• Latest
NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

Februari 10, 2026
IMG_0523

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

Redaksi by Redaksi
Februari 10, 2026
in Artikel, Pendidikan
Reading Time: 5 mins read
0
NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Martondi Heritage Id

Seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pulpen seharga Rp10.000.

Ayo, kamu ulangi pelan-pelan, kalau perlu sambil menahan mual: Rp10.000.

Bukan karena narkoba.
Bukan karena perang.
Bukan karena bencana alam.

Tapi karena alat tulis.
Di titik inilah, semua jargon negara—tentang Indonesia Maju, SDM Unggul, bonus demografi, pendidikan inklusif—berubah menjadi lelucon gelap yang kejam.

Anak Itu Tidak Mati Karena Miskin
Ia Mati Karena Malu

Anak-anak tidak lahir dengan konsep:
“Aku gagal sebagai manusia karena aku tidak mampu.”

Itu bukan naluri biologis.
Itu produk sosial.

Seorang anak SD sampai berpikir bahwa kemiskinannya adalah kesalahan moral, bahwa ketidakmampuannya membeli alat tulis membuatnya pantas dihukum—bahkan oleh dirinya sendiri.

Artinya apa?

Artinya sistem pendidikan kita berhasil mendidik anak miskin untuk membenci dirinya sendiri.

Pendidikan Kita Sibuk Mengajar, Tapi Gagal Melindungi

Sekolah dasar seharusnya adalah ruang aman kedua setelah rumah.

Dalam praktiknya, ia sering menjelma menjadi ruang seleksi sosial paling awal.

Tidak punya buku?
Tidak lengkap?
Tidak siap?
Malu.

Bukan negara yang malu.
Bukan sistem yang malu.
Anaknya yang malu.

Inilah kekerasan paling licik:
kekerasan simbolik.

Tidak ada pukulan.
Tidak ada darah.
Tidak ada pelaku tunggal.

Yang ada hanyalah:
standar,
kewajiban,
kurikulum,
dan kalimat klasik: “Ini sudah aturannya.”

Negara Hadir dalam Angka, Absen sebagai Manusia.

Secara administratif, negara akan segera menjawab:
Ada BOS
Ada KIP
Ada Bansos
Ada laporan
Ada indikator

Semua rapi.
Semua tercatat.
Tapi di antara laporan dan indikator itu, seorang anak mati karena Rp10.000.

Ini bukan kegagalan teknis.
Ini kegagalan moral.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
1001386795_11zon (1)

Kapal Induk “Gratis” Dari Italia?!

Maret 27, 2026

Negara boleh salah hitung anggaran.
Negara boleh salah desain kebijakan.

Tapi negara tidak punya hak moral untuk gagal melindungi anak.

Anak injtidak pernah menandatangani kontrak sosial.
Ia tidak memilih lahir miskin.
Ia tidak memilih sekolah dengan sistem yang dingin.

Justru karena itulah, kewajiban negara berlipat ganda.

Pendidikan Kita Masih Berwatak Kolonial

Mari jujur.
Pendidikan di negeri ini masih membawa DNA lama:
memilah,
meranking,
mendisiplinkan lewat malu,
menyamakan semua anak dengan penggaris yang sama.

Pendidikan kolonial dulu bertugas mencetak pegawai patuh.

Pendidikan hari ini mencetak statistik yang patuh.

Yang tidak sesuai standar dianggap:
malas,
bodoh,
tidak siap,
tidak layak.

Struktur tidak pernah disalahkan.
Kemiskinan tidak pernah dianggap konteks.
Anaknya yang memikul beban eksistensial.

Guru Dijadikan Operator, Bukan Penjaga Martabat
Ini bukan tuduhan personal kepada guru.
Justru sebaliknya.

Guru dijebak oleh:
target,
administrasi,
kurikulum,
evaluasi formal.
Empati dikalahkan oleh prosedur.
Manusia dikalahkan oleh formulir.

Sistem berhasil melakukan satu hal dengan sangat efektif: menghilangkan tanggung jawab personal sambil mempertahankan kekerasan struktural.

Inilah yang Hannah Arendt sebut sebagai banality of evil—kejahatan yang tidak terasa jahat karena dilakukan “sesuai aturan”.
Rp10.000 Itu Kecil, Tapi Maknanya Telanjang

Rp10.000 adalah:
uang parkir,
uang rokok,
uang kembalian belanja.

Jika Rp10.000 cukup untuk membuat seorang anak merasa hidupnya tidak layak, maka masalahnya bukan kemiskinan semata, melainkan negara yang gagal menjamin martabat warganya yang paling lemah.

Negara ini tidak miskin uang.
Negara ini miskin keberanian moral.

ADVERTISEMENT

Republik yang Pandai Pidato, Tapi Gagap Saat Harus Hadir.
Pandai membuat visi 2045.
Pandai bicara bonus demografi.
Pandai mengutip indeks dan grafik.
Tapi semuanya hanyalah disusun orang – orang yang pandai mungkin mengutip sana sini, tanpa mengetahui kondisi lapangan. Tidak pernah riset secara benar. Hanya di susun oleh orang – orang yang berwatak birokrat yang korup.

Tapi kita gagap saat harus menjawab pertanyaan paling sederhana:
Bagaimana memastikan seorang anak bisa masuk kelas tanpa rasa takut?

Jika pertanyaan itu saja gagal dijawab,
maka semua visi besar hanyalah poster mahal di dinding rumah yang bocor.

Penutup : Negara Rp10.000

Anak ini tidak mati karena satu sekolah yang gagal. Ia mati karena satu sistem.

Dan selama tragedi seperti ini:
hanya dijadikan berita sesaat,
ditutup dengan belasungkawa formal,
tanpa perubahan struktural,
maka kita tidak sedang membangun bangsa.

Kita sedang menormalkan kekerasan dengan bahasa sopan.

Sebuah negara yang membiarkan anak mati karena Rp10.000, lalu tetap berani bicara tentang masa depan, bukan sedang bermimpi— ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.

Dan barangkali, itulah pelajaran paling jujur yang diwariskan kepada anak-anak kita hari ini.

MHI

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 267x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 156x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 147x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0523
Sejarah

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026
Pendidikan karakter

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077
Antologi Puisi

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
Next Post
Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com