POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Imunitas Negara ke Kesadaran Struktural Aceh

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 26, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Membaca Luka Sejarah, Ekonomi Ekstraktif, dan Jalan Sunyi Menuju Kemandirian Pascakolonial

Oleh: Dayan Abdurrahman


Pengantar: Satu Fokus, Satu Pertanyaan Kunci

Mengapa Aceh—dengan sejarah panjang kekuasaan, sumber daya alam melimpah, dan status otonomi khusus—tetap berada dalam lingkaran kemiskinan struktural dan ketergantungan ekonomi?

Tulisan ini berangkat dari satu fokus analitis: Aceh bukan gagal karena kekurangan sumber daya atau identitas, melainkan karena terperangkap dalam rezim ekonomi ekstraktif yang dilindungi oleh imunitas moral negara pascakolonial dalam tatanan global. Selama masalah ini tidak dibaca secara jernih, Aceh akan terus bergerak di tempat—antara romantisme sejarah dan pragmatisme elite.


Aceh dan Reduksi Historis: Dari Subjek Global ke Objek Pembangunan

Dalam abad ke-16 hingga awal abad ke-19, Aceh merupakan aktor geopolitik penting di Asia Tenggara. Namun kolonialisme Belanda tidak sekadar menaklukkan wilayah, melainkan mengubah posisi Aceh dari subjek sejarah menjadi objek administrasi dan ekstraksi.

Perang Aceh (1873–1904) menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan struktur ekonomi lokal. Lebih penting lagi, kolonialisme mewariskan logika pembangunan ekstraktif: tanah sebagai komoditas, manusia sebagai tenaga murah, dan kekuasaan sebagai alat pengamanan investasi.

Logika inilah yang tidak pernah benar-benar diputus setelah kemerdekaan Indonesia.


Negara Pascakolonial dan Imunitas Moral Global

Dalam tatanan global pasca Perang Dunia II, negara-negara bekas koloni—termasuk Indonesia—mendapatkan imunitas moral politik. Negara dianggap sah selama:

  1. berdaulat secara formal,
  2. diakui internasional,
  3. menjaga stabilitas internal.

Konsekuensinya, kekerasan struktural di wilayah internal jarang dibaca sebagai pelanggaran serius selama negara tetap stabil dan pro-pasar global. Aceh berada tepat di titik ini.

Eksploitasi migas Aceh sejak Orde Baru menghasilkan devisa besar bagi negara. Namun secara kuantitatif, Aceh tetap berada di papan bawah kesejahteraan nasional. Hingga 2024, tingkat kemiskinan Aceh masih berada di kisaran 14–15%, hampir dua kali lipat rata-rata nasional yang berada di kisaran 9%.

Ini bukan anomali statistik, melainkan indikator kegagalan distribusi struktural.


Ekonomi Ekstraktif sebagai Kekerasan Non-Militer

Ekonomi ekstraktif tidak netral. Ia bekerja melalui:

sentralisasi keputusan,

konsesi kepada korporasi,

marginalisasi masyarakat lokal,

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Bedah Buku – The Open Society and Its Enemies

Bercerita Pada Senja

Mengenal 5 Universitas Tempat Para Ilmuwan Kelas Dunia Lahir

dan degradasi ekologis jangka panjang.

Di Aceh, sumber daya alam diekstraksi tanpa kontrol lokal yang memadai, sementara dampak ekologis—deforestasi, abrasi pesisir, penurunan produktivitas pertanian—ditanggung masyarakat.

Kerusakan ekologis ini berkontribusi langsung pada kemiskinan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 60% penduduk miskin Aceh bergantung pada sektor berbasis alam (pertanian, perikanan, kehutanan). Ketika ekologi rusak, kemiskinan menjadi struktural dan antargenerasi.

Inilah yang disebut kekerasan struktural non-militer: tidak menembak, tetapi memiskinkan secara sistematis.


Pendidikan, Konflik, dan Reproduksi Ketergantungan

Pendidikan di Aceh—terutama pada masa Orde Baru—tidak diarahkan untuk membangun kesadaran struktural, melainkan stabilitas. Sejarah Aceh direduksi, konflik disenyapkan, dan kritik dianggap ancaman.

Akibatnya, Aceh kehilangan momentum membangun kelas menengah kritis yang mandiri secara intelektual dan ekonomi. Konflik bersenjata (DOM hingga 2005) memperparah situasi. Ribuan korban, trauma kolektif, dan stagnasi ekonomi membuat Aceh tertinggal secara struktural.

Pasca perdamaian dan tsunami 2004, Aceh menerima aliran dana besar. Namun tanpa transformasi paradigma, dana rekonstruksi justru memperkuat elite dan birokrasi, bukan kemandirian masyarakat.


Memori Kolektif: Kuat, Tapi Belum Transformatif

Aceh kaya akan memori kolektif: kolonialisme, pengkhianatan politik, konflik, tsunami. Namun memori ini sering berhenti sebagai narasi penderitaan, bukan alat baca struktur kekuasaan.

Memori kolektif tanpa kesadaran struktural berisiko:

direproduksi sebagai simbol politik,

dimobilisasi saat konflik elite,

namun tidak mengubah desain ekonomi dan tata kelola.

Aceh hari ini membutuhkan lompatan epistemik: membaca sejarah bukan untuk mengulang luka, tetapi untuk membongkar mekanisme ketidakadilan yang masih bekerja.


Kesadaran Struktural Kolektif: Jalan Sunyi tapi Niscaya

Kesadaran struktural kolektif berarti memahami bahwa:

  1. kemiskinan bukan kegagalan individu,
  2. ketertinggalan bukan kutukan budaya,
  3. kerusakan ekologi bukan kecelakaan,
  4. dan otonomi tanpa kontrol ekonomi adalah ilusi.

Ini menuntut keberanian elit Aceh untuk:

mengkritik relasi pusat–daerah secara dewasa,

menghentikan politik rente,

dan membangun ekonomi produktif berbasis pengetahuan, ekologi, dan nilai lokal.

Ini jalan sunyi, tidak populer, dan tidak romantis. Tetapi hanya jalan ini yang realistis.


Penutup: Naik Kelas atau Terjebak Sejarah

Aceh berada di persimpangan. Terus merawat luka tanpa mengubah struktur, atau mentransformasikan memori menjadi kesadaran kolektif yang membangun.

Kebangkitan Aceh tidak lahir dari ilusi kejayaan masa lalu, tetapi dari kejujuran membaca kenyataan hari ini. Selama ekonomi ekstraktif dilindungi oleh imunitas negara pascakolonial, dan selama elite lokal nyaman dalam peran perantara, Aceh akan tetap berada di pinggir sejarah.

Namun jika kesadaran struktural benar-benar tumbuh—lintas generasi, lintas kelas—maka Aceh tidak hanya bangkit, tetapi naik kelas sebagai wilayah yang berdaulat secara ekonomi, adil secara sosial, dan berakar secara ekologis.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Hutan Kota

Hutan Kota

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00