HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

MBG vs Guru Honorer

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Februari 11, 2026
in # Ironi, #Anggaran Pendidikan, #Pendidikan, Guru Honorer, MBG, Politik Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
MBG vs Guru Honorer
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Ada yang ganjil, mungkin juga perih, dalam cara kita merawat masa depan hari ini. Kita seolah sedang menonton sebuah teater besar di mana lampu sorot hanya jatuh pada piring-piring yang dentingnya memenuhi ruang publik.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Makan Bergizi Gratis (MBG)—sebuah tajuk yang luhur, sebuah niat yang di atas kertas tampak seperti pelukan bagi anak-anak bangsa yang barangkali berangkat sekolah dengan perut yang hanya berisi doa dan segelas air putih. Anggaran jumbo digelontorkan, puluhan triliun rupiah bergerak seperti arus sungai yang meluap.


Namun, jika kita melangkah ke belakang panggung, kita melihat pemandangan yang tak sepenuhnya puitis. Program ini mulai bergeser menjadi komoditas politik yang menggiurkan. Di sana, di pucuk yayasan mitra, duduk para pemegang kuasa yang akrab dengan seragam partai. Gaji pengelolanya melonjak tinggi, melupakan gravitasi ekonomi pasar.


Kita mungkin teringat pada memoar Orde Lama, zaman di mana guru diletakkan di atas altar penghormatan. Kala itu, guru adalah kelas menengah yang sejahtera. Gajinya cukup untuk menghidupi keluarga dan membeli buku bermutu. Hasilnya? Lahirlah generasi emas yang pemikirannya menggetarkan dunia. Sebab, ada kebenaran purba di sana: bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajarkan kemerdekaan berpikir jika perutnya sendiri masih terjajah rasa lapar?


Mengapa jurang finansial ini begitu dalam? Jawabannya ada pada sifat politik kita yang transaksional. Program MBG menjadi primadona karena ia memiliki “gigi” politik; ada konstituen yang bisa dipelihara dan citra yang bisa dipamerkan setiap hari. Sementara guru honorer? Mereka adalah barisan sunyi yang tak punya daya tawar politik bising. Mereka tidak mengelola proyek pengadaan barang yang “basah”. Mereka hanya mengelola masa depan—sesuatu yang hasilnya baru terlihat dua puluh tahun lagi, durasi yang terlalu lama bagi ingatan pendek para politisi.


Ketimpangan ini adalah sebuah maladministrasi jiwa. Kita memberikan piring penuh gizi kepada murid, namun membiarkan guru yang menyuapinya hidup dalam kekurangan yang merendahkan. Ini laksana membangun jembatan emas, namun membiarkan tiang pancangnya keropos dimakan rayap ketidakadilan. Jika guru honorer terabaikan karena dianggap tak punya “nilai politik”, kita sedang menggadaikan kualitas peradaban demi kepentingan fana.


Maka, dibutuhkan solusi yang lebih dari sekadar belas kasihan. Kita memerlukan keberanian melakukan “Depolitisasi Perut”. Pengelolaan MBG harus ditarik dari yayasan yang berkelindan dengan partai politik dan dikembalikan kepada sistem profesional transparan. Gaji jumbo para kroni harus dipangkas radikal. Surplus dari efisiensi itu harus dialihkan secara otomatis untuk menambal lubang kesejahteraan guru honorer melalui skema tunjangan pengabdian yang layak.

Kita tidak butuh kurator makan siang bergaji setingkat direktur jika guru masih harus menjadi ojek daring di malam hari.
Kedua, kita harus menciptakan sistem di mana kesejahteraan guru menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan. Harus ada pergeseran paradigma: bahwa gaji guru adalah investasi infrastruktur manusia, bukan biaya rutin yang membebani.

Kita menuntut regulasi yang mengunci standar upah guru setara kelayakan hidup kelas menengah, agar profesi ini kembali menjadi dambaan anak-anak terbaik bangsa.


Pada akhirnya, adab harus berdiri di atas kepentingan politik. Memberi makan anak adalah adab, namun memuliakan guru adalah akar dari peradaban. Jangan sampai kita memiliki generasi berbadan tegap karena gizi cukup, namun berjiwa kerdil karena dididik oleh guru yang jiwanya layu oleh ketidakadilan. Hidup bukanlah tentang angka di rekening tim sukses, melainkan tentang seberapa adil kita membagi keberkahan negara untuk mereka yang benar-benar berjasa dalam sunyi. Sebab di atas piring yang kosong, puisi tentang masa depan takkan pernah bisa dituliskan dengan indah. (AN)


Tentang Penulis :
Aswan Nasution, saat ini bertempat tinggal di Serbelawan Ni Huta, Sebuash kota kecil di Kabipaten Simalungun, Sumatera Utara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Aktif menulis opini, esai budaya, dan artikel reflektif tentang kehidupan sosial masyarakat. Tulisannya berfokus pada Hukum, isu budaya, humor lokal dan perubahan sosial di Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 246x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 230x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
Next Post

Kecerdasan Tanpa Nurani

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com