Dengarkan Artikel
Oleh Riazul Iqbal
Membaca Buku Reset Indonesia, langsung membuat kita mengelus dada tentang nafsu penguasa dalam mengelola Indonesia. Sungai tercemar, industri kacau dan kebijakan, tanpa memikirkan apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat.
Dalam buku ini dibeberkan banyak fakta tentang tambang yang telah merusak lingkungan berpuluh tahun, meninggalkan berbagai luka bagi masyarakat. Warga di sekitar tambang tetap miskin. Udara, dan air tercemar. Nelayan dan petani menjadi profesi mentereng karena lahan dan laut terus-menerus berkurang kualitasnya, akibat industri dan tambang.
Buku yang ditulis oleh Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu ini adalah hasil dari perjalanan mereka keliling Indonesia via tiga ekspedisi lintas generasi (Farid dan Dandhy sudah tua, sedangkan dua lagi generasi muda). Mereka selama beberapa tahun melakukan ekpedisi Zamrud Khatulistiwa, Indonesia Biru, dan Indonesia Baru demi menelusuri ribuan kilometer perjalanan demi merekam wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Pemerintah menurut buku ini terlalu terburu-buru. Ekonomi harus meningkat, investasi harus masuk besar-besaran, supaya Indonesia maju. Padahal banyak hal baik yang lahir dari masyarakat yang perlu dikembangkan. Ekonomi kerakyatan bisa dibentuk melalui koperasi yang dikelola oleh beragam pengusaha dan petani lokal.
Koperasi Keling Kumang misalnya. Diambil dari nama tokoh cerita rakyat Dayak, koperasi ini sudah besar dan memiliki konglomerasi bisnis seperti hotel, kampus, sekolah, market dan pengelola ekowisata.
📚 Artikel Terkait
Koperasi melibatkan masyarakat dan mereka berpartisipasi besar dalam kebijakan, bukan seperti investor yang ekslusifdan tak peduli tentang alam sekitar karena mungkin tak punya rasa memiliki daerah tempat mereka berinvestasi.
Alam Indonesia sangat kaya akan tanaman dan fauna, sayang sekali kalau dirusak untuk monokultur. Perkebunan sawit merusak alam dan pemandangan. Ada sebuah program yang baik seperti wakaf hutan menyelamatkan banyak hal, menjaga kelestarian alam, sehingga ekosistemnya terjaga. Rakyat terbantu ekonominya karena bisa memetik dan memanen hasil alam dengan melimpah.
Ajaran Islam wakaf membuat tanah yang diwakafkan tidak boleh diperjualbelikan lagi, sehingga hutan yang diwakaf harus tetap jadi hutan tak boleh disalahgunakan.
Dengan pelestarian alam laut dan hutan maka perkembangan biakan ikan semakin aman dan indah. tak perlu banyak, tapi hasil alam cukup untuk kita semua. Kurangi keserakahan dan keinginan untuk cepat besar tapi mengorbankan alam.
Buku yang dilarang untuk dibedah di beberapa tempat, karena ada isu makar. Padahal ide makar (menjadikan Indonesia negara federal) itu hanya ide untuk mengelola Indonesia lebih baik, karena tak semua pulau cocok dengan ide pusat dalam perkembangannya. Misalnya MBG, kadang ada daerah yang sangat diperlukan sekarang adalah fasilitas pendidikan, bukan makan. Ada daerah yang perlu hutan dijaga karena mereka sudah berpenghasilan dengan kelestarian hutan tempat mencari makanan dan sungai-sungai untuk mencari ikan.
Indonesia bukan tak punya apa-apa, sehingga kita harus tergantung utang asing dan investasi. Banyak Hal bisa kita jual dan sangat berharga. Misalnya alam yang Gibran katakan Carbon Capture storageyang tak muncul moncongnya sampai sekarang. Alam yang indah jadi destinasi wisata tanpa harus dibeton dan mengusir penduduknya seperti yang terjadi di pulau Komodo.
Seperti kata Benaya Harobu di akhir buku, semoga anaknya Hiro dan anak-anak cucu Indonesia bisa menikmati alam negerinya yang indah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





