Dengarkan Artikel
Bagian ke Empat
Oleh Tabrani Yunis
Usai menikmati sahur bersama keluarga tadi sekira pukul 04.30 WIB saya memulai aktivitas mengedit beberapa tulisan yang dikirimkan oleh para penulis untuk diposting di Potretonline.com. Ada beberapa tulisan yang masuk dan harus disegerakan pemuatannya. Karena sesungguhnya setiap penulis yang mengirimkan tulisan pasti menginginkan agar tulisannya cepat dimuat. Ketika tulisan itu cepat dimuat, maka kebahagian penulis pun cepat didapat.
Jadi misi yang saya jalankan juga dalam konteks mempercepat kebahagiaan penulis. Kalau penulis merasa bahagia, saya pun ikut merasakan kebahagiaan itu.
Dalam proses editing dan publikasi tulisan yang sudah masuk tersebut, ingatan saya terbawa pada sebuah janji diri untuk menyiapkan tulisan ke empat tentang workshop Storytelling dan Foto jurnalistik yang disengsarakan oleh CommsLab,USK dan Gelios di gedung TDMRC USK, Banda Aceh pada tanggal 13 Februari 2026.
Sebuah acara yang memiliki bobot pengetahuan yang sangat banyak dan mengatrol produktivitas orang, terutama orang muda untuk menulis. Saya sendiri telah menulis tiga tulisan tentang acara itu dan ini adalah tulisan ke empat.
Tulisan ini akan mengaitkan tentang pemaduan dua media ekspresi sebuah atau beberapa fakta lapangan dengan pendekatan storytelling secara tertulis dan media fotografi dalam perspektif jurnalistik.
Ruang auditorium Dr. Redha yang berada di lantai 3 gedung TDMRC USK hari Jumat itu, diisi secara dominan oleh orang-orang muda. Umumnya para mahasiswa yang memiliki concern tentang menulis dan photography journalism. Mereka menempati balkon-balkon di bagian belakang pengunjung yang duduk di bagian depan yang letaknya di bawah.
Presentasi lanjutan adalah sebuah presentasi visual, yang dipresentasikan oleh chaideer Mahyuddin yang terkenal sebagai journalist photographer yang merupakan visual photographer dari AFP Jakarta.
Diawali dengan curahan pengalaman sang fotografer mengungkap fakta bencana saat Aceh dilanda bencana gempa dan tsunami yang sangat dahsyat pada 26 Desember 2004 hingga bencana ekologis Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ia menampilkan sejumlah foto hasil karyanya yang menjadi pilihan foto favorit dari media di mana ia bekerja dan juga pilihan para netizen di media sosial.
Tanpa disadari air mata menetes di pipi, kala menyaksikan foto-foto jurnalistik yang ditampilkan di layar oleh Bung Chaedeer Mahyuddin yang diiringi dengan curahan pengalaman mengabadikan suasana duka dan derita para penyintas bencana ekologis di Aceh itu. Foto-foto itu seakan membawa serta kita langsung berada di lokasi pengambilan gambar atau foto. Sehingga bisa hanyut dalam cerita yang memberikan gambaran kesulitan hidup para penyintas bencana menyelamatkan diri dari buah kebijakan pemerintah yang brutal terhadap lingkungan dan masyarakat korban hingga kini.
📚 Artikel Terkait
Kedua presentasi pada acara yang bergizi itu, memberikan banyak sekali pembelajaran dan pengetahuan kepada peserta workshop. Apalagi kedua sajian itu dikaitkan dengan konteks bencana ekologis Aceh, Sumut dan Sumbar. Sehingga tak terhitung betapa besar dan luasnya pengetahuan yang bisa kita petik dan pelajari. Menggunakan dengan memadukan dua kekuatan, yakni storytelling yang mengungkap fakta dengan melukis kata dan kekuatan visual photography tentang bencana Aceh, melahirkan getaran jiwa kala seorang penulis akan mengungkap fakta lapangan dalam lukisan kata dan gambar visual yang sangat menyentuh. Keduanya, storytelling dan foto jurnalistik merupakan dua kekuatan dalam menggambarkan Bencana Ekologis Aceh.
Sebagai mana kita sudah ketahui dan menyaksikan bencana ekologis yang melanda Aceh pada akhir November 2025 berupa banjir bandang dan longsor, menelan ratusan korban jiwa, ribuan orang hilang, serta memaksa lebih dari 150 ribu warga mengungsi. Kondisi tag yang bukan sekadar angka statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang menyisakan luka mendalam.
Tragedi yang bukan hanya sekadar angka statistik dan tragedi ekosida itu akan tidak terungkap dengan menyentuh bila tidak diungkapkan dengan cara storytelling dan foto jurnalistik yang menyentuh. Oleh sebab itu, lewat storytelling dan foto jurnalistik ini bisa mengabadikan dan menyuarakan tragedi ini. Dikatakan demikian, karena kedua pendekatan ini adalah dua pendekatan yang saling melengkapi, storytelling dan foto jurnalistik.
Hal ini, terungkap dalam persentasi yang menarik dari kedua narasumber yang memaparkan kekuatan kedua pendekatan yang bisa diterapkan. Storytelling lewat melukis kata memiliki sejumlah kekuatan di antaranya. Pertama, storytelling dapat menghidupkan pengalaman personal. Artinya, kata-kata mampu membawa pembaca masuk ke dalam perasaan korban,ketakutan saat air bah datang, kehilangan orang tercinta, atau harapan tipis di pengungsian. Kedua, dapat menyusun narasi berlapis.
Storytelling bisa mengaitkan bencana dengan akar masalah ekologis seperti deforestasi 1,4 juta hektar hutan akibat izin tambang dan perkebunan. Lebih jauh lagi lewat pendekatan ini dapat pula dengan mudah membangun empati. Sehingga, dalam setiap cerita yang menyentuh hati membuat publik tidak hanya tahu, tetapi juga haru serta peduli dan terdorong untuk bertindak. Apalagi bila penulis begitu lihai dalam melukis kata, walau isi tulisan adalah kritik yang begitu keras, tapi bisa diterima dengan lembut, tanpa merasa disakiti.
Semata kekuatan foto jurnalistik yang tak dapat dibantah adalah visualisasi fakta itu sendiri yang tak terbantahkan. Foto banjir yang membawa kayu gelondongan di Aceh Tamiang dan daerah lain, atau bangkai gajah sumatera yang ditemukan di Pidie Jaya , menjadi bukti nyata kerusakan ekologis yang terungkap jelas dalam karya foto jurnalistik.
Tentu bukan hanya itu, foto jurnalistik dapat
menghadirkan momen otentik. Hal ini bisa terjadi karena kamera menangkap ekspresi warga yang kehilangan rumah, anak-anak di pengungsian, atau lanskap hutan yang gundul.
Selanjutnya juga tidak kalah penting adalah bahwa karya foto jurnalistik itu mampu menggugah kesadaran instan: Satu foto bisa lebih kuat daripada seribu kata dan dapat menyalakan rasa urgensi di benak publik.
Jadi kedua kekuatan media ekspresi, lewat storytelling dengan kekuatan melukis kata dan visualisasi lewat foto jurnalistik dapat pula memeta emosi yang menggugah empati melalui narasi personal, menyentuh hati lewat ekspresi wajah dan lanskap. Juga berusa fakta yang menjelaskan kronologi, data, dan akar masalah, serta mampu menyajikan bukti visual yang sulit disangkal . Hal yang tidak kalah penting bahwa foto jurnalistik bisa mempertahankan daya ingat kita. Karena bisa melekat lewat detail naratif gambar. Ya, melekat lewat kesan visual dan bisa sangat membantu untuk kepentingan advokasi yang membutuhkan banyak argumen untuk perubahan kebijakan. Karena dengan kekuatan visual juga malu memberi tekanan publik melalui bukti visual .
Oleh sebab itu, kombinasi storytelling dan foto jurnalistik sesungguhnya bisa menjadikan bencana Aceh bukan sekadar berita sesaat, melainkan memori kolektif yang menuntut tanggung jawab negara dan korporasi . Narasi kata memberi konteks, sementara foto memberi bukti. Bersama-sama, keduanya menjadi senjata advokasi untuk mendorong restorasi ekologis dan pemulihan alam.
Akhir kata, workshop storytelling dana visualisasi foto jurnalistik yang dilakukan di auditorium TDMRC USK ini, bukan hanya penting untuk meningkatkan kapasitas pemahaman peserta, tetapi lebih besar mendorong para peserta untuk secara produktif menggunakan kedua pendekatan yang diutarakan dalam paparan tulisan ini. Semoga banyak peserta yang bisa mengambil pelajaran berharga dan melakukan advokasi lewat dua pendekatan ini dalam mengangkat fakta lapangan di daerah bencana di Aceh saat ini. Semoga.
—
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






