Dengarkan Artikel
Oleh Hasantoha Adnan Syahputra
Artikel Bung ReO Fiksiwan bertajuk “Das Kopitalisme” menarik untuk dicermati dan dikritisi. Narasinya berangkat dari kritik Marxis klasik: kopi telah menjadi komoditas, fetisisme, dan tanda. Argumennya diperkuat dengan nama besar lainnya, George Ritzer, melalui proses Mcdonaldization rasionalisasi konsumsi cepat saji yang menekankan efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol.
Namun justru di sanalah problemnya. Artikel itu terlalu rapi dan patuh pada logika kapital yang dikritiknya sendiri. Dalam membaca kopi semata sebagai produk kapitalisme lanjut, narasi ini tanpa sadar mengafirmasi asumsi dasar kapitalisme: bahwa dunia material pada akhirnya tunduk pada logika pasar.
Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia ekologi petabi hutan, saya kira kita perlu mengajukan keberatan mendasar: kopi tidak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan oleh kapitalisme.
Kopi Bukan Hanya Komoditas, Ia Adalah Aktor Non-human
Dalam banyak kosmologi petani kopi—di Gayo, Toraja, Bajawa, atau bahkan di tanah asalnya bermula Kafa-Ethiopia—kopi bukanlah benda mati. Ia adalah aktor non-human yang berelasi dengan tanah, air, jamur, burung, musim, dan manusia. Ia tumbuh lambat, sensitif, dan sering membangkang terhadap efisiensi.
Di sini memperlihatkan kritik dalam Das Kopitalisme terjebak dalam antroposentrisme modern: kopi diperlakukan semata sebagai objek ekonomi dan simbol budaya urban. Antropologi ekologi menunjukkan sebaliknya: kopi adalah aktor ekologis yang terus mengganggu logika kapital—melalui gagal panen, perubahan iklim, penyakit karat daun, dan ketergantungan pada perawatan kolektif. Kapitalisme ingin menjadikan kopi seragam. Namun alam membuatnya berbeda.
McDonaldisasi Tidak Pernah Total
George Ritzer benar soal rasionalisasi, tetapi Das Kopitalisme memperlakukannya seolah proses itu final dan total. Padahal, bahkan dalam warung kopi modern sekalipun, selalu ada retakan anarkis: barista yang “salah takar” demi menemukan rasa, petani yang menyelundupkan varietas lokal, kedai kecil lokalam yang menolak franchise, ataupun ritual ngopi yang berubah jadi ruang gosip, solidaritas, atau konspirasi kecil. macam Asiang bertelanjang dada meracik kopi di sudut Pontianak yang fajar baru menyingsing.
Anarkisme tidak mencari kemurnian di luar sistem, melainkan praktik pembangkangan mikro di dalamnya. Kopi justru subur sebagai medium karena ia mengundang jeda, lambat, dan percakapan—tiga hal yang dibenci kapitalisme.
Jika kapitalisme ingin kopi sebagai “take away”, manusia terus menggunakannya sebagai alasan untuk duduk lebih lama.
Fetisisme Komoditas Bukan Takdir Tunggal
📚 Artikel Terkait
Marx benar bahwa komoditas menyembunyikan relasi sosial. Namun, lagi-lagi, Das Kopitalisme berhenti di sana, seolah fetisisme adalah nasib akhir kopi. Padahal, anarkisme mengingatkan: fetisisme selalu bisa dibongkar melalui praktik langsung.
Ketika petani menjual langsung ke komunitas, konsumen mengenal kebun dan musim panen, hingga kopi diseduh bersama tanpa merek, nilai tukar tidak lenyap, tetapi kehilangan dominasinya. Yang muncul adalah nilai relasional: rasa, cerita, kerja, dan perawatan.
Dengan kata lain, kopi tidak hanya “teks kapitalisme”, tetapi juga arsip perlawanan sehari-hari.
Ruang Kopi Tidak Pernah Sepenuhnya Dijajah
Narasi Das Kopitalisme merindukan kedai kopi sebagai ruang politik masa lalu, seolah hari ini ruang itu mati. Ini lah nostalgia modernis.
Antropologi anarkis melihat politik tidak selalu hadir sebagai ide besar, melainkan sebagai gelak tawa sinis, praktek berhutang kopi, diskusi setengah mabuk, jaringan informal tanpa manifesto. Kedai kopi hari ini mungkin berlogo, tetapi percakapan di dalamnya sering melampaui niat pasar. Kapitalisme boleh menyewa ruang; tapi makna tetap liar.
Kopi sebagai Latihan Anarki Ekologis
Dalam perubahan iklim yang kian nyata sebagai krisis iklim, kopi menjadi tanaman rapuh. Ia memaksa manusia belajar tentang saling ketergantungan, keterbatasan, dan perlunya kerja kolektif lintas spesies.
Ini tentu saja bertentangan langsung dengan ideologi kapitalisme yang menekankan kontrol dan pertumbuhan tak terbatas. Setiap cangkir kopi sejatinya adalah pelajaran tentang ketidakberdaulatan manusia—bahwa rasa pahit manis tidak bisa diproduksi sepenuhnya oleh pasar.
Penutup: Kopi yang takkan pernah Tuntas
Jika Das Kopitalisme membaca kopi sebagai simbol dominasi, maka tulisan ini justru membacanya sebagai praktik yang selalu bocor dari sistem. Ada rembesan perlawanan kepada sistem.
Kopi memang dikomodifikasi, tetapi tidak pernah selesai menjadi komoditas. Ia selalu menyisakan ampas, percakapan, solidaritas kecil, dan kemungkinan hidup di luar logika laba.
Kopi tidak hanya harus “dibaca”. Ia harus dirawat, diperdebatkan, dan kadang disabotase secara halus.
Dan justru di situlah harapannya. Kopitalisme, Ndasmu! ☕
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






