Dengarkan Artikel
Refleksi pascabencana Banjir Bandang Aceh
Oleh: Hanif Arsyad
Akademisi Univesitas Malikussaleh, pengiat literasi
Bulan suci kembali mengetuk pintu waktu. Namun bagi sebagian masyarakat di Aceh, Ramadhan tahun ini tidak hadir dalam suasana yang sepenuhnya khidmat. Ia datang bersamaan dengan jejak luka pascabencana, banjir bandang yang menyisakan rumah berlapis lumpur, ekonomi yang tersendat, dan ribuan keluarga yang masih bertahan di tenda pengungsian maupun hunian sementara. Dalam situasi demikian, ibadah puasa tidak lagi sekadar ritual tahunan; ia menjelma menjadi ruang ketahanan spiritual dan sosial.
Di tengah kondisi yang terasa seperti keterasingan, bahkan seolah ditinggalkan, masyarakat dipaksa berdamai dengan realitas sambil memperjuangkan nasibnya sendiri. Tetapi sejarah Islam menunjukkan bahwa justru dalam ruang-ruang krisis, iman menemukan bentuknya yang paling otentik.
Allah memulai perintah puasa dengan panggilan penuh kasih: “Wahai orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Baqarah: 183). Para ulama menafsirkan bahwa panggilan ini bukan sekadar instruksi normatif, melainkan deklarasi kedekatan antara Sang Pencipta dan hamba-Nya. Dalam epistemologi Islam, panggilan tersebut mengandung dimensi psikologis: ia meneguhkan identitas mukmin sebelum menuntut pengorbanan.
Maknanya menjadi sangat relevan bagi masyarakat yang sedang berhadapan dengan kehilangan. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kapasitas maknakemampuan manusia untuk tetap melihat harapan ketika realitas tampak runtuh.
Al-Qur’an juga merekam kisah keteguhan Maryam ketika berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya. Saat melahirkan sendirian, lemah, dan nyaris tanpa tenaga, ia justru diperintahkan: “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu…” (QS. Maryam: 25).
Secara logika, perintah itu tampak mustahil. Batang kurma bukan sesuatu yang dapat digerakkan oleh perempuan yang sedang kesakitan. Allah tentu mampu menjatuhkan buah tanpa usaha Maryam. Namun, Dia tidak melakukannya.
Di sinilah kita menemukan prinsip teologis yang dalam: pertolongan Ilahi hampir selalu bertemu dengan ikhtiar manusia.
Kekuatan Maryam tidak terletak pada kemampuannya mengguncang pohon, melainkan pada penolakannya untuk menyerah. Pohon itu tidak merespons ototnya; ia merespons ketaatannya. Allah tidak menuntut keberhasilan—Dia menuntut gerak.
📚 Artikel Terkait
Pelajaran ini terasa sangat dekat dengan realitas masyarakat Aceh hari ini. Membersihkan rumah dari lumpur, memulai kembali usaha kecil, menata kehidupan dari nol, semuanya mungkin tampak seperti “menggoyang pohon kurma.” Berat, melelahkan, bahkan terkadang terasa sia-sia.
Namun justru pada langkah kecil itulah ibadah menemukan bentuk praksisnya.
Dalam perspektif psikologi religius, tindakan mencoba memiliki fungsi restoratif: ia menjaga harapan tetap hidup dan mencegah manusia tenggelam dalam keputusasaan. Sementara dalam kerangka teologi amal, usaha adalah manifestasi iman—bukan karena Allah membutuhkan kerja manusia, tetapi karena manusialah yang membutuhkan proses itu untuk bertumbuh.
Bayangkan jika kurma itu jatuh tanpa gerakan Maryam. Ia mungkin akan kenyang, tetapi tidak akan mengalami penguatan batin melalui perjuangan. Proseslah yang mematangkan jiwa.
Demikian pula Ramadhan di wilayah bencana. Puasa mengajarkan bahwa penderitaan bukan sekadar sesuatu yang harus ditanggung, melainkan dapat diolah menjadi energi spiritual. Lapar yang disengaja selama puasa menumbuhkan empati terhadap mereka yang lapar karena keadaan. Haus yang ditahan melatih kesabaran bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Ramadhan, dengan demikian, bukan hanya ibadah individual tetapi juga proyek sosial.
Karena itu, krisis kemanusiaan tidak boleh dibiarkan menjadi perjuangan sunyi masyarakat semata. Spirit puasa menuntut hadirnya solidaritas kolektif dari negara, lembaga sosial, hingga komunitas akar rumput. Kesalehan personal harus bertemu dengan kesalehan struktural.
Tidak cukup jika Ramadhan hanya dipenuhi tarawih dan tilawah, sementara para penyintas masih menata hidup di bawah terpal. Kesalehan sejati tercermin ketika ibadah melahirkan keberpihakan.
Pada titik ini, kisah Maryam kembali berbicara kepada kita: bergerak adalah bagian dari iman, tetapi menghadirkan pertolongan bagi yang bergerak adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Bagi masyarakat yang terdampak, mungkin tugas hari ini bukan membuat keajaiban, melainkan tetap melangkah meski kaki terasa berat. Satu ayunan cangkul membersihkan lumpur, satu upaya membuka kembali lapak dagang, satu doa yang dipanjatkan di antara reruntuhan semuanya adalah ibadah.
Sebab ketika manusia bergerak keluar dari keputusasaan, di sanalah ruang bagi keajaiban Allah terbuka.
Ramadhan akhirnya mengajarkan satu hal mendasar: harapan tidak selalu lahir dari keadaan yang mudah, tetapi dari hati yang menolak berhenti percaya. Seperti Maryam yang menggoyang pohon kurma, masyarakat Aceh hari ini mungkin tidak sedang menggerakkan pohon—mereka sedang menggerakkan diri mereka sendiri.
Dan sebagaimana janji-Nya sepanjang sejarah iman, ketika hamba tetap berikhtiar, Allah-lah yang akan menjatuhkan buah pertolongan.
Ramadhan kareem. Semoga dari tanah yang pernah terendam, tumbuh keteguhan baru yang lebih dalam dari lumpur, lebih kuat dari arus, dan lebih bercahaya dari duka serta harapan dari firman Allah dalam perintah berpuasa yang Allah nukilkan di surah al baqarah’ hamba hamba Nya yang berpuasa mudah mudahan menjadi hamba yang bertaqwa’. Amin…
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





