Dengarkan Artikel
Demi Anak Cucu
By Asmaul Husna
Inong Literasi
Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan hijau kini hanya tinggal batang tak bernyawa. Ia tahu, semua itu bukan terjadi begitu saja. Ada keserakahan manusia yang memaksa alam berhenti bekerja sebelum waktunya, sebelum hutan sempat menjaga air, tanah, dan kehidupan seperti seharusnya.
Ingatan Fajar melayang pada liburan akhir semester lalu. Ia dan teman-temannya menghabiskan hari-hari di hutan desa: menghirup udara sejuk, bermain di sungai yang jernih, mendengar burung dan jangkrik bersahutan. Mereka menangkap ikan, tertawa, dan menikmati alam tanpa rasa takut. Kenangan itu terasa hangat, kenangan yang suatu hari ingin ia ceritakan dengan bangga kepada anak cucunya.
“Semoga di antara kita ada yang jadi besan, ya. Biar anak cucu kita bisa menikmati alam seperti yang kita rasakan sekarang,” seloroh Fajar.
“Amboiii… calon mak sinyak saja belum ada, apa pula besanan,” balas Rahmat.
Tawa mereka pun pecah, menyatu dengan riang alam sore itu.
Kini semua hanya tinggal kenangan. Air bah dari gunung di akhir November tahun lalu datang begitu cepat, mengubah segalanya. Menyapu apa pun yang dilalui, meluluhlantakkan hutan, sungai, dan rumah-rumah di sekitarnya. Banjir bandang itu tak hanya membawa kayu dan lumpur, tetapi juga menyisakan ketakutan, pada setiap hujan yang turun. Padahal hujan seharusnya menjadi tanda kehidupan: membasahi tanah gersang, menumbuhkan benih, dan membantu bunga berkembang.
Fajar kembali terdiam. Di kepalanya berputar satu pertanyaan, Apa yang bisa kulakukan agar hujan kembali menjadi sahabat bagi alam?
“Aku harus bergerak,” tekadnya. Ia pun meninggalkan hamparan kayu, membawa gagasan yang mulai tumbuh di hatinya.
“Tidak mungkin kita mampu. Ini terlalu berat. Lupakan saja rencanamu,” ujar Jal, teman seangkatannya.
📚 Artikel Terkait
“Fajar, berhentilah bermimpi. Di tengah deforestasi yang makin menggila, kita akan kalah sebelum bertanding. Kita ini rakyat kecil, tak banyak yang bisa kita lakukan,” lanjutnya.
Fajar menarik napas panjang. Ternyata aku belum menemukan orang yang tepat untuk berunding, batinnya. Namun suara lain di dalam dirinya kembali menguatkan, Ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.
“Iya, aku sependapat denganmu,” kata Rahmat, teman seangkatannya yang lain.
“Usaha kita akan sia-sia kalau tidak memulihkan hulu. Masalahnya memang di sana. Kalau hulu gundul, setiap hujan pasti membawa masalah ke hilir.”
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka sepaham. Gagasan mereka sama. Maka mulailah mereka menyusun rencana: membentuk tim, merancang langkah kerja, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Apa pun tanggapan yang datang, Fajar dan Rahmat telah siap.
“Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?” ucap Fajar menyemangati.
Mereka akan kembali menanam pohon di hulu, memperbaiki setiap jengkal hutan yang rusak. Mereka sadar, jalan ini panjang. Dibutuhkan tenaga, biaya, dan kesabaran yang tidak sedikit.
“Mungkin kita tidak sempat melihat hasil dari apa yang kita mulai hari ini,” kata Fajar pelan, “tapi setidaknya kita sudah memulai. Kebaikan itu seperti wabah, ia menular kepada siapa pun yang melihat dan merasakannya.”
“Demi anak cucu, kan?” Rahmat tersenyum.
“Jadi… kita besanan?”
Tawa keduanya pun meledak, menggema di udara.
Dalam bayangan mereka, hutan kembali hijau. Jutaan pohon tumbuh rindang, dan milyaran akar siap menampung setiap rintik hujan, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai berkah bagi kehidupan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






