Dengarkan Artikel
Membaca Luka Sejarah, Ekonomi Ekstraktif, dan Jalan Sunyi Menuju Kemandirian Pascakolonial
Oleh: Dayan Abdurrahman
Pengantar: Satu Fokus, Satu Pertanyaan Kunci
Mengapa Aceh—dengan sejarah panjang kekuasaan, sumber daya alam melimpah, dan status otonomi khusus—tetap berada dalam lingkaran kemiskinan struktural dan ketergantungan ekonomi?
Tulisan ini berangkat dari satu fokus analitis: Aceh bukan gagal karena kekurangan sumber daya atau identitas, melainkan karena terperangkap dalam rezim ekonomi ekstraktif yang dilindungi oleh imunitas moral negara pascakolonial dalam tatanan global. Selama masalah ini tidak dibaca secara jernih, Aceh akan terus bergerak di tempat—antara romantisme sejarah dan pragmatisme elite.
Aceh dan Reduksi Historis: Dari Subjek Global ke Objek Pembangunan
Dalam abad ke-16 hingga awal abad ke-19, Aceh merupakan aktor geopolitik penting di Asia Tenggara. Namun kolonialisme Belanda tidak sekadar menaklukkan wilayah, melainkan mengubah posisi Aceh dari subjek sejarah menjadi objek administrasi dan ekstraksi.
Perang Aceh (1873–1904) menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan struktur ekonomi lokal. Lebih penting lagi, kolonialisme mewariskan logika pembangunan ekstraktif: tanah sebagai komoditas, manusia sebagai tenaga murah, dan kekuasaan sebagai alat pengamanan investasi.
Logika inilah yang tidak pernah benar-benar diputus setelah kemerdekaan Indonesia.
Negara Pascakolonial dan Imunitas Moral Global
Dalam tatanan global pasca Perang Dunia II, negara-negara bekas koloni—termasuk Indonesia—mendapatkan imunitas moral politik. Negara dianggap sah selama:
- berdaulat secara formal,
- diakui internasional,
- menjaga stabilitas internal.
Konsekuensinya, kekerasan struktural di wilayah internal jarang dibaca sebagai pelanggaran serius selama negara tetap stabil dan pro-pasar global. Aceh berada tepat di titik ini.
Eksploitasi migas Aceh sejak Orde Baru menghasilkan devisa besar bagi negara. Namun secara kuantitatif, Aceh tetap berada di papan bawah kesejahteraan nasional. Hingga 2024, tingkat kemiskinan Aceh masih berada di kisaran 14–15%, hampir dua kali lipat rata-rata nasional yang berada di kisaran 9%.
Ini bukan anomali statistik, melainkan indikator kegagalan distribusi struktural.
Ekonomi Ekstraktif sebagai Kekerasan Non-Militer
Ekonomi ekstraktif tidak netral. Ia bekerja melalui:
sentralisasi keputusan,
konsesi kepada korporasi,
marginalisasi masyarakat lokal,
📚 Artikel Terkait
dan degradasi ekologis jangka panjang.
Di Aceh, sumber daya alam diekstraksi tanpa kontrol lokal yang memadai, sementara dampak ekologis—deforestasi, abrasi pesisir, penurunan produktivitas pertanian—ditanggung masyarakat.
Kerusakan ekologis ini berkontribusi langsung pada kemiskinan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 60% penduduk miskin Aceh bergantung pada sektor berbasis alam (pertanian, perikanan, kehutanan). Ketika ekologi rusak, kemiskinan menjadi struktural dan antargenerasi.
Inilah yang disebut kekerasan struktural non-militer: tidak menembak, tetapi memiskinkan secara sistematis.
Pendidikan, Konflik, dan Reproduksi Ketergantungan
Pendidikan di Aceh—terutama pada masa Orde Baru—tidak diarahkan untuk membangun kesadaran struktural, melainkan stabilitas. Sejarah Aceh direduksi, konflik disenyapkan, dan kritik dianggap ancaman.
Akibatnya, Aceh kehilangan momentum membangun kelas menengah kritis yang mandiri secara intelektual dan ekonomi. Konflik bersenjata (DOM hingga 2005) memperparah situasi. Ribuan korban, trauma kolektif, dan stagnasi ekonomi membuat Aceh tertinggal secara struktural.
Pasca perdamaian dan tsunami 2004, Aceh menerima aliran dana besar. Namun tanpa transformasi paradigma, dana rekonstruksi justru memperkuat elite dan birokrasi, bukan kemandirian masyarakat.
Memori Kolektif: Kuat, Tapi Belum Transformatif
Aceh kaya akan memori kolektif: kolonialisme, pengkhianatan politik, konflik, tsunami. Namun memori ini sering berhenti sebagai narasi penderitaan, bukan alat baca struktur kekuasaan.
Memori kolektif tanpa kesadaran struktural berisiko:
direproduksi sebagai simbol politik,
dimobilisasi saat konflik elite,
namun tidak mengubah desain ekonomi dan tata kelola.
Aceh hari ini membutuhkan lompatan epistemik: membaca sejarah bukan untuk mengulang luka, tetapi untuk membongkar mekanisme ketidakadilan yang masih bekerja.
Kesadaran Struktural Kolektif: Jalan Sunyi tapi Niscaya
Kesadaran struktural kolektif berarti memahami bahwa:
- kemiskinan bukan kegagalan individu,
- ketertinggalan bukan kutukan budaya,
- kerusakan ekologi bukan kecelakaan,
- dan otonomi tanpa kontrol ekonomi adalah ilusi.
Ini menuntut keberanian elit Aceh untuk:
mengkritik relasi pusat–daerah secara dewasa,
menghentikan politik rente,
dan membangun ekonomi produktif berbasis pengetahuan, ekologi, dan nilai lokal.
Ini jalan sunyi, tidak populer, dan tidak romantis. Tetapi hanya jalan ini yang realistis.
Penutup: Naik Kelas atau Terjebak Sejarah
Aceh berada di persimpangan. Terus merawat luka tanpa mengubah struktur, atau mentransformasikan memori menjadi kesadaran kolektif yang membangun.
Kebangkitan Aceh tidak lahir dari ilusi kejayaan masa lalu, tetapi dari kejujuran membaca kenyataan hari ini. Selama ekonomi ekstraktif dilindungi oleh imunitas negara pascakolonial, dan selama elite lokal nyaman dalam peran perantara, Aceh akan tetap berada di pinggir sejarah.
Namun jika kesadaran struktural benar-benar tumbuh—lintas generasi, lintas kelas—maka Aceh tidak hanya bangkit, tetapi naik kelas sebagai wilayah yang berdaulat secara ekonomi, adil secara sosial, dan berakar secara ekologis.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






