Dengarkan Artikel
Refleksi Kritis atas Dunia Ketiga dan Dunia Islam dalam Hegemoni Barat
Oleh Dayan Abdurrahman
Ilusi Keadilan Global
Kita hidup di dunia yang mengklaim dirinya modern, beradab dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Namun, di balik bahasa-bahasa indah tentang demokrasi dan kebebasan, jutaan manusia di dunia ketiga—terutama bangsa-bangsa Muslim—hidup dalam derita yang berkepanjangan. Pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu: mengapa penderitaan itu tampak sah, bahkan dinormalisasi, ketika dialami oleh mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan Barat?
Hari ini, tatanan global digerakkan oleh segelintir negara kuat: Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan sekutunya. Mereka bukan sekadar aktor politik, melainkan arsitek sistem dunia—menentukan siapa yang layak dibela dan siapa yang boleh dikorbankan. Dunia tidak lagi diukur dari keadilan, melainkan dari kepentingan.
Kapitalisme sebagai Agama Baru
Barat hari ini tidak bisa dipahami hanya sebagai entitas budaya. Ia adalah mesin kekuasaan global yang ditopang oleh kapitalisme, militerisme, dan kontrol narasi. Lembaga-lembaga seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan Dewan Keamanan PBB bekerja dengan satu logika: stabilitas bagi yang kuat, ketergantungan bagi yang lemah.
Lebih dari 70 persen negara miskin dunia merupakan bekas koloni Barat. Mayoritas berada di Asia, Afrika, dan dunia Muslim. Ini bukan kebetulan sejarah, melainkan jejak sistemik penjajahan yang berubah rupa. Jika dulu penjajahan dilakukan dengan senjata dan bendera, hari ini ia dilakukan dengan utang, sanksi, dan standar global yang mematikan kemandirian.
Dalam logika kapitalisme global, moral tunduk pada keuntungan. Perang bukan tragedi, tetapi peluang bisnis. Industri senjata di Amerika dan Eropa meraup ratusan miliar dolar dari konflik di Timur Tengah. Dalam sistem ini, nyawa manusia memiliki harga—dan sayangnya, nyawa Muslim sering dihargai paling murah.
Muslim sebagai Ancaman Permanen
Sejak peristiwa 11 September 2001, Islam tidak lagi diposisikan sebagai agama, melainkan sebagai ancaman peradaban. Gagasan Clash of Civilizations yang dipopulerkan Samuel P. Huntington menjelma menjadi legitimasi kebijakan luar negeri Barat.
Afghanistan dibombardir selama dua dekade. Irak dihancurkan tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush dengan alasan senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan. Lebih dari satu juta warga sipil tewas, dan tak satu pun aktor utama diadili. Suriah, Libya, Yaman—semuanya menjadi laboratorium penderitaan.
Data konflik global menunjukkan bahwa sekitar 60 persen korban perang dunia adalah Muslim, padahal populasi Muslim hanya seperempat penduduk bumi. Ini bukan kebetulan, ini pola kekerasan struktural.
Ketika Nyawa Dinilai Berdasarkan Identitas
📚 Artikel Terkait
Palestina adalah cermin paling jujur dari kemunafikan global. Israel, sebagai kekuatan pendudukan, selalu diberi ruang untuk membela diri. Sementara Palestina, korban penjajahan, diminta untuk menahan diri.
Ketika Ukraina diserang Rusia, dunia bergerak cepat: sanksi, embargo, solidaritas. Ketika Gaza dibombardir, dunia berdalih: “konflik ini kompleks.” Kompleks bagi siapa? Bagi mereka yang jauh dari reruntuhan dan darah.
Di sinilah terlihat jelas bahwa tatanan global hari ini tidak menjunjung kemanusiaan universal, melainkan kemanusiaan selektif.
Etika, Ilmu, dan Keadilan Sosial
Sejarah Islam bukan sejarah malaikat, tapi ia menawarkan paradigma yang berbeda. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Islam datang membebaskan budak, memuliakan perempuan, dan menegakkan keadilan sosial. Iman tidak dipaksakan, tetapi diajak.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem ditaklukkan tanpa pembantaian. Gereja dilindungi, pendeta dihormati. Di bawah Dinasti Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat ilmu dunia. Di Andalusia, Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan, melahirkan Ibn Sina, Ibn Rushd, dan Musa bin Maimun.
Bahkan sejarawan Barat seperti Gustave Le Bon mengakui bahwa peradaban Islam membawa toleransi yang tidak dikenal Eropa abad pertengahan. Islam unggul bukan karena pedang, tetapi karena etika dan ilmu.
Pengkhianatan Elite dan Rapuhnya Struktur
Namun kejujuran menuntut kita bercermin. Dunia Islam hari ini tidak hanya menjadi korban, tetapi juga korban dari dirinya sendiri. Banyak raja, elite, dan penguasa Muslim lebih setia pada kepentingan Barat daripada pada rakyatnya.
Negara-negara kaya sumber daya tetap miskin secara struktural. Minyak diekspor, sementara kemiskinan diimpor. Ketergantungan dibiarkan, bahkan dirawat. Inilah kolonialisme yang dibantu oleh penguasa lokal.
Tanpa pembenahan internal—ilmu, integritas, dan keadilan—umat Islam akan terus menjadi objek dalam permainan global.
Menunggu Peradaban yang Berhati Nurani
Tatanan global hari ini tidak dibangun di atas kebenaran, melainkan kekuatan. Yang kuat mendikte, yang lemah menanggung akibat. Jika keadilan didefinisikan sebagai kesetaraan, maka dunia ini gagal total.
Namun sejarah mengajarkan satu hal: tak ada peradaban abadi. Barat akan diuji oleh nilai yang ia khianati sendiri. Kapitalisme tanpa moral akan melahirkan kehancurannya sendiri.
Penutup: Dari Luka Menuju Kesadaran Baru
Islam, Kemanusiaan, dan Harapan Dunia
Tulisan ini bukan ajakan membenci Barat sebagai manusia, melainkan kritik terhadap sistem global yang kehilangan nurani. Islam tidak diturunkan untuk mendominasi, tetapi untuk memanusiakan.
Jika dunia ingin selamat dari siklus kekerasan, ia membutuhkan peradaban yang kembali berpihak pada manusia—bukan modal. Dan mungkin, luka-luka bangsa hari ini adalah isyarat bahwa dunia sedang mencari kembali nilai yang pernah ditawarkan Islam: keadilan, belas kasih, dan martabat manusia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






