HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Batasan yang Menjaga Cinta.

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Februari 10, 2026
in Cinta
Reading Time: 3 mins read
0
Batasan yang Menjaga Cinta.
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Aswan Nasution

Ada satu kesalahpahaman yang sering kita pelihara diam-diam: bahwa cinta sejati adalah kebebasan tanpa pagar. Bebas pergi ke mana saja, bebas bersikap apa saja, bebas menjadi siapa saja tanpa perlu menjelaskan apa pun. Kita menyebutnya dewasa. Padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari tanggung jawab.

Hubungan yang sesungguhnya justru dimulai ketika dua orang berani menarik garis. Garis yang tidak dimaksudkan untuk membatasi langkah, melainkan menjaga agar langkah itu tidak saling menginjak. Karena dua manusia, sebaik apa pun niatnya, tetap membawa ego, luka lama, dan cara pandang yang berbeda.

Kebebasan mutlak memang terdengar indah. Tapi kebebasan semacam itu hanya mungkin dimiliki oleh orang yang hidup sendirian. Tanpa pasangan. Tanpa ikatan. Tanpa komitmen. Begitu seseorang memutuskan untuk berbagi hidup, ia sadar atau tidak, sedang menyerahkan sebagian kebebasannya. Bukan karena dipaksa. Melainkan karena memilih.

Di situlah letak penghormatan. Pada pasangan. Pada hubungan. Pada janji yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi dirasakan lewat sikap.

Aturan dalam sebuah hubungan sering dipersepsikan sebagai belenggu. Padahal ia lebih mirip pagar di tepi jurang. Pagar itu tidak menghalangi kita menikmati pemandangan, justru memastikan kita tidak jatuh. Tanpa pagar, yang ada bukan keberanian, melainkan kecerobohan.

Dua ego yang berjalan tanpa batas akan saling berbenturan. Saling menuntut. Saling merasa paling benar. Dan ketika itu terjadi, cinta tidak lagi menjadi rumah, melainkan arena pertarungan. Siapa yang lebih dominan. Siapa yang harus mengalah. Siapa yang akhirnya lelah lebih dulu.

Kedewasaan dalam menjalin kasih tidak diukur dari seberapa bebas kita bergerak, tetapi dari seberapa ikhlas kita menjaga batas yang telah disepakati. Bukan dengan wajah masam. Bukan dengan perasaan terpaksa. Melainkan dengan rasa syukur karena ada sesuatu yang layak dijaga.

Hubungan yang sehat membutuhkan peta. Kapan berjalan beriringan. Kapan berhenti sejenak memberi ruang. Kapan berbagi cerita. Kapan cukup diam dan mendengarkan. Tanpa peta itu, dua orang hanya akan tersesat di jalan yang sama, sambil saling menyalahkan arah.

Baca Juga

Tragedi Biologis Nasional Antara Ridwan Kamil, Lisa Mariana, dan Revelino

April 21, 2025
Bacaan Menjelang Lebaran.

Bacaan Menjelang Lebaran.

Maret 26, 2025
Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

Maret 12, 2025

Generasi hari ini sering keliru memaknai kebebasan dalam berpasangan. Kita ingin dicintai sepenuhnya, tapi enggan menyesuaikan langkah. Ingin dipahami, tapi malas menjelaskan. Ingin ditemani, tapi menolak diikat. Kita lupa bahwa kebersamaan selalu menuntut kompromi.

Jika seseorang belum siap menahan egonya, belum siap mengatur ulang kebiasaan pribadinya, mungkin kesendirian adalah pilihan yang lebih jujur. Bukan karena sendiri itu lebih mulia, melainkan karena memaksakan kebersamaan tanpa kesiapan hanya akan melahirkan kezaliman yang sunyi. Menyakitkan, tapi sering tak terlihat.

Cinta yang jernih tidak berisik soal kebebasan. Ia tenang merawat kesepakatan. Ia paham bahwa setiap kedekatan membawa konsekuensi. Setiap pelukan menyimpan tanggung jawab. Dan setiap aturan yang disepakati bersama bukanlah tanda kekurangan cinta, melainkan bukti bahwa cinta itu ingin bertahan.

Pada akhirnya, hubungan sejati bukan tentang siapa yang paling bebas. Melainkan siapa yang paling bersedia menjaga. Dengan sadar. Dengan lapang. Dengan hati yang dewasa.

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 250x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
Next Post
Untaian Puisi Julia Ikin

Untaian Puisi Julia Ikin

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com