POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 19, 2026
Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Untuk menangkap seorang koruptor, negara biasanya harus melakukan ritual panjang yang melelahkan. Tahun demi tahun dihabiskan, anggaran disedot seperti es kopi susu ukuran liter, tenaga penyidik diperas sampai kepala berdenyut, dan pikiran dipaksa menembus labirin bukti, saksi, serta alibi yang lebih berliku dari jalan tol proyek siluman. Semua itu demi satu kalimat sakral, “terbukti secara sah dan meyakinkan.”

Namun pada 19 Januari 2026, di Sidang Tipikor Jakarta Pusat, sejarah kecil tapi absurd tercipta. Untuk pertama kalinya, ada orang yang memotong semua proses itu dengan santai, lalu berkata di hadapan publik, saya gembong korupsi. Luar biasa pengakuannya, jujur dan tak bertele-tele. Siapkan Koptagul, simak narasinya, wak!

Immanuel Ebenezer alias Noel, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, hadir di ruang sidang bukan sebagai terdakwa yang mukanya pucat seperti habis disedot bank, melainkan sebagai aktor utama sebuah drama epik berbalut satire. Ia tidak sekadar mengaku, tapi menambahkan bumbu kelas dewa. Ia menyebut dirinya gembong korupsi yang memerintahkan seluruh kementerian melakukan korupsi massal. Bukan untuk kaya, katanya, tapi biar keren. Pengakuan ini terdengar seperti lelucon, tapi ia diucapkan di ruang pengadilan, di bawah lambang negara, dengan majelis hakim lengkap. Kalau ini fiksi, editor mungkin sudah menolaknya karena terlalu tidak masuk akal.

Padahal perkara yang menyeret Noel bukan cerita kecil. KPK mencatat kerugian negara Rp 81 miliar. Dengan nada dingin KPK menambahkan, angka itu berpotensi membengkak sampai Rp 201 miliar sejak 2020. Dari gunung uang itu, Noel disebut menerima Rp 3 miliar. Angka konkret, data konkret, bukan asumsi. Namun di lidah Noel, Rp 81 miliar terdengar seperti uang kembalian beli gorengan. Ia menyebut perkara ini hal kecil, terlalu sepele sampai-sampai tidak pantas menyeret Presiden. Definisi kecil versi ini sungguh istimewa, di negeri biasa, Rp 81 miliar bisa membangun jalan, sekolah, atau rumah sakit; di panggung ini, ia hanya footnote.

📚 Artikel Terkait

Tadarus

TRANSFORMASI PENGAWASAN

Ketika Mahasiswa Tersesat – Ulasan Artikel

Balai Guru Penggerak Gelar Rakor Program Prioritas dengan Disdik Aceh, Cabdisdik dan Disdisbud

Sidang itu sendiri terasa seperti festival karakter. Noel tidak sendirian. Ada sepuluh terdakwa lain yang duduk bersama, termasuk Fahrurozi, mantan Dirjen Binwasnaker dan K3, plus nama-nama seperti Temurila, Miki Mahfud, dan Hery Sutanto. Majelis hakim pun hadir lengkap dan formal: Nur Sari Baktiana sebagai ketua, didampingi Fajar Kusuma Aji dan Alfis Setiawan. Semua unsur hukum terpenuhi. Tapi atmosfernya aneh. Dengan gaya bicara Noel, ruang sidang terasa lebih mirip panggung monolog politik daripada tempat orang mempertaruhkan nasib puluhan tahun hidupnya.

Tak berhenti di situ, Noel juga mengarahkan senjata kata-kata ke KPK. Ia menuduh lembaga antirasuah membangun hukum lewat “narasi kebohongan.” Dalam ceritanya, KPK bukan lagi penegak hukum, melainkan penulis sinetron yang rajin meracik konflik agar tayangannya laku. Noel menempatkan dirinya sebagai tokoh antagonis yang dipaksa jahat demi rating. Tapi alih-alih menolak peran itu, ia memeluknya dengan penuh ironi. Kalau ini cerita, katanya, ia akan membalas cerita dengan parodi.

Sebagai penutup yang sempurna, Noel melempar bom narasi. Ada satu partai politik dan satu organisasi kemasyarakatan yang ikut bermain dalam kasus sertifikat K3. Nama tidak disebut, janji disimpan untuk sidang berikutnya. Publik langsung berubah jadi penonton serial. Kopi diaduk lebih pelan, media sosial ramai tebakan, dan semua menunggu episode lanjutan. Cliffhanger ini bekerja sempurna, hukum bercampur hiburan, fakta bercampur sensasi.

Maka lengkaplah tragedi sekaligus komedi ini. Ada data Rp 81 miliar, potensi Rp 201 miliar sejak 2020, aliran Rp 3 miliar ke terdakwa, sepuluh terdakwa lain, majelis hakim lengkap, tudingan narasi kebohongan, dan teaser partai plus ormas misterius. Di negeri yang koruptornya biasa mati-matian menyangkal, tiba-tiba muncul satu orang yang mengaku gembong korupsi dengan santai, nyaris bangga. Negara yang selama ini kelelahan mencari pengakuan, justru diberi pengakuan mentah-mentah. Tinggal satu hal yang belum jelas, apakah pengakuan ini akan dikenang sebagai kejujuran paling absurd dalam sejarah hukum, atau sekadar episode paling ironis yang paling enak dibaca sambil ngopi.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Ulama, Keadilan, dan Jalan Dewasa Aceh di Abad ke-21

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00