Dengarkan Artikel
Oleh: Lukman Hakim bin Abdul Wahab
Fenomena banjir akibat siklon tropis Senyar 95B yang melanda Pulau Sumatera meninggalkan realitas pilu dan dampak yang cukup dahsyat bagi kehidupan masyarakat. Bencana hidrometeorologi ini telah meluluhlantakkan dan merusak setiap sendi kehidupan manusia. Meskipun belum dapat dihitung secara pasti, diyakini bahwa pemulihan dampak bencana ini akan memakan waktu yang relatif lama. Tentunya diperlukan pola penanganan yang serius dan terukur agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupannya secara normal.
Lambatnya penanganan korban telah menyeret pembicaraan mengenai bencana Sumatera ini ke ranah yang lebih luas. Tidak sekadar tentang derita korban yang membutuhkan penanganan tanggap darurat dan perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memantik isu politik berupa nasionalisme yang terkoyak, ketidakpercayaan terhadap pemerintah, serta perilaku ekosida yang terkesan dibiarkan. Negara dianggap gagal menjaga sistem ekologi agar berjalan secara seimbang, bahkan dalam batas tertentu diduga turut terlibat dalam perilaku ekosida melalui pemberian izin pertambangan dan perambahan hutan oleh korporasi. Tulisan ini akan mengurai tentang perilaku ekosida dan korelasinya dengan bencana dari sudut pandang teologi.
Ekosida Pengundang Bencana
Ekosida merupakan istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan kerusakan lingkungan yang sangat ekstrem dalam skala luas, sehingga mengancam keseimbangan ekosistem dan kehidupan di bumi. Ekosida lazimnya disebabkan oleh beberapa faktor seperti polusi, deforestasi, perubahan iklim, dan lain-lain.
Secara leksikal, istilah ekosida berasal dari dua kata: “ekologi” dan “genosida”, yang menyiratkan bahwa kerusakan lingkungan ini bisa berdampak sama dahsyatnya dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. Sejarah kelam dunia mencatat beberapa tragedi ekosida yang sangat memilukan, seperti penggunaan Agent Orange dalam Perang Vietnam, di mana Amerika Serikat menyemprotkan herbisida mematikan ke hutan-hutan Vietnam yang menyebabkan jutaan pohon musnah, lahan pertanian menjadi tandus, dan ribuan manusia mengalami gangguan kesehatan serius.
Contoh ekosida lainnya adalah tragedi Chernobyl, yaitu meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina pada 1986 yang meninggalkan radioaktif berbahaya sehingga tempat itu tidak lagi layak dihuni. Kemudian ada pula tragedi pasir tar di Kanada, di mana penambangan pasir tar telah menghancurkan hutan dan rawa Boreal serta mencemari lingkungan dengan limbah beracun.
Dunia juga mencatat deforestasi di Indonesia sebagai bentuk nyata dari perilaku ekosida. Indonesia dianggap memiliki tingkat deforestasi tercepat di dunia, yang sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan industri sawit, pertambangan, dan penebangan liar (illegal logging). Deforestasi ini tidak hanya merusak lingkungan dan spesies endemik, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat secara umum.
Dalam konteks bencana di Sumatera, diduga kuat bahwa penyebab utamanya adalah perilaku ekosida berupa perusakan hutan secara masif yang terjadi dari tahun ke tahun. Hutan Sumatera yang menjadi paru-paru dunia mengalami eksploitasi besar-besaran. Data Kompas yang dikutip oleh Teuku Kemal Fasya menyebutkan bahwa selama 34 tahun sejak 1990, hutan Sumatera telah hilang seluas 1,2 juta hektare, atau 36.300 hektare per tahun, setara dengan 99,46 hektare per hari (Kompas, 22/12/2025).
Kondisi hutan Sumatera yang tereksploitasi inilah yang mengundang banjir dan longsor yang menghantam Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Hutan tidak lagi mampu menyerap air karena telah gundul, dan karena murkanya, ia memuntahkan air, longsor, serta kayu-kayu sisa keserakahan ke permukiman penduduk. Bencana ini bagaikan takdir yang diundang oleh keserakahan dan perilaku ekosida yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Ironisnya, korban harta benda, nyawa, dan sumber kehidupan justru diderita oleh masyarakat yang tak berdosa.
📚 Artikel Terkait
Korelasi Bencana dan Perilaku Manusia
Islam secara teologis selalu mengajarkan makna harmoni antara manusia sebagai khalifatullah dengan alam sekitar. Menjaga harmoni dan keseimbangan alam adalah tugas manusia. Dalam hubungan yang harmonis dan seimbang inilah sunnatullah kehidupan manusia dan alam berjalan normal. Jika keseimbangan ini rusak, maka akan muncul potensi kerusakan dan anomali.
Kelalaian manusia dalam menjaga harmoni dengan alam akan berdampak pada kerusakan kehidupan manusia itu sendiri. Pesan teologis ini diisyaratkan dalam firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah memperlihatkan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dengan demikian, manusia sejatinya memiliki kesadaran ekologi untuk selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Jika manusia memiliki kesadaran ekologi yang baik, maka alam akan menjadi teman yang penuh rahmat. Sebaliknya, jika manusia pongah mengeksploitasi, maka alam pun bisa murka.
Dalam sudut pandang teologi Islam, bencana dibagi dalam dua kategori:
- Bencana mubram, yaitu bencana yang merupakan kehendak Allah dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan perilaku manusia. Bencana ini murni bencana alam di luar kendali manusia seperti tsunami, letusan gunung berapi, dan lain-lain. Secara saintifik, bencana ini juga tidak berkaitan langsung dengan kelalaian manusia dalam menjaga alam. Oleh karena itu, dalam konteks bencana seperti ini, tidak ada pihak yang perlu diduga atau disalahkan sebagai pemicu.
- Bencana muallaq, yaitu bencana yang berhubungan langsung dengan perilaku manusia dalam menjaga alam. Karena bencana muallaq berkaitan dengan hukum sebab-akibat, maka manusia memiliki peran untuk menjaga sebab agar dapat meminimalkan akibat. Pemahaman bahwa deforestasi dan penambangan yang tak terkendali akan menyebabkan minimnya daya serap air dan berdampak pada banjir serta longsor, meniscayakan upaya reboisasi yang seimbang dengan penebangan, serta perlunya pemanfaatan alam secara terukur dengan mempertimbangkan dampak lingkungan.
Dengan demikian, dalam konteks musibah hidrometeorologi berupa banjir dan longsor yang kini terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, terdapat korelasi saintifik dengan tindakan ekosida akibat kecerobohan dan ketamakan manusia dalam mengeksploitasi alam. Dominasi manusia yang secara destruktif merusak alam ini telah menyebabkan alam berubah wajah menjadi garang dan murka.
Khulasah
Manusia bijak adalah manusia yang mampu bermuhasabah dan mengambil hikmah. Tidak ada yang terjadi di alam ini tanpa makna. Kini saatnya kita menjadikan bencana sebagai “guru” yang menegur kesalahan. Kadang kala kita perlu ditegur agar tidak larut dalam perilaku yang salah. Semua pihak perlu bermuhasabah—mungkin selama ini kita telah melakukan, mengizinkan, melindungi, mengambil untung, atau setidaknya mendiamkan perilaku ekosida yang terjadi di depan mata kita.
Bagi masyarakat Sumatera yang kini sedang menghadapi bencana, ada butiran hikmah yang perlu dipetik: bahwa Allah masih bersedia menegur kesalahan agar kita tidak terus-menerus terjerumus dalam ketamakan dan dosa. Inilah momentum untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Bencana tidak selamanya merupakan kemurkaan, tetapi bisa menjadi teguran kasih agar kita kembali menjadi manusia yang peduli terhadap alam dan bersolidaritas dengan sesama insan. Semoga Allah memberkati dan merahmati kita semua. Āmīn yā Rabb al-‘Ālamīn.
Penulis:
Lukman Hakim bin Abdul Wahab, M.Ag
Dosen Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






