Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Kita bahas soal Iran lagi. Sebab, banyak minta update. Cuma, kalau sudah bahas Iran, harus siapkan Koptagul, wajib! Sebab, war netizen dipastikan terjadi. Simak narasinya, wak
Iran hari ini bukan sedang krisis, tapi sedang ujian nasional kejujuran politik tingkat dewa. Setiap kali media Barat menulis angka korban demo di Iran, ratusan, ribuan, jawabannya selalu sama, konsisten, hafalan sejak zaman dinosaurus geopolitik, pasti propaganda Barat. Hoaks imperialis. Narasi Zionis. Produk pabrik CIA yang dikemas ulang oleh CNN. Pokoknya kalau yang menyebut angka itu bukan Teheran, maka otomatis salah, sesat, dan layak dibantah sambil mengepalkan tinju ideologis.
Masalahnya, babak Januari 2026 ini agak lain. Yang berbicara bukan HRW, bukan Amnesty, bukan jurnalis nakal Barat yang dituduh dibayar dolar. Yang berbicara adalah Ayatollah Ali Khamenei sendiri, Pemimpin Tertinggi Iran, orang yang kalau sudah bicara biasanya dianggap bukan opini, tapi wahyu politik. Dalam pidatonya pada Sabtu, 17 Januari 2026, Khamenei secara terbuka mengakui, korban jiwa demo Iran mencapai ribuan orang. Ribuan, wak. Bukan “katanya”, bukan “diduga”, tapi disebut langsung dari podium kekuasaan tertinggi Republik Islam.
Tentu saja, pengakuan ini tidak datang telanjang. Ia datang mengenakan jubah konspirasi global full set. Menurut Khamenei, ribuan korban itu bukan akibat inflasi yang meroket, bukan karena biaya hidup yang mencekik, bukan karena sistem ekonomi yang bikin rakyat megap-megap. Penyebabnya jelas dan rapi, mereka yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat. Bahkan Khamenei secara eksplisit menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai kriminal dan menuding keterlibatan langsung dalam aksi pemberontakan. Demo kali ini, katanya, berbeda karena presiden AS terlibat secara pribadi. Entah lewat Zoom, WhatsApp, atau mimpi buruk para pejabat Iran.
Pernyataan ini menarik. Karena, sebelumnya pemerintah Iran tidak pernah merilis angka resmi korban secara menyeluruh. Selama berminggu-minggu, yang diakui hanya ratusan orang tewas, termasuk dari kalangan pasukan keamanan. Sementara itu, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS mencatat lebih dari 3.000 orang tewas. Ada pula laporan yang menyebut angka korban jauh lebih tinggi, bahkan ada yang berani menyebut 20.000 orang, meski sulit diverifikasi akibat pemadaman internet nasional. Menurut NetBlocks, konektivitas internet Iran sempat turun hingga sekitar 2 persen dari kondisi normal, membuat verifikasi independen nyaris mustahil.
📚 Artikel Terkait
Demo sendiri pecah sejak 28 Desember 2025 di berbagai kota, dipicu oleh inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun versi resmi pemerintah menyebut aksi tersebut telah dibajak oleh kelompok kekerasan yang “diperlengkapi, dibiayai, dan dilatih” oleh aktor asing. Hingga pertengahan Januari, otoritas Iran juga mengakui sekitar 3.000 orang ditangkap terkait gelombang protes ini. Vandalisme, perusakan fasilitas umum, dan kerusuhan dijadikan bukti bahwa ini bukan sekadar unjuk rasa ekonomi.
Donald Trump merespons pidato Khamenei dengan gaya khasnya. Ia menyebut sudah saatnya Iran mengganti pemimpin, menuduh Khamenei menghancurkan negaranya sendiri, dan menyebut Iran sebagai tempat terburuk untuk ditinggali di dunia karena kepemimpinan yang buruk. Trump bahkan menyebut Khamenei sebagai orang sakit, sambil mengklaim, kepemimpinan sejati bukan soal ketakutan dan kematian.
Situasi keamanan yang memburuk membuat Selandia Baru dan Slovakia menutup sementara kedutaan besar mereka di Teheran. Seluruh staf diplomatik Selandia Baru dievakuasi melalui penerbangan komersial dan operasional kedutaan dipindahkan ke Ankara. Pemerintah Selandia Baru bahkan melarang warganya bepergian ke Iran dan mendesak yang masih berada di sana untuk segera pergi.
Di sinilah ironi besarnya, wak. Bertahun-tahun angka korban disebut propaganda Barat. Sekarang, ketika angka itu diakui sendiri oleh Pemimpin Tertinggi Iran, dunia justru makin gaduh. Sebab pengakuan ini bukan akhir kebohongan, melainkan awal babak baru: ketika ribuan nyawa resmi diakui tewas, tapi kebenaran tetap dipenjara bersama sinyal internet.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






