POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

RedaksiOleh Redaksi
February 10, 2026
NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Martondi Heritage Id

Seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pulpen seharga Rp10.000.

Ayo, kamu ulangi pelan-pelan, kalau perlu sambil menahan mual: Rp10.000.

Bukan karena narkoba.
Bukan karena perang.
Bukan karena bencana alam.

Tapi karena alat tulis.
Di titik inilah, semua jargon negara—tentang Indonesia Maju, SDM Unggul, bonus demografi, pendidikan inklusif—berubah menjadi lelucon gelap yang kejam.

Anak Itu Tidak Mati Karena Miskin
Ia Mati Karena Malu

Anak-anak tidak lahir dengan konsep:
“Aku gagal sebagai manusia karena aku tidak mampu.”

Itu bukan naluri biologis.
Itu produk sosial.

Seorang anak SD sampai berpikir bahwa kemiskinannya adalah kesalahan moral, bahwa ketidakmampuannya membeli alat tulis membuatnya pantas dihukum—bahkan oleh dirinya sendiri.

Artinya apa?

Artinya sistem pendidikan kita berhasil mendidik anak miskin untuk membenci dirinya sendiri.

Pendidikan Kita Sibuk Mengajar, Tapi Gagal Melindungi

Sekolah dasar seharusnya adalah ruang aman kedua setelah rumah.

Dalam praktiknya, ia sering menjelma menjadi ruang seleksi sosial paling awal.

Tidak punya buku?
Tidak lengkap?
Tidak siap?
Malu.

Bukan negara yang malu.
Bukan sistem yang malu.
Anaknya yang malu.

Inilah kekerasan paling licik:
kekerasan simbolik.

Tidak ada pukulan.
Tidak ada darah.
Tidak ada pelaku tunggal.

Yang ada hanyalah:
standar,
kewajiban,
kurikulum,
dan kalimat klasik: “Ini sudah aturannya.”

Negara Hadir dalam Angka, Absen sebagai Manusia.

Secara administratif, negara akan segera menjawab:
Ada BOS
Ada KIP
Ada Bansos
Ada laporan
Ada indikator

📚 Artikel Terkait

ROMANSA ZAINAB BINTI MUHAMMAD SAW

Sidang Ijazah Palsu, Jokowi Tak Hadir Lagi

Aceh Butuh Komando Tunggal Darurat Banjir: Saatnya Bertindak, Bukan Rapat

Dia Bernama Hasbi

Semua rapi.
Semua tercatat.
Tapi di antara laporan dan indikator itu, seorang anak mati karena Rp10.000.

Ini bukan kegagalan teknis.
Ini kegagalan moral.

Negara boleh salah hitung anggaran.
Negara boleh salah desain kebijakan.

Tapi negara tidak punya hak moral untuk gagal melindungi anak.

Anak injtidak pernah menandatangani kontrak sosial.
Ia tidak memilih lahir miskin.
Ia tidak memilih sekolah dengan sistem yang dingin.

Justru karena itulah, kewajiban negara berlipat ganda.

Pendidikan Kita Masih Berwatak Kolonial

Mari jujur.
Pendidikan di negeri ini masih membawa DNA lama:
memilah,
meranking,
mendisiplinkan lewat malu,
menyamakan semua anak dengan penggaris yang sama.

Pendidikan kolonial dulu bertugas mencetak pegawai patuh.

Pendidikan hari ini mencetak statistik yang patuh.

Yang tidak sesuai standar dianggap:
malas,
bodoh,
tidak siap,
tidak layak.

Struktur tidak pernah disalahkan.
Kemiskinan tidak pernah dianggap konteks.
Anaknya yang memikul beban eksistensial.

Guru Dijadikan Operator, Bukan Penjaga Martabat
Ini bukan tuduhan personal kepada guru.
Justru sebaliknya.

Guru dijebak oleh:
target,
administrasi,
kurikulum,
evaluasi formal.
Empati dikalahkan oleh prosedur.
Manusia dikalahkan oleh formulir.

Sistem berhasil melakukan satu hal dengan sangat efektif: menghilangkan tanggung jawab personal sambil mempertahankan kekerasan struktural.

Inilah yang Hannah Arendt sebut sebagai banality of evil—kejahatan yang tidak terasa jahat karena dilakukan “sesuai aturan”.
Rp10.000 Itu Kecil, Tapi Maknanya Telanjang

Rp10.000 adalah:
uang parkir,
uang rokok,
uang kembalian belanja.

Jika Rp10.000 cukup untuk membuat seorang anak merasa hidupnya tidak layak, maka masalahnya bukan kemiskinan semata, melainkan negara yang gagal menjamin martabat warganya yang paling lemah.

Negara ini tidak miskin uang.
Negara ini miskin keberanian moral.

Republik yang Pandai Pidato, Tapi Gagap Saat Harus Hadir.
Pandai membuat visi 2045.
Pandai bicara bonus demografi.
Pandai mengutip indeks dan grafik.
Tapi semuanya hanyalah disusun orang – orang yang pandai mungkin mengutip sana sini, tanpa mengetahui kondisi lapangan. Tidak pernah riset secara benar. Hanya di susun oleh orang – orang yang berwatak birokrat yang korup.

Tapi kita gagap saat harus menjawab pertanyaan paling sederhana:
Bagaimana memastikan seorang anak bisa masuk kelas tanpa rasa takut?

Jika pertanyaan itu saja gagal dijawab,
maka semua visi besar hanyalah poster mahal di dinding rumah yang bocor.

Penutup : Negara Rp10.000

Anak ini tidak mati karena satu sekolah yang gagal. Ia mati karena satu sistem.

Dan selama tragedi seperti ini:
hanya dijadikan berita sesaat,
ditutup dengan belasungkawa formal,
tanpa perubahan struktural,
maka kita tidak sedang membangun bangsa.

Kita sedang menormalkan kekerasan dengan bahasa sopan.

Sebuah negara yang membiarkan anak mati karena Rp10.000, lalu tetap berani bicara tentang masa depan, bukan sedang bermimpi— ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.

Dan barangkali, itulah pelajaran paling jujur yang diwariskan kepada anak-anak kita hari ini.

MHI

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 70x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00