Dengarkan Artikel
Puisi 1
IBU YANG MENJAHIT LUKA ACHEH
Ibu tidak sempat menutup jendela
banjir menggoncang tanpa amaran
di dadanya, anak kecil menggigil
seperti perahu kertas bergoncang dalam sungai deras.
Barang di dapur hanyut menghilang
makanan tenggelam, hiba suasana
ibu berjalan di jalan yang jadi laut
langkah lemah menanggung nasibnya.
Malam di pusat pemindahan berbau lumpur
selimut tipis seperti janji yang koyak
ibu menjahit luka dengan air mata
dan langit seakan membelenggu dadanya.
Bandar Baru Bangi
5.2.2026
Puisi 2
LANGIT NUSANTARA
Kita datang dari pulau berbeza
laut meminjamkan bahu birunya
📚 Artikel Terkait
perahu-perahu luka berlabuh bersama
tanpa menyoal warna bendera.
Di pelabuhan sepi
tangan asing menyuap nasi hangat
bahasa meniup angin lembut
menyapu debu di dada manusia.
Perjuangan kita seperti akar bakau
bersilang dalam lumpur sejarah
jika satu pulau tenggelam dalam tangis
seluruh langit nusantara turut merintih.
Ammet Jebat @2
Bandar Baru Bangi
22.1.2026
Puisi 3
MENEGUK SECANGKIR MALAM
Di warung kecil hujung lorong
dua insan menikmati secangkir malam
aroma teh bertebar tanpa kata
lalu mengikat dua hati yang remuk.
Kau ketawa, dinding kota runtuh seketika
aku bercerita, dan luka menjadi lagu
persaudaraan, tidak perlu sumpah setia
hanya roti dibelah dua dengan tangan yang jujur.
Di bawah lampu malap
kita menjadi sahabat
kerana dalam kehangatan teh
cinta adalah tanah air paling sederhana..
Ammet Jebat @3
Bandar Baru Bangi
6.2.2026
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






