Dengarkan Artikel
Bagian Kedua
Oleh Tabrani Yunis
Usai menikmati lagu Iwan Fals, Farid Gaban sang narasumber menarik benang merah lagu itu dengan story telling yang menjadi materi utama dari workshop. Ungkapan yang diukir dengan bahasa sederhana, namun menyentuh kalbu. Ya, lirik lagu tersebut diukir dengan kata-kata yang biasa, namun mengadung makna mendalam. Lirik lagu tersebut menjadi satu contoh bagaimana kalimat-kalimat lirik lagu yang digubah dalam bahasa yang menyentuh dan berkaitan dengan fakta di dalam kehidupan nyata.
Ketika Farid Gaban, membaca sub judul Mengukir Kata, ungkapan itu menggelitik saraf ingatan penulis. Ya, Mengukir Kata. Bagi banyak orang mungkin akan bertanya, bagaimana ya mengukir kata itu. Apakah mengukir kata itu mengukir sebuah lukisan?
Tentu saja tidak. Maka, ketika mendengar ungkapan itu dari Pak Farid Gaban, ingatan penulis melayang jauh pada sebuah buku terbitan Mizan yang merupakan hasil karya Hernowo Hasim dengan judul Mengikat Makna. Sebuah buku yang ditulis oleh Hernowo Hasim untuk memotivasi anak negeri melakukan aktivitas menulis.
Nah, ungkapan Pak Farid Gaban juga sesungguhnya adalah ungkapan yang menggugah dan mendorong keinginan menulis dengan cara-cara yang sangat mudah, sederhana, tetapi memberikan arti dan rasa yang renyah hingga mudah dikunyah oleh pembaca dan juga mudah menumpahkan kata-kata dalam sebuah tulisan, tanpa harus berhadapan dengan apa yang dikatakan orang berbahasa Inggris dengan sebutan writing blocks atau juga sering disebut dengan mental block yang menghambat proses seseorang dalam menuangkan pikiran ke dalam tulisan.
Coba kita fahami apa yang diungkapkan Pak Farid Gaban dalam mukadimah presentasinya tentang melukis kata itu. Simak beberapa kalimat berikut.
Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan itu? Menyimak pertanyaan itu, sesungguhnya bila kita fahami bahwa pertanyaan ini hanya ingin bertanya pada kita mungkin kita pernah membaca sebuah tulisan dalam waktu yang cukup panjang, hingga bisa sampai setahun atau lebih. Kalau selama itu membacanya, pasti tebal bukunya sampai ribuan halaman ya. Bisa dijadikan bantal.
Ya, tergantung bagaimana kita membayangkan. Selanjutnya, Pak Farid mengatakan bahwa kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat sebuah gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat digdaya bagi para penulis. Para penulis pasti ingin bisa menulis dengan cara yang mengalir, tanpa ada banyak hambatan, sehingga tulisan yang ditulis tidak pernah tuntas dan tidak enak pula dibaca.
Penulis membaca wajah para peserta yang mengangguk-angguk menunjukkan aroma rasa faham. Juga sebenarnya para pembaca setuju dengan pernyataan ini. Karena setiap pembaca tidak suka membaca yang sulit-sulit, dan inginnya membaca tulisan yang mengair bagai air banjir yang melanda 18’kabupaten dan kota di Aceh pada 25 November 2025 lalu. Bencana yang bakal dilupakan ketika penderitaan panjang menghadang di depan mata.
Di sini, Pak Farid Gaban sangat faham dan sadar dengan kondisi masyarakat dengan kemampuan literasi yang berada di titik nadir serta layunya minat membaca dan menulis sebelum sempat berkembang. Sudah dapat kita bayangkan bila kemampuan literasi anak negeri ini seperti diungkapkan berikut ini
📚 Artikel Terkait
Peringkat literasi Indonesia di dunia masih tergolong rendah, seringkali menempati posisi ke-60an hingga ke-70an dari 80-an negara yang disurvei, seperti pada studi PISA 2022 (peringkat 71 dari 81). Data UNESCO bahkan sempat menempatkan Indonesia di urutan kedua terbawah dalam minat baca, dengan hanya 0,001% dari 1.000 orang yang rajin membaca.
Kita akan sangat faham bila membaca rincian peringkat literasi Indonesia berdasarkan beberapa studi di bawah ini
- PISA (Program for International Student Assessment) 2022: Indonesia menempati peringkat 71 dari 81 negara dengan skor literasi membaca 359.
- Data UNESCO: Indonesia berada di posisi kedua terbawah dalam hal minat baca, dengan tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001%.
- Stalin (2016): Studi “World’s Most Literate Nations Ranked” oleh Central Connecticut State University menempatkan Indonesia di posisi ke-60 dari 61 negara, berada tepat di bawah Thailand dan di atas Botswana.
- World Population Review: Indonesia berada di peringkat ke-86 dari 184 negara dengan tingkat melek huruf sekitar 96%.
- World Atlas: Indonesia berada di posisi ke-105 dari 193 negara.
Tentu tak perlu kita tanyakan lagi apa penyebab rendahnya. Sebab kita sebenarnya sudah bisa membaca gejala alam yang memaparkan bahwa semua sektor literasi bangsa kita rendah. Minat baca sangat rendah, akses bacaan juga terbatas, sehingga membaca bukan sebuah kebutuhan dan bukan menjadi budaya bangsa. Padahal, bangsa ini sudah banyak belajar dari pengalaman luar negeri atau negara yang memiliki kemampuan literasi tinggi seperti halnya Finlandia.
Banyak pihak penyelenggara pendidikan di tanah air sudah belajar dan studi banding ke Finlandia, tetapi hasilnya tetap zonk. Mereka ternyata salah membawa akar masalah pendidikan di Indonesia, sehingga saat belajar ke Finlandia, tidak menemukan solusi jitu untuk meningkatkan kemampuan literasi anak negeri. Padahal, pemerintah Finlandia sudah buka kartu As. Mereka bisa mengajarkan apa saja kepada para siswa karena setiap anak usia 15 tahun, sudah selesai dengan persoalan literasi, numerasi dan sains. Kita? Belum sempat tumbuh minat membaca, lalu layu sebelum berkembang.
Dengan kondisi seperti ini, sudah tak perlu dibayangkan ya, karena kita pasti bisa baca dan menganalisis persoalan literasi anak negeri serta mengapa pula rendahnya kualitas pendidikan dan miskin akan karya-karya monumental.
Bisa jadi, berangkat dari persoalan demikian, Pak Farid Gaban berinisiasi menulis buku Reset Indonesia dan mengadakan workshop storytelling untuk memotivasi anak negeri menulis lebih banyak sebagai satu dari banyak cara bercerita lewat tulisan.
Jadi wajar saja kalau pada acara workshop storytelling ini Pak Farid memotivasi masyarakat dan membantu memberi cara jitu agar persoalan yang ada di masyarakat, dapat ditulis dengan bahasa yang mengalir, mudah ditulis dan dibaca ( faham), serta membuat pesan yang ditulis sampai kepada semua pihak.
Maka benarlah apa yang dikatakan Pak Farid Gaban. Apa pun yang kita tulis, kita harus bisa mengetahui bagaimana cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup. Artinya, setiap kita menulis, kita ingin tulisan kita banyak dibaca orang. Bukan hanya dibaca, tetapi bisa menjadi referensi banyak penulis.
Oleh sebab itu, Pak Farid Gaban memberikan tips untuk itu. Ya, menurut Pak Farid Gaban, cara terbaik untuk melakukannya adalah menerapkan konsep “Lukiskan, bukan
Katakan” (Show-Not-Tell). Jika kita menggunakan konsep “Show Not Tell”, paragraf- paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah dikenang.
Lebih lanjut jelasnya, tulisan kreatif yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata sifat (tinggi, kaya, cantik) dan kata yang kabur (cukup besar, lumayan heboh, keren abis). Dalam hal menggunakan kata sifat, Pak Farid Gaban mengingatkan bahwa kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda. Para pembaca faham, bukan?
Nah, sampai di sini, mungkin para pembaca belum mendapatkan contoh kongkrit, bagaimana wujud nyata melukis kata tersebut. Selayaknya kita lanjutkan kepada sejumlah contoh yang diberikan Pak Farid Gaban. Ini penting, agar ketika kita belajar tentang Storytelling, kita bisa mendapatkan gambaran yang menggerakkan tangan dan pikiran kita untuk memulai menulis sekarang juga. Untuk sejumlah contoh kalimat mengukir kata, akan diuraikan dalam tulisan berikutnya. Tunggu saja
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





