POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Batasan yang Menjaga Cinta.

RedaksiOleh Redaksi
February 10, 2026
Batasan yang Menjaga Cinta.
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution

Ada satu kesalahpahaman yang sering kita pelihara diam-diam: bahwa cinta sejati adalah kebebasan tanpa pagar. Bebas pergi ke mana saja, bebas bersikap apa saja, bebas menjadi siapa saja tanpa perlu menjelaskan apa pun. Kita menyebutnya dewasa. Padahal sering kali itu hanya cara halus untuk menghindari tanggung jawab.

Hubungan yang sesungguhnya justru dimulai ketika dua orang berani menarik garis. Garis yang tidak dimaksudkan untuk membatasi langkah, melainkan menjaga agar langkah itu tidak saling menginjak. Karena dua manusia, sebaik apa pun niatnya, tetap membawa ego, luka lama, dan cara pandang yang berbeda.

Kebebasan mutlak memang terdengar indah. Tapi kebebasan semacam itu hanya mungkin dimiliki oleh orang yang hidup sendirian. Tanpa pasangan. Tanpa ikatan. Tanpa komitmen. Begitu seseorang memutuskan untuk berbagi hidup, ia sadar atau tidak, sedang menyerahkan sebagian kebebasannya. Bukan karena dipaksa. Melainkan karena memilih.

Di situlah letak penghormatan. Pada pasangan. Pada hubungan. Pada janji yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi dirasakan lewat sikap.

Aturan dalam sebuah hubungan sering dipersepsikan sebagai belenggu. Padahal ia lebih mirip pagar di tepi jurang. Pagar itu tidak menghalangi kita menikmati pemandangan, justru memastikan kita tidak jatuh. Tanpa pagar, yang ada bukan keberanian, melainkan kecerobohan.

Dua ego yang berjalan tanpa batas akan saling berbenturan. Saling menuntut. Saling merasa paling benar. Dan ketika itu terjadi, cinta tidak lagi menjadi rumah, melainkan arena pertarungan. Siapa yang lebih dominan. Siapa yang harus mengalah. Siapa yang akhirnya lelah lebih dulu.

📚 Artikel Terkait

“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

Seni sebagai Kesadaran Kemerdekaan

Siswa-Siswi SDIT Muhammadiyah Manggeng Berkunjung Rumah Yatim

Kedewasaan dalam menjalin kasih tidak diukur dari seberapa bebas kita bergerak, tetapi dari seberapa ikhlas kita menjaga batas yang telah disepakati. Bukan dengan wajah masam. Bukan dengan perasaan terpaksa. Melainkan dengan rasa syukur karena ada sesuatu yang layak dijaga.

Hubungan yang sehat membutuhkan peta. Kapan berjalan beriringan. Kapan berhenti sejenak memberi ruang. Kapan berbagi cerita. Kapan cukup diam dan mendengarkan. Tanpa peta itu, dua orang hanya akan tersesat di jalan yang sama, sambil saling menyalahkan arah.

Generasi hari ini sering keliru memaknai kebebasan dalam berpasangan. Kita ingin dicintai sepenuhnya, tapi enggan menyesuaikan langkah. Ingin dipahami, tapi malas menjelaskan. Ingin ditemani, tapi menolak diikat. Kita lupa bahwa kebersamaan selalu menuntut kompromi.

Jika seseorang belum siap menahan egonya, belum siap mengatur ulang kebiasaan pribadinya, mungkin kesendirian adalah pilihan yang lebih jujur. Bukan karena sendiri itu lebih mulia, melainkan karena memaksakan kebersamaan tanpa kesiapan hanya akan melahirkan kezaliman yang sunyi. Menyakitkan, tapi sering tak terlihat.

Cinta yang jernih tidak berisik soal kebebasan. Ia tenang merawat kesepakatan. Ia paham bahwa setiap kedekatan membawa konsekuensi. Setiap pelukan menyimpan tanggung jawab. Dan setiap aturan yang disepakati bersama bukanlah tanda kekurangan cinta, melainkan bukti bahwa cinta itu ingin bertahan.

Pada akhirnya, hubungan sejati bukan tentang siapa yang paling bebas. Melainkan siapa yang paling bersedia menjaga. Dengan sadar. Dengan lapang. Dengan hati yang dewasa.

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 147x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 121x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
193
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
91
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Untaian Puisi Julia Ikin

Untaian Puisi Julia Ikin

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00