• Latest
Kopitalisme, Ndasmu! - F93AFF9A 4CC0 44A1 A1F9 2FB99988DBBF | Artikel | Potret Online

Kopitalisme, Ndasmu!

Januari 18, 2026
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Kopitalisme, Ndasmu! - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Kopitalisme, Ndasmu! - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Artikel | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Kopitalisme, Ndasmu! - F93AFF9A 4CC0 44A1 A1F9 2FB99988DBBF | Artikel | Potret Online

Kopitalisme, Ndasmu!

Redaksi by Redaksi
Januari 18, 2026
in Artikel, Kapitalisme, Kopi
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hasantoha Adnan Syahputra

Artikel Bung ReO Fiksiwan bertajuk “Das Kopitalisme” menarik untuk dicermati dan dikritisi. Narasinya berangkat dari kritik Marxis klasik: kopi telah menjadi komoditas, fetisisme, dan tanda. Argumennya diperkuat dengan nama besar lainnya, George Ritzer, melalui proses Mcdonaldization rasionalisasi konsumsi cepat saji yang menekankan efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol.

Namun justru di sanalah problemnya. Artikel itu terlalu rapi dan patuh pada logika kapital yang dikritiknya sendiri. Dalam membaca kopi semata sebagai produk kapitalisme lanjut, narasi ini tanpa sadar mengafirmasi asumsi dasar kapitalisme: bahwa dunia material pada akhirnya tunduk pada logika pasar.

Baca Juga

85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Kopitalisme, Ndasmu! - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia ekologi petabi hutan, saya kira kita perlu mengajukan keberatan mendasar: kopi tidak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan oleh kapitalisme.

Kopi Bukan Hanya Komoditas, Ia Adalah Aktor Non-human

Dalam banyak kosmologi petani kopi—di Gayo, Toraja, Bajawa, atau bahkan di tanah asalnya bermula Kafa-Ethiopia—kopi bukanlah benda mati. Ia adalah aktor non-human yang berelasi dengan tanah, air, jamur, burung, musim, dan manusia. Ia tumbuh lambat, sensitif, dan sering membangkang terhadap efisiensi.

Di sini memperlihatkan kritik dalam Das Kopitalisme terjebak dalam antroposentrisme modern: kopi diperlakukan semata sebagai objek ekonomi dan simbol budaya urban. Antropologi ekologi menunjukkan sebaliknya: kopi adalah aktor ekologis yang terus mengganggu logika kapital—melalui gagal panen, perubahan iklim, penyakit karat daun, dan ketergantungan pada perawatan kolektif. Kapitalisme ingin menjadikan kopi seragam. Namun alam membuatnya berbeda.

McDonaldisasi Tidak Pernah Total

George Ritzer benar soal rasionalisasi, tetapi Das Kopitalisme memperlakukannya seolah proses itu final dan total. Padahal, bahkan dalam warung kopi modern sekalipun, selalu ada retakan anarkis: barista yang “salah takar” demi menemukan rasa, petani yang menyelundupkan varietas lokal, kedai kecil lokalam yang menolak franchise, ataupun ritual ngopi yang berubah jadi ruang gosip, solidaritas, atau konspirasi kecil. macam Asiang bertelanjang dada meracik kopi di sudut Pontianak yang fajar baru menyingsing.

Anarkisme tidak mencari kemurnian di luar sistem, melainkan praktik pembangkangan mikro di dalamnya. Kopi justru subur sebagai medium karena ia mengundang jeda, lambat, dan percakapan—tiga hal yang dibenci kapitalisme.
Jika kapitalisme ingin kopi sebagai “take away”, manusia terus menggunakannya sebagai alasan untuk duduk lebih lama.

Fetisisme Komoditas Bukan Takdir Tunggal

Marx benar bahwa komoditas menyembunyikan relasi sosial. Namun, lagi-lagi, Das Kopitalisme berhenti di sana, seolah fetisisme adalah nasib akhir kopi. Padahal, anarkisme mengingatkan: fetisisme selalu bisa dibongkar melalui praktik langsung.

Ketika petani menjual langsung ke komunitas, konsumen mengenal kebun dan musim panen, hingga kopi diseduh bersama tanpa merek, nilai tukar tidak lenyap, tetapi kehilangan dominasinya. Yang muncul adalah nilai relasional: rasa, cerita, kerja, dan perawatan.

Dengan kata lain, kopi tidak hanya “teks kapitalisme”, tetapi juga arsip perlawanan sehari-hari.

Ruang Kopi Tidak Pernah Sepenuhnya Dijajah

Narasi Das Kopitalisme merindukan kedai kopi sebagai ruang politik masa lalu, seolah hari ini ruang itu mati. Ini lah nostalgia modernis.

Antropologi anarkis melihat politik tidak selalu hadir sebagai ide besar, melainkan sebagai gelak tawa sinis, praktek berhutang kopi, diskusi setengah mabuk, jaringan informal tanpa manifesto. Kedai kopi hari ini mungkin berlogo, tetapi percakapan di dalamnya sering melampaui niat pasar. Kapitalisme boleh menyewa ruang; tapi makna tetap liar.

Kopi sebagai Latihan Anarki Ekologis

ADVERTISEMENT

Dalam perubahan iklim yang kian nyata sebagai krisis iklim, kopi menjadi tanaman rapuh. Ia memaksa manusia belajar tentang saling ketergantungan, keterbatasan, dan perlunya kerja kolektif lintas spesies.

Ini tentu saja bertentangan langsung dengan ideologi kapitalisme yang menekankan kontrol dan pertumbuhan tak terbatas. Setiap cangkir kopi sejatinya adalah pelajaran tentang ketidakberdaulatan manusia—bahwa rasa pahit manis tidak bisa diproduksi sepenuhnya oleh pasar.

Penutup: Kopi yang takkan pernah Tuntas

Jika Das Kopitalisme membaca kopi sebagai simbol dominasi, maka tulisan ini justru membacanya sebagai praktik yang selalu bocor dari sistem. Ada rembesan perlawanan kepada sistem.

Kopi memang dikomodifikasi, tetapi tidak pernah selesai menjadi komoditas. Ia selalu menyisakan ampas, percakapan, solidaritas kecil, dan kemungkinan hidup di luar logika laba.

Kopi tidak hanya harus “dibaca”. Ia harus dirawat, diperdebatkan, dan kadang disabotase secara halus.
Dan justru di situlah harapannya. Kopitalisme, Ndasmu! ☕

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 365x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 213x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Kopitalisme, Ndasmu! - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
Kopitalisme, Ndasmu! - IMG_9451 | Artikel | Potret Online

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com