POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Penyeimbangan Maskulinitas Dunia Politik melalui Seni dan Sastra

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
January 20, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Pendahuluan: Politik, Maskulinitas, dan Risiko Kekuasaan

Sejak lama, dunia politik dipahami sebagai arena maskulinitas yang keras. Politik, baik dalam skala nasional maupun global, kerap dipersepsikan sebagai ruang adu dominasi, pertarungan kepentingan, dan kontestasi kekuasaan yang menekankan ketegasan, kontrol, serta kemampuan menekan lawan. Dalam konstruksi semacam ini, kepemimpinan sering diukur dari keberanian mengambil risiko, ketegasan bersikap, dan kapasitas menunjukkan otoritas, bahkan jika keputusan tersebut berpotensi memicu konflik terbuka.

Ketika ego bertemu ego, yang muncul sering kali bukan dialog rasional, melainkan eskalasi emosi. Dalam konteks negara-negara dengan kekuatan militer besar, situasi ini menjadi sangat berbahaya. Para pemimpin dunia tidak hanya membawa mandat politik, tetapi juga mengendalikan perangkat negara yang daya rusaknya masif. Di balik pidato diplomatik dan meja perundingan, tersimpan akses terhadap senjata pemusnah yang dapat mengancam keberlangsungan peradaban. Dalam kondisi demikian, kegagalan mengelola emosi dan gengsi politik bukan sekadar kesalahan personal, melainkan ancaman kolektif bagi umat manusia.

Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah dunia politik memang harus selalu dikelola melalui logika maskulinitas kaku yang menyingkirkan empati, refleksi, dan kepekaan batin? Ataukah tersedia ruang alternatif untuk menyeimbangkan kekerasan simbolik dan psikologis dalam praktik politik? Di titik inilah seni dan sastra menemukan relevansinya yang paling mendalam.

Maskulinitas Hegemonik dalam Tradisi Politik

Dalam kajian gender dan budaya, maskulinitas hegemonik merujuk pada konstruksi sosial tentang laki-laki ideal yang dominan, kuat, rasional, dan menekan ekspresi kerentanan emosional. Konsep ini diperkenalkan oleh R.W. Connell untuk menjelaskan bagaimana relasi kuasa dilegitimasi melalui standar maskulinitas tertentu. Maskulinitas hegemonik tidak berdiri netral; ia bekerja sebagai norma yang menentukan siapa yang dianggap layak memimpin dan bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.

Dalam sejarah politik modern, konstruksi ini berperan besar membentuk citra pemimpin ideal. Pemimpin digambarkan sebagai figur tegas, tidak ragu mengambil keputusan keras, dan sanggup memaksakan kehendak demi stabilitas dan kepentingan negara. Sebaliknya, kompromi kerap dipersepsikan sebagai kelemahan, sementara empati dianggap sebagai tanda ketidaktegasan. Akibatnya, dimensi reflektif dalam politik tersingkir.

Ketika kekuasaan dilekatkan pada citra kejantanan dan dominasi, kebijakan yang lahir cenderung koersif dan berjarak dari realitas kemanusiaan. Dalam jangka panjang, pola ini melahirkan kekerasan struktural serta memperlebar jarak antara elite politik dan masyarakat. Politik kehilangan wajah manusianya dan berubah menjadi sekadar manajemen kekuatan.

Seni dan Sastra sebagai Media Redefinisi Maskulinitas

Seni dan sastra hadir sebagai medium yang mampu mengganggu sekaligus mendekonstruksi konstruksi maskulinitas hegemonik tersebut. Keduanya membuka ruang bagi maskulinitas alternatif, yakni maskulinitas yang tidak menolak ketegasan, tetapi berpijak pada tanggung jawab moral, empati, dan kesadaran etis.

Sastra sejak lama menjadi ruang aman bagi eksplorasi sisi manusia yang kerap disembunyikan oleh politik kekuasaan. Dalam novel, puisi, dan esai reflektif, tokoh laki-laki tidak selalu digambarkan sebagai figur heroik tanpa cela, melainkan manusia yang memiliki konflik batin, rasa takut, kegamangan, dan dilema moral. Keberanian dalam sastra tidak diukur dari kemampuan menundukkan lawan, melainkan dari kesediaan menghadapi diri sendiri.

Melalui sastra, definisi kepemimpinan diperluas. Tanggung jawab tidak hanya berarti mempertahankan kekuasaan, tetapi menjaga kehidupan. Kekuasaan tidak lagi dipahami semata sebagai kemampuan mengontrol, melainkan sebagai kesanggupan merawat. Di sinilah sastra memperkaya imajinasi politik dengan dimensi kemanusiaan yang sering diabaikan.

Seni visual dan praktik artistik lain memiliki fungsi serupa. Seni menawarkan ruang ekspresi nonverbal yang memungkinkan emosi hadir tanpa harus tunduk pada tuntutan maskulinitas performatif. Melukis, menari, atau mengapresiasi karya seni bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri.

Seni sebagai Media Pengolahan Emosi dan Disiplin Diri

Dunia politik adalah dunia dengan tekanan psikologis tinggi. Keputusan yang diambil sering kali berdampak luas dan jangka panjang. Dalam situasi seperti ini, seni berfungsi sebagai ruang pengolahan emosi sekaligus sarana disiplin diri. Seni memungkinkan seseorang mengambil jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan, sebuah jarak yang penting agar keputusan tidak lahir dari pertimbangan sesaat.

Pengalaman historis menunjukkan bahwa banyak negarawan dan intelektual menjadikan seni sebagai cara menjaga kejernihan berpikir. Keterlibatan dalam seni melatih kesabaran, konsistensi, dan kemampuan mendengarkan, kualitas yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan politik. Dengan demikian, seni bukan pelarian dari realitas politik, melainkan perangkat penting untuk menjaga integritas personal para pengambil kebijakan.

Empati dan Koneksi Sosial melalui Sastra

📚 Artikel Terkait

Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku?

BENGKEL OPINI RAKyat

BENGKEL OPINI RAKyat

5 Siswa SMAN 1 Teunom Wakili Aceh Jaya Ikuti OSN Tingkat Provinsi

Sastra bekerja melalui empati. Dengan membaca kisah orang lain, seseorang diajak memasuki pengalaman hidup yang berbeda dari dirinya. Proses ini memperluas imajinasi moral dan melatih kemampuan memahami sudut pandang yang beragam.

Dalam dunia politik yang sarat perbedaan ideologi dan kepentingan, empati menjadi modal penting. Pemimpin yang terbiasa membaca sastra cenderung tidak melihat masyarakat semata sebagai angka statistik, melainkan sebagai manusia dengan kehidupan, harapan, dan penderitaan nyata. Dalam konteks global, sastra lintas budaya membantu meredam prasangka dan mencegah dehumanisasi yang kerap menjadi akar konflik.

Gus Dur: Seni, Humor, dan Etika Politik

Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kedekatan kuat dengan seni dan sastra. Ia pembaca sastra lintas tradisi serta penikmat musik klasik dunia. Bagi Gus Dur, seni merupakan ruang kebebasan berpikir dan sarana menjaga jarak kritis dari kekuasaan.

Kedekatannya dengan seni membentuk gaya kepemimpinan yang reflektif dan penuh humor. Humor, bagi Gus Dur, adalah cara melucuti kesombongan kekuasaan dan mencegah politik terjebak dalam kekakuan. Melalui pendekatan kebudayaan, Gus Dur memandang politik bukan sekadar arena kompetisi, melainkan ruang dialog yang menempatkan manusia sebagai pusat pertimbangan.

Pengalaman Gus Dur menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi fondasi etika politik. Seni tidak digunakan sebagai alat pencitraan, melainkan sebagai cara merawat kebebasan berpikir dan keberanian moral dalam menghadapi kekuasaan.

Mohammad Natsir: Disiplin Intelektual dan Ketekunan Seni

Mohammad Natsir dikenal sebagai intelektual rasional dan pemimpin yang disiplin. Di balik ketegasan pemikiran dan kesederhanaan hidupnya, ia memiliki ketertarikan pada seni, khususnya musik. Hubungan Natsir dengan seni bersifat personal dan sunyi, tetapi berpengaruh pada pembentukan karakter yang matang dan tidak reaktif.

Bagi Natsir, seni berfungsi sebagai latihan ketekunan dan pengendalian diri. Aktivitas seni menuntut fokus, konsistensi, dan kesabaran, nilai-nilai yang juga penting dalam kepemimpinan politik. Pengalaman Natsir memperlihatkan bahwa seni tidak melemahkan nalar politik, justru memperhalus cara berpikir dan menjaga keseimbangan antara ketegasan sikap dan kejernihan batin.

Maskulinitas Politik Global dan Ilustrasi Vladimir Putin

Dalam panggung politik global, Vladimir Putin sering dipersepsikan sebagai representasi maskulinitas politik yang keras. Citra ini dibangun melalui narasi kepemimpinan yang menekankan kontrol, stabilitas, dan dominasi negara. Namun, dalam beberapa momen publik, muncul sisi lain yang jarang dibicarakan, yakni relasi personalnya dengan seni.

Ekspresi seni yang pernah ditampilkan di ruang publik kerap memicu berbagai tafsir, bahkan klaim yang berlebihan. Dalam esai ini, figur Putin tidak dimaksudkan untuk romantisasi personal, melainkan sebagai ilustrasi bahwa bahkan pemimpin dengan citra maskulinitas pun tetap memiliki ruang ekspresi nonpolitis. Hal ini memperkuat argumen bahwa seni dan sastra memiliki potensi universal sebagai ruang penyeimbang psikologis dalam dunia politik.

Seni, Politik, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

Pengalaman berbagai figur tersebut menunjukkan bahwa seni dan sastra bukan aksesori dalam politik. Keduanya merupakan fondasi etis yang membantu pemimpin tetap terhubung dengan sisi kemanusiaannya di tengah tekanan kekuasaan.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, politik membutuhkan ruang refleksi, bukan sekadar adu kekuatan. Seni dan sastra menyediakan ruang tersebut dengan mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia, dan di balik setiap konflik ada kehidupan yang harus dijaga.

Penutup

Penyeimbangan maskulinitas dunia politik melalui seni dan sastra bukanlah gagasan utopis. Gagasan tersebut hadir dalam praktik para pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan tanpa kepekaan berpotensi melahirkan kehancuran. Seni dan sastra tidak melemahkan politik, justru memperkuatnya dengan fondasi kemanusiaan dan etika.

Dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks, dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas dan tegas, tetapi juga peka dan reflektif. Seni dan sastra menjadi jalan sunyi menuju kepemimpinan yang lebih beradab dan bertanggung jawab.

Daftar Pustaka

  1. Wurianto, A. B. (n.d.). Sastra dan politik. Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/242751-sastra-dan-politik-506cc258.pdf
  2. Cikini Journal of Arts and Humanities. (2017). Seni dan politik di Indonesia. Garuda Kemdikbud. https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/17108
  3. NU Online. (n.d.). Gus Dur dan cintanya yang tak pernah lekang kepada musik klasik. https://nu.or.id/fragmen/gus-dur-dan-cintanya-yang-tak-pernah-lekang-kepada-musik-klasik-coKkj
  4. Sastra Indonesia UPI. (2023, 15 Maret). Sastra dan politik: Peran sastra dalam konteks sosial dan politik. https://sastraindonesia.upi.edu/2023/03/15/sastra-dan-politik-peran-sastra-dalam-konteks-politik-dan-sosial/
  5. NPR. (2017, 15 Mei). Putin plays the piano with perhaps unintentional undertones. https://www.npr.org/sections/thetwo-way/2017/05/15/528451430/putin-plays-the-piano-with-perhaps-unintentional-undertones
  6. Telusur.co.id. (n.d.). Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, pemikiran, dan perjuangan. https://telusur.co.id/detail/biografi-mohammad-natsir-kepribadian-pemikiran-dan-perjuangan-di-mata-anak-muda

Lagu Indonesiaku

https://youtu.be/ZJFaPgF8xac?si=w_rUQSlZy5KQtJWa
Pencipta lagu: Gede Jerson
Berdasarkan puisi “Indonesia Terhormat” karya Novita Sari Yahya

Profil Novita Sari Yahya

Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta: Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Demi Anak Cucu

Demi Anak Cucu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00