Dengarkan Artikel
Ramadan, Rasionalitas, dan Agenda Kecerdasan Struktural
Oleh: Dayan Abdurrahman
Tulisan ini lahir dari ruang yang sederhana: dapur rumah, di sela-sela saya memasak kuah belangong untuk berbuka puasa dan makan siang. Namun dari ruang kecil itu, pikiran meluas: Aceh dengan kecemasan ekologinya, Palestina dengan luka geopolitiknya, serta komunitas Muslim minoritas yang berjuang menjaga martabat dalam sistem global yang keras. Ramadan menghadirkan keheningan yang memungkinkan pertanyaan besar muncul: apakah persoalan umat hari ini benar-benar krisis iman, atau justru krisis struktur?
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan Islam ataupun mengagungkan Barat. Ia adalah refleksi kritis agar Ramadan menjadi momentum optimalisasi—spiritual sekaligus struktural.
I. Sejarah sebagai Cermin: Kejayaan dan Pola Kenaikan Peradaban
- Integrasi Iman dan Sistem di Masa Klasik
Pada Zaman Keemasan Islam, kota-kota seperti Baghdad, Cordoba, Cairo, dan Damascus menjadi pusat ilmu dan tata kelola. Di sana, agama tidak dipertentangkan dengan sains. Ulama sekaligus ilmuwan, pemikir sekaligus administrator. Iman menjadi fondasi etika, sementara metodologi ilmiah menjadi instrumen kemajuan.
- Pergeseran Global dan Kebangkitan Barat
Ketika dunia Islam mengalami fragmentasi politik dan stagnasi epistemologi, Eropa membangun fondasi modernitasnya: Renaissance, Revolusi Ilmiah, dan Revolusi Industri. Kota seperti London dan Paris menjadi pusat inovasi. Pasca-Perang Dunia II, arsitektur global terkonsentrasi di New York City dan Washington, D.C..
Kesimpulannya jelas: peradaban naik bukan karena identitas, tetapi karena institusi dan sistem pengetahuan.
II. Diagnosis Kontemporer: Krisis Struktur, Bukan Krisis Iman
- Spiritualitas yang Tidak Terkonversi
Masjid hidup. Ramadan semarak. Ritual kuat. Namun kekuatan spiritual itu belum sepenuhnya dikonversi menjadi keunggulan struktural: universitas riset unggul, kebijakan berbasis data, industri teknologi, dan ekosistem inovasi.
- Pendidikan yang Terfragmentasi
Banyak negeri Muslim masih memisahkan agama dan sains secara kaku. Akibatnya, lahir generasi yang religius tetapi kurang metodologis, atau sebaliknya ilmiah tetapi miskin orientasi etika. Padahal sejarah menunjukkan integrasi keduanya adalah kunci.
- Ekonomi dan Tata Kelola yang Rapuh
Ketergantungan pada komoditas mentah, lemahnya investasi riset, dan tata kelola yang belum optimal memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan iman, tetapi arsitektur kebijakan.
III. Perspektif Global: Realitas Kekuasaan Modern
- Dunia Ditentukan oleh Produksi Pengetahuan
Abad ini ditentukan oleh teknologi, data, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan energi terbarukan. Keunggulan global bukan pada retorika moral, tetapi kapasitas inovasi.
Ketika Aceh menghadapi persoalan ekologis, solusinya memerlukan riset lingkungan dan kebijakan berbasis sains. Ketika Palestina menghadapi ketimpangan geopolitik, dibutuhkan kekuatan diplomasi, teknologi pertahanan, dan ekonomi strategis. Ketika Muslim minoritas ingin dihormati, kontribusi profesional menjadi bahasa universal.
- Kompetensi sebagai Bahasa Dunia
Identitas penting, tetapi kompetensi menentukan. Dunia modern menghargai kapasitas, bukan sekadar klaim moral.
📚 Artikel Terkait
IV. Integrasi Timur–Barat: Jalan Tengah Peradaban
- Nilai Barat yang Bisa Dipelajari
Metodologi ilmiah, manajemen institusi, disiplin riset, dan sistem tata kelola adalah keunggulan yang patut diadopsi secara kritis.
- Nilai Islam yang Menjadi Fondasi
Tauhid melahirkan orientasi kesatuan, keadilan sosial, dan tanggung jawab moral. Spiritualitas Islam memberi makna dan arah.
Integrasi keduanya bukan bentuk inferioritas, melainkan kematangan peradaban. Spiritualitas memberi kompas. Rasionalitas memberi peta. Institusi memberi kendaraan.
V. Ramadan sebagai Momentum Transformasi Struktural
- Puasa sebagai Latihan Manajemen Diri
Puasa adalah disiplin waktu, kontrol emosi, dan kesadaran diri. Nilai-nilai ini adalah fondasi kepemimpinan dan tata kelola.
- Dari Ritual ke Reformasi
Ramadan seharusnya menjadi titik evaluasi kolektif:
Reformasi pendidikan integratif.
Investasi serius pada riset dan inovasi.
Penguatan tata kelola berbasis data dan transparansi.
Pengembangan ekonomi produktif berbasis teknologi.
Ibadah menjadi energi moral bagi kerja struktural.
VI. Pencerahan: Keluar dari Siklus Emosional
Umat tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem: nostalgia kejayaan masa lalu dan kemarahan terhadap realitas hari ini. Nostalgia tanpa strategi adalah ilusi. Kemarahan tanpa sistem adalah kelelahan.
Solusinya adalah evolusi struktural:
- Membangun budaya riset yang konsisten.
- Mengintegrasikan agama dan sains dalam pendidikan.
- Memperkuat institusi publik dengan transparansi dan data.
- Mengembangkan ekonomi produktif berbasis inovasi.
- Menjadikan spiritualitas sebagai fondasi etika kebijakan.
Islam tidak kekurangan iman. Yang dibutuhkan adalah keberanian membangun arsitektur peradaban.
Tulisan ini lahir dari dapur sederhana dan kegelisahan Ramadan. Namun kegelisahan tidak boleh berhenti sebagai wacana. Ia harus menjadi energi pembaruan.
Karena kebangkitan bukan soal siapa yang lebih suci.
Ia soal siapa yang lebih sistematis.
Dan Ramadan adalah momen terbaik untuk memulai—dengan hati yang jernih, akal yang tajam, dan struktural pembangunan ummat Islam dunia.
Dayan Abdurrahman
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





