POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
February 15, 2026
Melukis Kata itu Seperti Apa?
🔊

Dengarkan Artikel

(Catatan dari workshop Storytelling)

Bagian Ketiga

Oleh Tabrani Yunis

Sudah dua tulisan ditulis mengenai workshop Storytelling yang diselenggarakan Program *BICARA* yang merupakan kolaborasi antara CommsLab, Ekspedisi Indonesia Baru, CELIOS, dan Universitas Syiah Kuala. Kegiatan yang diselenggarakan di auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh pada tanggal 13 Februari 2025 lalu. Namun, paparannya masih belum masuk pada sejumlah kata yang diukir dalam storytelling tersebut 

Ya, menyimak paparan Pak Farid Gaban dalam presentasinya melukis kata itu adalah sebuah proses menulis dengan bercerita yang memadukan fakta dengan data. Lalu disajikan dengan kata-kata sederhana dan mudah. Maka, apa yang dimaksud dengan melukis kata.

Pada tulisan sebelumnya, sang narasumber, Pak Farid Gaban telah menjelaskan bahwa dalam membuat tulisan itu kita diminta untuk lukiskan kata, bukan katakan. Ya, show, not tell. Konon dengan cara ini paragraf-paragraf akan terbentuk dengan alami, kuat, hidup dan mudah untuk dikenang.  

Seperti apakah kalimat dan paragraf itu?

Pak Farid Gaban memberikan contoh dari melukis kata tersebut seperti berikut.  Seringkali orang atau kita membuat kalimat seperti ini. â€śKonser Peterpan itu heboh banget.”

Nah, dalam konteks melukis kata, kalimat itu akan mengalir seperti kalimat-kalimat berikut ini.

Konser Peterpan ramai sekali. Konser di Gelanggang Senayan itu dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200.000 habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu “Ada Apa Denganmu”.

(Perhatikan bagaimana pelukisan itu didasarkan dari wawancara,

Para pembaca mungkin bisa faham, apa beda kalimat “  Konser Peterpan itu heboh banget”.

Kalimat yang menggunakan kata sifat “ Heboh bangat”. Sementara di kalimat-kalimat yang disebut melukis kata, dalam menggambarkan sebuah event atau peristiwa tidak menggunakan kata sifat, tetapi menggunakan kata dan data seperti Konser Peterpan ramai sekali. Lalu diikuti dengan data tentang jumlah pengunjung. Harga tiket dan kategori penonton. Artinya ada kata-kata yang melukis cerita dan ada data yang meyertai gambaran tentang kata menarik, heboh, keren atau fantastis.

Ini ada beberapa contoh lain yang diberikan oleh Pak Farid Gaban tentang melukis kata tersebut. Pertama untuk menggambarkan kata marah besar. Bisa diungkapkan dengan cara berikut ini.

Mak Eroh marah besar.

Dalam pendekatan melukis kata, untuk menyatakan bagaimana marahnya Mak Eroh, diuangkan dengan cara berikut ini.

“Pemerintah tidak dhalim!” kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kenaikan harga solar.

(Perhatikan bagaimana penulis “mendatangkan” Mak Eroh ke dalam tulisan dan membiarkan dia bicara sendiri kepada pembaca)

📚 Artikel Terkait

MONEY POLITIC

PENULIS YANG PESIMIS?

BUKAN PUISI

Meraih Mimpi

Contoh selanjutnya,

Nasib nenek itu sangat malang.

Diungkapkan dengan cara berikut ini.

Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, orang-orang

miskin yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar Kota Bandung,

mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama

aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para

tetangganya melihatnya hidup terakhir kali.

“Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang

tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam.”

Contoh ketiga,

Bangunan itu cukup tinggi.

Monas

Hotel berbintang lima itu terdiri atas 25 lantai, tinggi totalnya menyamai Menara

Bagaimana dengan yang ini?

Ahmad seorang petani miskin.

Dijelaskan seperti berikut ini.

Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap rumbia. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.

Setelah kita menyimak sejumlah contoh tersebut, muncul pernyataan apakah dengan cara melukis kata itu membuat seorang penulis akan terbantu dan memperlancar proses menulis? 

Ya, tentu saja. Selain membantu penulis, terutama penulis pemula saat kehilangan ide atau gagasan saat memulai atau menyelesaikan tulisan. Banyak penulis yang kehilangan kata-kata dan merasa mandeg atau terhenti saat sedang menulis. Kondisi ini sering menjadi hambatan atau penghalang bagi penulis untuk menyelesaikan tulisan. Maka dengan cara melukis kata, menggambarkan semua kondisi yang ada di suatu daerah, seperti halnya di daerah bencana. 

Kita bisa mengambil contoh lain, yang menggambarkan pada semakin kurangnya pemerintah terhadap nasib dan masa depan korban bencana ekologis di Aceh. Dalam konteks melukis kata, penulis tidak akan menulis seperti ini. “ Pemerintah Tidak serius menangani daerah bencana. 

Untuk konteks ini, penulis yang menggunakan pendekatan melukis kata, akan memaparkan seperti ini. Timbunan lumpur yang menimbun rumah-rumah penduduk setelah banjir yang terjadi pada tanggal 25 November 2025 semakin keras, karena mengering. Masyarakat atau pemilik rumah terpaksa mengerjakan atau mengeruk lumpur kering itu dengan menggunakan cangkul. Sudah hampir satu bulan lamanya mereka menggali dan membuang tanah lumpur itu dari rumah mereka. Setiap hari keringat di badan mengucur deras dari tubuh-tubuh kurus.

Sudah lebih dua minggu mereka menunggu bantuan alat berat dari pemerintah yang tak kunjung datang.

Nah, tulisan di atas sebenarnya mengandung kritik terhadap pemerintah, namun disampaikan atau dilukiskan dengan kata-kata yang bukan kata sifat, dengan cara yang lebih lembut, tidak menyakitkan pihak pemerintah. Inilah kelebihan dari pendekatan menulis dengan melukis kata.

Apakah anda selama ini dalam menulis lebih banyak mengatakan dengan menggunakan kata sifat dari pada melukis kata? Silakan periksa tulisan masing-masing.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
9 Feb 2026 • 59x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
198
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00