam hitungan detik. Hidup normal, tetapi dengan tombol “lari ke bunker” selalu siap ditekan.
Keadaan darurat ini telah diperpanjang hingga 12 Maret 2026, setelah disetujui oleh komite pertahanan di Knesset. Jika situasi belum mereda, perpanjangan berikutnya sangat mungkin terjadi. Artinya kalender nasional kini bukan hanya dihitung dari hari ke hari, tetapi dari sirene ke sirene.
Di tengah semua drama ini, banyak orang di dunia teringat konflik panjang di Gaza Strip, tempat sirene, roket, dan bunker telah lama menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Sejarah kadang punya cara aneh menulis ulang ceritanya sendiri. Kadang lambat, kadang memutar, tetapi sesekali kembali seperti bumerang geopolitik yang terbang jauh lalu pulang dengan kecepatan mengejutkan.
Timur Tengah memang seperti serial tanpa episode terakhir. Kali ini panggungnya Israel, aktornya rudal dan sirene. Sementara penonton global hanya bisa menghela napas sambil berkata, kalau geopolitik sudah bermain, langit pun bisa berubah jadi alarm raksasa.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






