POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Sandaran yang Patah

Asmaul HusnaOleh Asmaul Husna
February 14, 2026
Sandaran yang Patah
🔊

Dengarkan Artikel

Bagian 1

Oleh  Asmaul Husna

Inong Literasi

“Maaf Bu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi takdirberkata lain”

Suara pelan dokter terdengar bagai guntur yang memekakkan telinga Salamah. Salim, suami yang dicintainya sepenuh hati pergi meninggalkannya, tak akan pernah kembali. Kematian begitu dekat, bahkan tak mengenal kata permisi. 

“Abang pergi ya, jaga anak-anak” suara Salim tadi pagi masih terngiang di telinga.

“Apa sih Bang, seperti tidak kembali lagi”. Salim hanya membalas dengan senyum, dan ternyata itu adalah senyum terakhirnya pada dunia.

“Maaf Bu, untuk jenazahnya akan diurus di rumah sakit atau langsung dibawa pulang?” Suara perawat membuatnya tersadar, dalam keadaan apapun keputusan tetap harus diambil.

“Langsung dibawa pulang saja” jawab Salamah dengan suara yang tercekat. 

Kediaman mungilnya yang asri telah dipenuhi tetangga yang terus berdatangan. 

“Mak, bapak di mana? Adek mau jumpa bapak” pertanyaan Hasan putra bungsunya yang belum genap berumur dua tahun kembali meluruhkan tetesan bening dari kedua matanya, juga dari puluhan pasang mata yang ada di sana. Salamah tak mampu menjawab, hanya mendekap sang putra lebih erat. 

Hari-hari berikutnya Salamah lalui dalam sepi, melangkah dalam kegamangan. Sanggupkah ia membesarkan enam buah hatinya seorang diri? Tanpa kekasih, sandaran yang kini telah patah. Pagi itu Salim pamit untuk mencari nafkah, hingga kabar kecelakaan itu datang membawa pergi harapan yang telah retak. 

Salim berangkat bersama Syahdan sahabat karibnya. Mereka adalah sopir dan kernet yang biasa membawa para penumpang untuk berbelanja pada hari pekan ke kota. Pagi itu Syahdan yang mengendarai atas permintaan Salim sang pemilik mobil.”Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kernet” begitu alasannya. Tiba di sebuah tanjakan, tiba-tiba mobil bak terbuka itu oleng dan Salim pun terjatuh tanpa bisa dicegah, ia benar-benar pergi sebelum sempat membawa para penumpang. 

Beberapa hari setelahnya, persidangan pun digelar dan hasilnya Syahdan dinyatakan bersalah menghilangkan nyawa Salim akibat kelalaian, dan ia harus mendekam beberapa waktu di dalam sel.

“Bang, tolong antarkan Aku ke lembaga pemasyarakatan tempat Syahdan ditahan, aku ingin bertemu dengannya” Pinta Salamah suatu hari pada Isa, Abang tertuanya. 

“Ada perlu apa? Biar Abang saja yang menyampaikan”

“Tidak Bang, biar aku saja”

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Hj. Juariah

Indonesia Siap Menantang Takdir

Diperlukan BRR Baru Untuk Aceh,Sumut dan Sumbar

Prof. Andi Mustari Pide : Saya Siapkan Kamu Jadi Rektor

“Baiklah kalau begitu” balas Isa

Dalam rintik hujan yang membasahi bumi, roda kendaraan peninggalan Salim dikendarai Isa melaju dengan tenang, tapi tidak mampu membuat hati Salamah teduh. Detak jantungnya kian bergemuruh. 

Tepatkah keputusan yang akan ia ambil? Bagaimana kalau keluarga besarnya tidak menyetujui? Namun salamah sudah bertekat apapun yang terjadi ia sudah siap. Sebab rasa bersalah ini kian menghantui dan ia sendiri yang menanggung, bukan keluarga besarnya. “Aku berhak memutuskan apapun yang menyangkut dengan hidupku” suara batinnya menguatkan. Ia tidak ingin lebih banyak lagi anak yang akan menyandang gelar yatim, mesti bukan yatim yang sesungguhnya.

“Pak, Aku mohon penghuni lapas atas nama Syahdan dibebaskan, aku yakin apa yang sudah terjadi bukanlah kesengajaan dan Aku atas nama keluarga sudah memaafkannya” dengan suara pelan dan tegas Salamah memulai mengutarakan niat hatinya pada kepala lapas. 

“Salamah, benarkah itu”? Kaget Isa, walau ia yang selama ini menemani hari-hari duka Salamah, tapi tak pernah mampu menyelami kedalaman hatinya. 

“Benar Bang, kuharap Abang jangan menghalanginya” 

“Mengapa? Apakah ada yang mengintimidasimu? Abang harus memastikan itu” 

“Tidak Bang, sama sekali tidak, ini murni keinginanku” 

“Tapi mengapa? Tolong beri penjelasan dan alasan yang tak terbantahkan”

“Bang, selama apapun Syahdan ditahan tetap tidak akan membuat Bang Salim kembali hidup. dan tidak membuat status yatim yang kini disandang anak-anak berubah. Semua ini kulakukan demi Bang Salim, kumencoba membalas kebaikannya yang seluas samudra. Kuberharap apa yang kulakukan ini bisa menjadi teman baik bang Salim yang menemaninya di alam kubur. Dan Aku juga tidak ingin anak-anaknya Syahdan mengalami nasib yang sama dengan anak-anakku, menjadi yatim, meski bukan yatim yang sesungguhnya”. Jelas Salamah dengan air mata yang siap tumpah.

“Baik Bu, Kalau memang sudah menjadi keputusan ibu” Jawab kepala lapas “Tapi segala administrasinya harus kita selesaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari” lanjutnya. Salamah hanya membalas dengan anggukan.

Di tengah pendar sinar mentari yang berwarna jingga, kebahagiaan tak terkira sedang menyelimuti hati Syahdan. Di ujung senja itu, ia akan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta, setelah terpisah beberapa waktu disebabkan kesalahan yang tak pernah ia rencanakan. Ia kembali bisa menghirup udara kebebasan. Sungguh, ini sulit dipercaya bagaimana mungkin Salamah yang telah berstatus janda karena kelalaiannya bisa mengeluarkannya dari tahanan? Terbuat dari apakah hatinya? Sungguh beruntung Salim pernah memilikinya. 

Sejak saat itu Syahdan bertekad akan melakukan sesuatu setiap menjelang puasa dan lebaran tiba. Ia akan memberikan sedikit paket berisi sembako dan daging untuk menyambut meugang sebagai sebuah tradisi turun temurun menjelang Ramadhan dan lebaran tiba. Hingga menjelang Ramadhan ketiga setelah kepergian Salim. Syahdan datang tidak seperti biasanya. Dia datang dengan beberapa temannya dan dengan buah tangan yang berlimpah. Syahdan datang untuk melamar Salamah.

“Izinkan aku ikut membesarkan anak yang tak lagi berayah karena ulahku” tutur Syahdan. “Untuk menebus kesalahanku, dan untuk membalas kebaikanmu atas kebesaran jiwamu membebaskanku. Jika tidak, entah bagaimana kelangsungan hidup keluargaku”

Rentetan kalimat itu terdengar seperti letusan gunung Merapi bagi Salamah. Nafasnya tersengal hebat seperti baru saja ia berlari menghindar dari kenyataan. Ingin ia langsung menjawab tegas bahwa ia tidak bersedia, tapi entah mengapa bibirnya terasa kelu. 

“Aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang” Sambung Syahdan seakan tahu kerisauan hati Salamah. “Aku tahu ini pilihan yang sulit, sebab nantinya engkau akan menjadi yang kedua bersanding dengan ibu dari anak-anakku.Tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa dia sudah merestuinya, ia telah membuka hatinya untuk menerimamu” jelas Syahdan panjang lebar.

Salamah tidak boleh gegabah memberikan jawaban. Meski dia tahu apa yang harus dijawabnya. Namun terbersit keraguan terhadap jawaban yang telah ia punya setelah mendengar beberapa kerabatnya memberi masukan. 

“Sebaiknya kamu terima saja lamaran Syahdan, kamu tidak boleh bersikap egois, mempertahankan cintamu pada sosok yang telah lama pergi” jelas Kak Mah, sepupunya.

“Kamu juga harus memperhatikan anak-anak, mereka butuh sosok ayah” lanjut Kak Mah. “Harus kah aku menyambung kembali sandaran yang telah patah”? Bisik hati Salamah 

“Istikharah lah Nak” petuah Nek Basyariah, ibunya Salamah suatu hari. “Allah yang lebih tahu apa yang terbaik buat kitaNak” lanjut ibunya.

Petuah itu bagai oase di gurun pasir bagi Salamah, meski jauh di kedalaman hatinya, sungguh ia berharap hasil istikharah sama dengan keinginannya, menolak lamaran itu. Bagaimanapun ia tahu tidak ada perempuan yang benar-benar rela berbagi kasih, jikapun ada itu hanya lahirnya tapi tidak dengan batinnya. 

Apakah Salamah menerima lamaran itu? Bagaimana petunjuk dari istikharahnya? 

Selengkapnya di episode berikutnya

Terinspirasi dari kisah nyata

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00