• Latest
Meugang yang Basah

Meugang yang Basah

Februari 17, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Meugang yang Basah

Redaksiby Redaksi
Februari 17, 2026
Reading Time: 4 mins read
Meugang yang Basah
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hurriyatuddaraini

(Inong Literasi)

Hari itu Selasa. Jam enam pagi.

Hujan turun pelan, lalu tiba-tiba deras. Airnya menghantam atap seng rumah kami yang tak berplafon, suaranya keras memenuhi seluruh ruangan.

Aku baru selesai shalat subuh. Mukena kulipat perlahan. Karena hujan dan hari itu libur, aku kembali berbaring sebentar. Bau tanah basah masuk lewat celah jendela.

Hari itu hari meugang.

Dua hari lagi Ramadan.

Di rumah-rumah lain sejak subuh para ayah sudah pulang dari pasar membawa daging. Ibu-ibu sibuk di dapur. Anak-anak bangun dengan aroma santan dan rempah.

Di rumah kami, suasananya lebih tenang. Lebih sederhana.

Bukan berarti tak bahagia.

Kami hanya terbiasa hidup tanpa banyak pilihan.

Di hari lain, kami terbiasa makan satu telur dibelah dua. Kadang bahkan dibagi empat. Tapi di hari meugang, rasanya berbeda. Aku bisa makan satu telur sebutir utuh, tanpa perlu berbagi. Itu saja sudah terasa seperti hadiah kecil yang jarang datang. Atau sesekali mamak menggorengnya dengan campuran kelapa, jadilah boh manok u. Kami makan tanpa protes. Mamak selalu berhasil membuat kami merasa cukup.

Kalau ada tahu, ia tak pernah menggorengnya begitu saja. Tahu itu dihancurkan, dicampur telur, dibentuk bulat-bulat kecil, lalu direbus dengan kuah sederhana. Kadang ditambah bayam atau toge. Kami menyebutnya bakso. Dan kami memakannya dengan bangga.

Kami tak pernah merasa miskin.

Karena mamak tak pernah mengajarkan kami untuk merasa begitu.

“Nida…” suara mamak dari dapur memanggil namaku.

Aku bangkit dari tempat tidur.

“Kukur kelapa ini sebentar, nak. Mamak mau giling bumbu.”

Aku duduk di lantai dapur. Suara batu gilingan bergesek pelan. Bau bawang, cabai, dan ketumbar memenuhi udara.

“Hari ini kita masak apa, mak?”

“Semalam ayah beli telur sepuluh butir. Kita buat rendang boh manok untuk meugang kita.”

Rendang boh manok.

Entah kenapa dadaku tetap terasa hangat. Walaupun bukan daging, kata “rendang” saja sudah cukup membuatku bahagia.

“Mak, buat bumbunya yang banyak ya, mak. Supaya aku bisa menyimpannya untuk dimakan dengan nasi hangat saat sahur besoknya.”

Mamak tersenyum tanpa menoleh.

“Iya, neuk.”

Dalam hatiku, rendang telur itu sudah terasa seperti pesta kecil.

Tapi bayangan tentang rendang daging tetap muncul diam-diam. Kemarin Rifa bercerita panjang tentang neneknya. Tentang rendang buatan tangan tua itu yang katanya lembut dan harum sekali. Aku mendengarnya sambil menelan ludah dan pura-pura tak terlalu peduli.

Tiba-tiba terdengar ribut di luar.

Aku keluar sebentar.

Pak Mahmud dan anaknya, Agam, tetangga kami sedang mengejar ayam peliharaan mereka yang lepas dari kurungan. Ayam itu berlari ke sana kemari, membuat mereka panik sekaligus kesal. Hujan sudah mulai reda, tanah becek, dan kaki mereka kotor oleh lumpur.

Aku ikut membantu mengejar. Kami tertawa di tengah kepanikan kecil itu. Tak lama, ayam itu berhasil ditangkap. Akan disembelih. Akan jadi gulai ayam kampung yang pasti harum sekali. Aku membayangkan sambil menetes air liur.

ADVERTISEMENT

Aku masuk lagi ke rumah dengan perasaan campur aduk.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

Rifa berdiri di depan, bersama seorang perempuan tua yang wajahnya teduh dan lembut. Di tangannya ada satu kresek kecil.

“Ini buat kalian,” kata neneknya pelan. “Belum dimasak.”

Aku menerima kresek itu dengan tangan sedikit gemetar.

Seekor ayam.

Tidak besar. Tidak gemuk. Tapi cukup membuat mataku berbinar.

Di belakangku, mamak berdiri terdiam. Matanya berkaca-kaca.

Hujan masih turun tipis.

Dan untuk pertama kalinya, meugang kami bukan hanya tentang telur.

Rumah kami tetap kecil. Atapnya tetap tanpa plafon. Tapi siang itu, rasanya luas sekali.

Basah oleh hujan.

Basah oleh syukur.

Basah oleh kebaikan yang datang tanpa diminta.

Dan aku, anak kelas dua SMP yang masih sering membagi telur menjadi empat bagian, diam-diam kembali berjanji,

Suatu hari nanti, aku ingin membeli daging tanpa harus menghitung potongannya.

Aku ingin membelikan mamak, ayah, dan adikku baju hari raya yang benar-benar baru.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Dan aku ingin menjadi orang yang membawa kresek kecil itu ke rumah orang lain.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com