Dengarkan Artikel
Membaca Ancaman Global dan Kesiapan Indonesia di Tengah Ketidakpastian Dunia
Oleh : Novita Sari Yahya
Pendahuluan: Wajah Perang yang Berubah
Dalam beberapa waktu terakhir, isu konflik global tidak hanya hadir di ruang-ruang akademik atau laporan strategis, tetapi juga menyebar luas melalui media sosial. Potongan video singkat, diskusi podcast, hingga analisis instan di platform digital ramai membicarakan keterlibatan tentara Korea Utara dalam konflik Rusia–Ukraina. Narasi yang beredar menggambarkan tingginya angka korban dalam waktu singkat setelah pasukan tersebut diterjunkan ke medan tempur.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia mencerminkan perubahan mendasar dalam karakter perang modern. Medan perang hari ini tidak lagi ditentukan oleh jumlah personel, keberanian fisik, atau kekuatan senjata konvensional semata. Konflik bersenjata abad ke-21 berlangsung dalam lanskap teknologi tinggi, dengan dominasi drone, sistem persenjataan presisi, perang siber, serta intelijen berbasis satelit dan data real time.
Berbagai laporan media nasional dan internasional, termasuk Tempo.co yang mengutip sumber intelijen Korea Selatan dan Kementerian Pertahanan Inggris, menyebutkan bahwa ribuan personel Korea Utara diperkirakan menjadi korban—baik tewas maupun luka—dari total sekitar 10.000 hingga 11.000 pasukan yang dilaporkan dikerahkan untuk mendukung Rusia, terutama di wilayah Kursk. Angka tersebut merupakan estimasi intelijen yang masih bervariasi antar sumber, namun tetap menunjukkan tingkat kerugian yang sangat besar dalam kurun waktu relatif singkat.
Tulisan ini tidak bertujuan menghakimi pihak tertentu dalam konflik tersebut. Sebaliknya, refleksi ini mengajak pembaca untuk membaca fenomena tersebut sebagai pelajaran tentang brutalitas perang modern, sekaligus mengaitkannya dengan kesiapsiagaan nasional Indonesia dalam menghadapi risiko global. Pemikiran ini sejalan dengan diskursus yang berkembang dalam Seminar Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan yang diselenggarakan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), Universitas Gadjah Mada (UGM).
Keterlibatan Korea Utara: Pelajaran dari Medan Tempur Modern
Kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskow membawa pasukan Korea Utara ke wilayah konflik Rusia–Ukraina sejak akhir 2024. Sejumlah laporan intelijen internasional menyebutkan bahwa mayoritas personel yang dikirim merupakan prajurit muda dengan pengalaman tempur terbatas, serta minim paparan terhadap peperangan berbasis teknologi tinggi.
Menurut perkiraan intelijen Korea Selatan dan Inggris, jumlah korban dari pasukan Korea Utara diperkirakan berada pada rentang 4.000 hingga lebih dari 6.000 personel, termasuk korban tewas dan luka-luka. Perbedaan angka ini mencerminkan keterbatasan informasi di medan perang, sekaligus menegaskan bahwa data tersebut bersifat estimatif, bukan laporan resmi negara.
Meski demikian, tingginya estimasi korban dalam waktu singkat dapat dibaca sebagai indikasi bahwa pasukan yang tidak memiliki kesiapan teknologi, sistem komando modern, dan interoperabilitas digital cenderung lebih rentan dalam menghadapi perang kontemporer. Medan tempur saat ini menuntut koordinasi real time, kemampuan membaca data intelijen, serta penguasaan sistem komunikasi yang aman dan adaptif.
Beberapa laporan juga menyebutkan adanya indikasi kegagalan koordinasi dan komunikasi tempur. Dalam perang modern, kegagalan semacam ini sering kali meningkatkan risiko salah sasaran, termasuk potensi korban dari pihak sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesalahan elementer di era perang berteknologi tinggi dapat berakibat fatal.
Teknologi Perang: Ketika Kecepatan Mesin Melampaui Adaptasi Manusia
Perang abad ke-21 adalah perang kecepatan. Drone pengintai dan tempur, sistem senjata berpemandu presisi, peperangan siber, hingga dukungan intelijen berbasis satelit mengubah cara konflik berlangsung. Keputusan tidak lagi diambil dalam hitungan jam atau hari, melainkan dalam detik, berdasarkan aliran data yang masif dan terus berubah.
Perkembangan teknologi militer bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan adaptasi manusia dan institusi militer tradisional. Doktrin lama yang mengandalkan formasi konvensional, hierarki komando yang kaku, dan komunikasi manual semakin kehilangan relevansi. Dalam konteks inilah, pasukan yang tidak mampu mengikuti ritme teknologi akan berada pada posisi yang sangat rentan.
Kasus pasukan Korea Utara di wilayah Kursk dapat dilihat sebagai contoh bagaimana kesenjangan teknologi dan sistem komando berdampak langsung pada tingkat korban. Perang modern hampir tidak memberikan ruang bagi kesalahan kecil. Keterlambatan membaca data radar, kegagalan pengamanan sinyal komunikasi, atau miskomunikasi antar unit dapat berujung pada kehancuran dalam skala besar.
Dari Perang ke Bencana: Keterkaitan yang Tidak Terpisahkan
📚 Artikel Terkait
Dampak perang modern memiliki kemiripan dengan bencana besar dalam skala kehancuran dan kompleksitasnya. Infrastruktur sipil rusak, sistem kesehatan lumpuh, rantai pasok terganggu, dan masyarakat sipil menjadi kelompok paling rentan. Serangan tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga melalui sabotase siber terhadap layanan publik dan fasilitas vital.
Isu inilah yang menjadi konteks penting dalam Seminar Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan yang diselenggarakan PKMK FKKMK UGM pada Januari 2026. Seminar tersebut menempatkan perang modern, risiko nuklir, dan krisis multidimensi sebagai konteks global dalam pembahasan kesiapsiagaan sistem kesehatan dan manajemen bencana nasional.
Diskursus ini menegaskan bahwa bencana masa depan tidak lagi berdiri sendiri. Ia merupakan kombinasi antara konflik bersenjata, ancaman nuklir, perubahan iklim ekstrem, serta krisis kesehatan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan nasional tidak dapat bersifat sektoral atau reaktif, melainkan harus terintegrasi dalam satu sistem nasional lintas disiplin dan lintas lembaga.
Ancaman Nuklir dan Dampak Lintas Batas
Dalam pernyataan publiknya pada April 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa perang nuklir berskala global akan membawa dampak lintas negara, termasuk bagi Indonesia, terlepas dari posisi politik luar negeri bebas dan aktif yang dianut. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran bahwa dalam sistem global yang saling terhubung, tidak ada negara yang benar-benar kebal terhadap eskalasi konflik besar.
Ketegangan geopolitik global, termasuk pernyataan keras sejumlah pemimpin dunia, menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik strategis masih terbuka. Perang nuklir tidak hanya menimbulkan kehancuran langsung, tetapi juga menyebarkan radiasi lintas wilayah, mengganggu iklim global, merusak produksi pangan, serta memicu krisis kemanusiaan dan migrasi massal.
Dalam konteks ini, Indonesia berada pada posisi rentan bukan karena keterlibatan langsung, melainkan karena keterkaitan sistem global yang tidak terelakkan.
Regulasi Nasional: Kuat dalam Damai, Terbatas dalam Skenario Perang
Indonesia memiliki kerangka regulasi yang relatif kuat dalam pengelolaan ketenaganukliran untuk tujuan damai. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2012, serta Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Keselamatan Nuklir dan Radiasi menunjukkan komitmen negara terhadap keselamatan dan pengawasan radiasi.
Namun, kerangka regulasi tersebut pada dasarnya dirancang untuk skenario damai dan kecelakaan teknis, bukan untuk menghadapi dampak perang nuklir global yang bersifat lintas batas dan multidimensi. Hal ini menunjukkan adanya ruang kebijakan yang perlu diperluas, khususnya dalam konteks kesiapsiagaan nasional terhadap krisis geopolitik global.
Diplomasi dan Kesiapsiagaan: Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan
Secara diplomatik, Indonesia konsisten mengambil posisi anti-nuklir. Indonesia telah meratifikasi Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan berperan aktif dalam pembentukan Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ). Posisi ini memberikan legitimasi moral yang kuat di tingkat internasional.
Namun, diplomasi saja tidak cukup. Sikap anti-nuklir dan politik luar negeri bebas aktif tidak menggantikan kebutuhan akan kesiapsiagaan domestik. Bangsa yang tangguh bukanlah bangsa yang hanya berharap pada perdamaian, melainkan bangsa yang mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk.
Penutup: Kesadaran sebagai Fondasi Ketahanan
Estimasi ribuan korban dari pasukan Korea Utara di wilayah konflik Rusia–Ukraina merupakan peringatan keras tentang brutalitas perang modern terhadap pihak yang tidak siap. Indonesia memiliki peluang untuk belajar dari fenomena global ini tanpa harus mengalaminya secara langsung.
Melalui penguatan kebijakan, integrasi lintas sektor, dan kesadaran kolektif, kesiapsiagaan nasional dapat dibangun secara lebih matang. Diskusi dan kajian akademik, seperti yang dilakukan PKMK FKKMK UGM, menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan bangsa di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Kesadaran hari ini adalah modal utama untuk bertahan di masa depan.
Daftar Referensi
- Tempo.co. (2025). 2.000 Tentara Korea Utara Gugur di Perang Rusia–Ukraina.
https://www.tempo.co/internasional/2-000-tentara-korea-utara-gugur-di-perang-rusia-ukraina–2066114 - Tempo.co. (2025). Lebih dari 6.000 Tentara Korea Utara Jadi Korban Perang Rusia–Ukraina.
https://www.tempo.co/internasional/lebih-dari-6-000-tentara-korea-utara-jadi-korban-perang-rusia-ukraina-1715471 - Tribunnews Video. (2026). Perang Nuklir Akan Pecah? Rusia Ancam AS Jika Nekat Caplok Greenland.
https://video.tribunnews.com/news/904485/perang-nuklir-akan-pecah-rusia-ancam-as-jika-nekat-caplok-greenland-arktik-jadi-medan-pd-3 - Kompas.com. (2025). Prabowo: Kalau Terjadi Perang Nuklir, Kita Akan Kena.
https://nasional.kompas.com/read/2025/04/07/17532271/prabowo-kalau-terjadi-perang-nuklir-kita-akan-kena - Nuclear Threat Initiative (NTI). (2025). Indonesia: Treaties and Regimes Memberships.
https://www.nti.org/countries/indonesia/ - International Atomic Energy Agency (IAEA). (2024). Nuclear Safety, Security and Emergency Preparedness.
https://www.iaea.org/topics/nuclear-safety-and-security - Reuters. (2025). North Korea Troops and the Ukraine War: Intelligence Assessments.
https://www.reuters.com/world/ - United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2024). Global Risk Assessment and Systemic Crisis.
https://www.undrr.org/ - Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM. (2026). Seminar Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan: Risiko, Tantangan, dan Arah Penguatan Manajemen Bencana Kesehatan.
https://bencana-kesehatan.net/index.php/en/62-halaman/seminar-workshop/5895-seminar-outlook-divisi-manajemen-bencana-kesehatan-pkmk-fkkmk-ugm-risiko-tantangan-dan-arah-penguatan-manajemen-bencana-kesehatan - Universitas Gadjah Mada – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK). (2025). Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK).
https://research.fk.ugm.ac.id/pusat-kebijakan-dan-manajemen-kesehatan-pkmk/ - Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) BAPETEN. (2019). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Keselamatan Nuklir dan Radiasi.
https://jdih.bapeten.go.id/id/dokumen/peraturan/peraturan-presiden-no-60-tahun-2019-tentang-kebijakan-dan-strategi-nasional-keselamatan-nuklir-dan-radiasi - United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA). (2024). Global Humanitarian Overview: Conflict and Systemic Risk.
https://www.unocha.org/
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu suara perdamaian
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi perdamaian dunia karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





