• Latest
Bapakisme dan Harga Sebuah Kejujuran

Bapakisme dan Harga Sebuah Kejujuran

Maret 7, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur

Maret 28, 2026
IMG_0523

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026
5a460fc4-b5a8-48d2-9efe-fdf4b6b456c5

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bapakisme dan Harga Sebuah Kejujuran

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 7, 2026
in Artikel, Gender
Reading Time: 7 mins read
0
Bapakisme dan Harga Sebuah Kejujuran
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Novita Sari Yahya

Pagi itu ruang rapat lantai tiga terasa lebih dingin dari biasanya. Pendingin udara bekerja tanpa henti, tetapi yang membuat suasana membeku bukanlah suhu ruangan. Di ujung meja panjang, seorang kepala dinas duduk tegak dengan wajah datar. Di hadapannya, beberapa staf menunduk sambil membuka berkas masing-masing.

Seorang pegawai muda memegang map berwarna cokelat. Sejak tadi ia membaca ulang angka-angka dalam dokumen pengadaan yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Ada rincian yang tidak masuk akal. Ada selisih yang sengaja dibulatkan. Ia mengangkat kepala, menatap sekeliling. Tidak satu pun rekan kerjanya berani bersuara.

“Kita langsung sahkan saja,” ujar kepala dinas dengan nada tegas. “Semua sudah dibahas sebelumnya.”

Beberapa orang mengangguk serempak. “Siap, Pak.”

Pegawai muda itu menelan ludah. “Maaf, Pak. Ada beberapa item yang menurut saya perlu diklarifikasi.”

Ruangan mendadak hening.

Kepala dinas menatapnya lekat-lekat. “Maksud Anda?”

“Saya menemukan perbedaan angka antara rincian anggaran dan laporan survei lapangan. Selisihnya cukup besar.”

Seorang staf senior menyikut lengannya pelan. Isyarat agar ia berhenti berbicara. Namun ia sudah terlanjur melanjutkan.

“Kalau ini kita setujui, bisa menimbulkan persoalan di kemudian hari.”

Kepala dinas menyandarkan tubuhnya. “Anda meragukan hasil kerja tim?”

“Saya hanya ingin memastikan semuanya sesuai aturan, Pak.”

Nada suaranya bergetar tipis, tetapi kalimatnya jelas.

Rapat ditutup lebih cepat dari jadwal. Tidak ada keputusan yang diumumkan. Para staf keluar satu per satu tanpa menatap wajahnya.

Di lorong kantor, staf senior tadi menghampirinya. “Kamu masih baru. Jangan terlalu berani.”

“Berani untuk apa? Bertanya?”

“Di sini, bertanya bisa dianggap menentang.”

Ia terdiam. Kalimat itu terdengar aneh, tetapi nyata. Sejak hari pertama bekerja, ia sudah merasakan pola yang sama. Atasan adalah pusat keputusan. Ucapannya jarang dibantah. Bahkan ketika jelas keliru, orang-orang memilih diam.

Budaya itu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kebiasaan lama. Di rumah, orang tua adalah pemegang kendali penuh. Anak-anak diajarkan patuh tanpa banyak tanya. Di sekolah, guru selalu benar. Di kantor, atasan tidak boleh disanggah. Semua membentuk satu pola yang sama: hierarki yang tak tersentuh.

Malamnya, ia duduk di ruang makan bersama ayahnya.

“Kamu terlihat gelisah,” kata sang ayah sambil melipat koran.

“Ada rapat tadi pagi,” jawabnya pelan.

“Ada masalah?”

Ia mengangguk. “Kalau kita tahu ada yang tidak benar, tapi yang memberi perintah adalah pimpinan, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Ayahnya menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Kamu harus tahu batas antara hormat dan takut.”

“Maksud Ayah?”

“Hormat itu wajar. Takut sampai kehilangan akal sehat itu berbahaya.”

Kalimat itu terpatri dalam benaknya.

Keesokan harinya, ia dipanggil ke ruang kepala dinas.

“Anda merasa paling benar?” tanya kepala dinas tanpa basa-basi.

“Tidak, Pak. Saya hanya menjalankan tanggung jawab.”

“Kita ini organisasi. Ada tata urutan. Kalau setiap orang merasa berhak mempertanyakan, tidak akan ada keputusan yang berjalan.”

“Justru karena ada tata urutan, kita harus menjaga agar keputusan tetap benar.”

Wajah kepala dinas mengeras. “Anda masih muda. Jangan sok idealis.”

Ia menghela napas pelan. “Ideal atau tidak, Pak, angka-angka itu tetap harus bisa dipertanggungjawabkan.”

Percakapan itu berakhir tanpa kesepakatan. Siang harinya, surat tugas baru sudah berada di mejanya. Ia dipindahkan ke bagian dokumentasi, posisi yang jarang dilibatkan dalam proyek besar.

Beberapa rekan menghampirinya dengan wajah cemas.

“Kami sebenarnya setuju denganmu,” bisik salah satu dari mereka. “Tapi kami tidak berani.”

“Kenapa?”

“Kami punya tanggungan. Kalau dimutasi atau dinonaktifkan, bagaimana keluarga kami?”

Ia memahami ketakutan itu. Ia pun memiliki tanggungan. Namun ada hal lain yang lebih berat dari sekadar kehilangan jabatan yaitu kehilangan harga diri.

Hari-hari di bagian dokumentasi berjalan lambat. Ia mengarsipkan berkas lama, menyusun laporan yang jarang dibaca orang. Dari balik tumpukan dokumen, ia tetap mengikuti perkembangan proyek yang dulu diperdebatkan.

Suatu siang, seorang pegawai magang datang menghampirinya.

“Pak, boleh bertanya?”

“Tentu.”

“Saya menemukan data yang tidak cocok di laporan ini. Tapi atasan saya bilang tidak usah dipermasalahkan. Apa sebaiknya saya diam saja?”

Ia menatap wajah muda itu. Ada kecemasan yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

“Menurutmu bagaimana?” tanyanya balik.

“Saya merasa itu salah.”

“Kalau kamu diam, apakah perasaan itu akan hilang?”

Pegawai magang itu menggeleng pelan.

“Kalau begitu, kamu sudah tahu jawabannya.”

Beberapa bulan kemudian, kabar mengejutkan muncul di berbagai media. Proyek yang dulu disahkan tanpa persetujuannya diperiksa aparat penegak hukum. Ditemukan penyimpangan anggaran dalam jumlah besar. Nama kepala dinas disebut-sebut dalam laporan investigasi.

Di ruang dokumentasi, ia membaca berita itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada kegembiraan. Hanya kelegaan bahwa ia tidak ikut menandatangani dokumen tersebut.

Suatu pagi, ia kembali dipanggil ke ruang pimpinan. Kali ini, kursi kepala dinas ditempati orang baru.

“Saya sudah membaca riwayat Anda,” ujar pimpinan baru itu. “Anda satu-satunya yang mencatat keberatan dalam rapat waktu itu.”

Ia menunduk. “Saya hanya mencatat apa yang saya temukan.”

Pimpinan itu mengangguk. “Keberanian seperti itu jarang.”

“Banyak yang berani, Pak. Hanya saja tidak semua merasa aman untuk bersuara.”

ADVERTISEMENT

Pimpinan baru itu terdiam sejenak. “Saya ingin membangun suasana berbeda di sini. Saya butuh orang yang mau berbicara jujur.”

Ia merasakan sesuatu yang lama hilang, kini kembali tumbuh. Harapan.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
1001386795_11zon (1)

Kapal Induk “Gratis” Dari Italia?!

Maret 27, 2026

Namun ia sadar, perubahan tidak cukup dengan pergantian pimpinan. Budaya bapakisme tidak hilang hanya karena satu orang tersingkir. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari: dalam cara orang menunduk tanpa berpikir, dalam ucapan “siap” yang diucapkan tanpa pertimbangan.

Beberapa minggu kemudian, ia kembali duduk di ruang rapat yang sama. Kali ini, suasananya berbeda.

“Kalau ada yang tidak setuju, silakan sampaikan,” ujar pimpinan baru.

Para staf saling pandang. Keheningan sempat menggantung. Lalu seorang pegawai mengangkat tangan.

“Saya ingin mengusulkan revisi anggaran pada bagian ini.”

Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada suara meninggi. Diskusi berlangsung terbuka.

Ia tersenyum tipis.

Usai rapat, seorang rekan lama menghampirinya.

“Kamu dulu benar,” katanya pelan.

Ia menggeleng. “Bukan soal benar. Hanya soal memilih.”

“Memilih apa?”

“Memilih untuk tidak ikut salah.”

Rekan itu terdiam, lalu mengangguk.

Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan semua yang telah terjadi. Harga sebuah kejujuran memang tidak murah. Ia harus menerima mutasi, cibiran, dan pengucilan. Namun jika waktu diputar kembali, ia tahu ia akan tetap memilih jalan yang sama.

Di rumah, ayahnya menyambutnya dengan senyum hangat.

“Bagaimana kantor hari ini?”

“Lebih baik,” jawabnya.

“Lihat? Hormat tidak selalu berarti diam.”

Ia tersenyum. “Saya mulai mengerti sekarang.”

Kejujuran bukan sekadar pilihan moral. Ia adalah fondasi yang menentukan arah sebuah institusi, bahkan sebuah bangsa. Selama orang-orang masih memandang atasan sebagai sosok yang tidak boleh disentuh kritik, selama itu pula penyimpangan akan menemukan tempatnya.

Budaya bapakisme mengajarkan kepatuhan tanpa syarat. Namun kepatuhan tanpa nalar hanya akan melahirkan ketidakadilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ia berdiri di teras rumah, memandang langit senja yang cerah. Tidak ada suara gemuruh, tidak ada drama besar. Hanya ketenangan sederhana karena ia tidak mengkhianati hati nuraninya sendiri.

Harga sebuah kejujuran mungkin berupa kenaikan jabatan yang tertunda atau kenyamanan yang terganggu. Namun imbalannya adalah tidur yang nyenyak dan pandangan yang tegak.

Dan bagi dirinya, itu lebih dari cukup.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 284x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 270x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 224x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 154x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 150x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott
Analisis

Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur

Maret 28, 2026
IMG_0523
Sejarah

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026
5a460fc4-b5a8-48d2-9efe-fdf4b6b456c5
Pendidikan karakter

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077
Antologi Puisi

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
Next Post
Serangan Iran Semakin Menakutkan, Israel Berlakukan Darurat Nasional

Serangan Iran Semakin Menakutkan, Israel Berlakukan Darurat Nasional

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com