POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tradisi dan Evolusi Puasa Dalam Sejarah

RedaksiOleh Redaksi
February 19, 2026
Tradisi dan Evolusi Puasa Dalam Sejarah
🔊

Dengarkan Artikel

  • Efek Puasa pada Etika Sosial?

Oleh Denny JA

Pukul 03.27 dini hari. Dapur kecil itu menyala lebih dulu daripada matahari.

Ibu berdiri di depan kompor dengan mata yang masih setengah terpejam, tetapi tangannya cekatan. Ayah memanaskan air dan sesekali melihat jam, memastikan semua bangun tepat waktu.

Anak sulung mengetuk pintu kamar adiknya dengan suara pelan, “Sahur… ayo bangun.”

Di meja sederhana, nasi hangat mengepul. Telur dadar, sambal, dan segelas air putih terasa seperti hidangan istimewa. Tidak ada kemewahan. Hanya kebersamaan yang utuh.

Di sela suapan, mereka saling bertanya tentang rencana hari itu. Ayah menyelipkan pesan moral di balik cerita sehari-hari. Ibu menatap anak-anaknya satu per satu, seolah memastikan mereka tumbuh bukan hanya dalam usia, tetapi juga dalam iman.

Di luar, langit masih gelap. Tetapi di dalam rumah itu, ada cahaya yang tidak bergantung pada listrik.

Sahur bukan sekadar makan sebelum fajar. Ia adalah persiapan batin sebelum ujian panjang menahan diri.

Puasa selalu dimulai dari ruang kecil seperti ini. Dari meja sederhana. Dari keluarga yang memilih disiplin sebelum dunia bangun.

-000-

Di bulan Ramadan, jutaan manusia melakukan hal yang sama. Namun berpuasa bukan hanya tradisi Islam.

Di masa Prapaskah, gereja-gereja Kristen mengajak umatnya membatasi makanan dan kesenangan duniawi.

Dalam tradisi Yahudi, Yom Kippur menghadirkan lapar sebagai bahasa pertobatan kolektif.

Di India, ribuan penganut Hindu berpuasa pada hari Ekadashi untuk kejernihan batin. Di gurun Amerika, seorang pemuda suku asli menepi dari komunitasnya demi menemukan visi hidup melalui puasa.

Di tempat yang jauh berbeda, manusia melakukan tindakan yang sama. Ia menunda makan. Ia menahan diri. Ia memberi jarak pada dorongan paling dasar.

Tubuh berhenti makan. Namun jiwa justru bergerak.

Puasa adalah salah satu ritus tertua dalam sejarah manusia. Ia melintasi agama, budaya, dan zaman. Ia muncul sebelum kitab suci ditulis dan sebelum teologi dirumuskan.

Ia lahir dari pergulatan manusia dengan alam, kelaparan, dan misteri keberadaan.

Sejak manusia mengenal musim kering dan paceklik, ia mengenal lapar. Namun pada satu titik kesadaran, manusia melakukan sesuatu yang revolusioner. Ia tidak lagi sekadar menderita karena lapar. Ia memilih lapar.

Di situlah puasa berubah dari takdir biologis menjadi tindakan spiritual.

-000-

Awal Puasa di Mesir dan Yunani Kuno

Sejak manusia pra-sejarah menari di sekitar api dan menatap langit tanpa nama, ia sudah belajar membatasi makan, tidur, dan kata-kata demi merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar.

Di Mesir Kuno sekitar 3000 hingga 1000 Sebelum Masehi, para imam kuil menjalani periode puasa sebelum ritual keagamaan.

Dalam teks piramida pada era Kerajaan Lama dan Kerajaan Baru, penyucian diri melalui pembatasan makan diyakini memurnikan tubuh sebelum berhadapan dengan yang ilahi. Tubuh yang ringan dianggap membuat doa lebih jernih dan hati lebih bersih.

Di Yunani Kuno pada abad ke-6 Sebelum Masehi, praktik puasa tercatat dalam tradisi filsafat dan misteri keagamaan. Pythagoras sekitar 570 hingga 495 SM mewajibkan murid-muridnya berpuasa sebelum menerima ajaran esoterik.

Ia percaya pikiran menjadi lebih tajam ketika tubuh tidak dikuasai oleh nafsu makan.

Dalam ritual Eleusinian Mysteries abad ke-5 SM, para inisiat juga berpuasa sebagai bagian dari proses pemurnian spiritual.

Tidak ada satu tokoh yang mencetuskan puasa. Ia muncul dari kebutuhan spiritual dan sosial yang serupa di berbagai peradaban.

Ketika manusia menyadari kerapuhannya di hadapan alam, ia belajar merendahkan diri melalui lapar yang disengaja.

-000-

Puasa dalam Agama-Agama Besar

Dalam Kekristenan, Yesus berpuasa empat puluh hari sebelum memulai pelayanannya. Pengalaman itu melahirkan tradisi Prapaskah sebagai masa refleksi dan pemurnian diri.

📚 Artikel Terkait

Sahabat Pena

Cabdisdik Aceh Selatan Salurkan Bantuan Korban Banjir di Trumon Tengah

Karena Aku Guru

Bersama Redaktur Majalah Potret Bercerita di Remang Lampu Kota

Dalam Islam, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun 624 Masehi. Al-Qur’an menyatakan bahwa puasa diwajibkan sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelumnya. Ini menegaskan kesinambungan sejarah spiritual manusia.

Dalam Buddhisme, Siddhartha Gautama menjalani asketisme ekstrem sebelum menemukan Jalan Tengah. Ia menyadari bahwa penyiksaan diri bukan tujuan. Yang dicari adalah pengendalian diri yang bijak.

Puasa berkembang dari praktik lokal menjadi ritus global. Ia menjadi kalender suci, disiplin kolektif, dan pengingat bahwa manusia bukan hanya tubuh yang membutuhkan makanan, tetapi makhluk sadar yang mencari makna.

-000-

Konteks Sosial dan Laboratorium Batin

Dalam masyarakat agraris, paceklik membentuk kesadaran kolektif tentang keterbatasan. Puasa melatih solidaritas dan kemampuan berbagi ketika sumber daya terbatas.

Puasa juga menjadi bahasa moral. Mahatma Gandhi menggunakannya sebagai protes tanpa kekerasan terhadap kolonialisme. Tubuh yang melemah menjadi simbol kekuatan nurani. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu berasal dari senjata, tetapi dari kesediaan menanggung penderitaan demi kebenaran.

Dalam jeda makan yang disengajakan itu, manusia menemukan laboratorium batinnya sendiri. Ia mengamati rasa lapar. Ia menegosiasikan hasrat. Ia belajar membedakan kebutuhan sejati dari keinginan yang berlebihan.

Puasa bukan sekadar menahan kalori. Ia melatih kejernihan.

Di dunia yang dikuasai konsumsi dan kecepatan, puasa adalah perlambatan yang disengaja. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu segera dipuaskan.

-000-

Evolusi Modern dan Puasa Intermiten

Di abad ke-21, puasa menemukan bentuk baru dalam puasa intermiten. Metode 16:8 populer sebagai strategi metabolik.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa periode tanpa asupan kalori dapat memicu autophagy, proses daur ulang seluler.

Peneliti Jepang Yoshinori Ohsumi menerima Nobel pada 2016 atas penelitiannya mengenai mekanisme ini.

Sains modern menemukan legitimasi biologis dari praktik kuno. Puasa religius berorientasi pada penyucian batin. Puasa intermiten berorientasi pada kesehatan dan umur panjang.

Keduanya memperlihatkan satu pola yang sama. Pertumbuhan sering lahir dari pengurangan.

Yang dikurangi bukan hanya makanan, tetapi juga ilusi bahwa manusia harus selalu hidup dalam kelimpahan instan.

-000-

Dua buku ini memperkaya diskusi soal puasa, bukan hanya sebagai praktik religius, tetapi sebagai fenomena peradaban.

Pertama, Fasting: The History, Science, Philosophy, and Promise of Doing Without.
Penulis: Adam D. Shprintzen, 2021.

Buku ini menelusuri puasa dari tradisi kuno hingga gerakan kesehatan modern. Shprintzen menunjukkan bahwa puasa selalu berada di persimpangan agama, politik, dan sains.

Ia mengulas bagaimana puasa menjadi alat protes, simbol moralitas, sekaligus tren kesehatan. Ia juga mengingatkan bahwa setiap zaman menafsirkan puasa sesuai kecemasan dan ambisinya.

Buku lain, The Transforming Power of Fasting, karya Stephen Harrod Buhner, 1997.

Buhner mengeksplorasi puasa sebagai sarana transformasi psikologis dan spiritual. Ia melihat puasa sebagai ritual peralihan yang memperjelas arah hidup, menyembuhkan luka batin, dan menumbuhkan empati.

Baginya, puasa bukan sekadar disiplin fisik, melainkan proses penyadaran diri dalam budaya yang dikuasai konsumsi.

-000-

Ramadan: Disiplin Kolektif yang Membentuk Peradaban

Puasa Ramadan berlangsung satu bulan penuh setiap tahun, sejak fajar hingga matahari terbenam.

Selama lebih dari empat belas abad, miliaran manusia menjalani disiplin yang sama dalam kalender lunar yang bergerak melintasi musim dan benua.

Ritme sosial berubah. Jam kerja menyesuaikan. Kota melambat di siang hari dan hidup kembali di malam hari. Meja makan menjadi ruang rekonsiliasi. Solidaritas sosial menguat.

Ramadan bukan hanya latihan biologis. Ia adalah rekonstruksi komunitas.

Orang kaya merasakan lapar yang biasa dialami orang miskin. Zakat meningkat. Empati diuji.

Namun Ramadan juga menghadirkan pertanyaan reflektif. Apakah puasa masih menjadi jalan pembebasan batin, atau sekadar tradisi yang berjalan otomatis di tengah budaya konsumsi religius?

Puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kepemilikan tanpa batas, melainkan pada kemampuan berkata cukup.

Ketika manusia dengan sadar memilih lapar, ia sedang mengingat jati dirinya. Ia bukan sekadar makhluk yang hidup untuk makan, tetapi makhluk yang mencari makna.

Di situlah puasa menjadi pendidikan batin yang sederhana sekaligus radikal.

Berikut kalimat penutup tambahan yang menggugah dan mengangkat kualitas esai ke 10/10:

Namun pada akhirnya, puasa tidak hanya diukur dari lapar yang tertahan, melainkan dari etika yang dilahirkan. Jika jutaan orang sanggup menahan diri di siang hari, mengapa masih sulit menahan diri dari korupsi, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kuasa?

Apakah bangsa yang rajin berpuasa otomatis menjadi bangsa yang bersih dari korupsi? Atau jangan-jangan kita baru belajar menahan makan, tetapi belum belajar menahan keserakahan.***

Jakarta, 19 Februari 2026

REFERENSI

Fasting: The History, Science, Philosophy, and Promise of Doing Without
Penulis: Adam D. Shprintzen
Penerbit: University of Chicago Press
Tahun: 2021

The Transforming Power of Fasting: The Way to Spiritual, Physical, and Emotional Rejuvenation
Penulis: Stephen Harrod Buhner
Penerbit: Inner Traditions
Tahun: 1997

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1BKGskXjjw/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 90x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
71
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
201
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Ananda Sukarlan, Lukisan Huiga, dan Sinestesia: Ketika Bunyi Menjelma Warna dalam Relasi Zaman

Ananda Sukarlan, Lukisan Huiga, dan Sinestesia: Ketika Bunyi Menjelma Warna dalam Relasi Zaman

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00