POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kopitalisme, Ndasmu!

RedaksiOleh Redaksi
January 18, 2026
Kopitalisme, Ndasmu!
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hasantoha Adnan Syahputra

Artikel Bung ReO Fiksiwan bertajuk “Das Kopitalisme” menarik untuk dicermati dan dikritisi. Narasinya berangkat dari kritik Marxis klasik: kopi telah menjadi komoditas, fetisisme, dan tanda. Argumennya diperkuat dengan nama besar lainnya, George Ritzer, melalui proses Mcdonaldization rasionalisasi konsumsi cepat saji yang menekankan efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol.

Namun justru di sanalah problemnya. Artikel itu terlalu rapi dan patuh pada logika kapital yang dikritiknya sendiri. Dalam membaca kopi semata sebagai produk kapitalisme lanjut, narasi ini tanpa sadar mengafirmasi asumsi dasar kapitalisme: bahwa dunia material pada akhirnya tunduk pada logika pasar.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia ekologi petabi hutan, saya kira kita perlu mengajukan keberatan mendasar: kopi tidak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan oleh kapitalisme.

Kopi Bukan Hanya Komoditas, Ia Adalah Aktor Non-human

Dalam banyak kosmologi petani kopi—di Gayo, Toraja, Bajawa, atau bahkan di tanah asalnya bermula Kafa-Ethiopia—kopi bukanlah benda mati. Ia adalah aktor non-human yang berelasi dengan tanah, air, jamur, burung, musim, dan manusia. Ia tumbuh lambat, sensitif, dan sering membangkang terhadap efisiensi.

Di sini memperlihatkan kritik dalam Das Kopitalisme terjebak dalam antroposentrisme modern: kopi diperlakukan semata sebagai objek ekonomi dan simbol budaya urban. Antropologi ekologi menunjukkan sebaliknya: kopi adalah aktor ekologis yang terus mengganggu logika kapital—melalui gagal panen, perubahan iklim, penyakit karat daun, dan ketergantungan pada perawatan kolektif. Kapitalisme ingin menjadikan kopi seragam. Namun alam membuatnya berbeda.

McDonaldisasi Tidak Pernah Total

George Ritzer benar soal rasionalisasi, tetapi Das Kopitalisme memperlakukannya seolah proses itu final dan total. Padahal, bahkan dalam warung kopi modern sekalipun, selalu ada retakan anarkis: barista yang “salah takar” demi menemukan rasa, petani yang menyelundupkan varietas lokal, kedai kecil lokalam yang menolak franchise, ataupun ritual ngopi yang berubah jadi ruang gosip, solidaritas, atau konspirasi kecil. macam Asiang bertelanjang dada meracik kopi di sudut Pontianak yang fajar baru menyingsing.

Anarkisme tidak mencari kemurnian di luar sistem, melainkan praktik pembangkangan mikro di dalamnya. Kopi justru subur sebagai medium karena ia mengundang jeda, lambat, dan percakapan—tiga hal yang dibenci kapitalisme.
Jika kapitalisme ingin kopi sebagai “take away”, manusia terus menggunakannya sebagai alasan untuk duduk lebih lama.

Fetisisme Komoditas Bukan Takdir Tunggal

📚 Artikel Terkait

Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Inbound Universitas Samudra Langsa

Anak Bukan Utang

Pentingnya Membaca untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis

Perjalanan yang Tak Pernah Kembali

Marx benar bahwa komoditas menyembunyikan relasi sosial. Namun, lagi-lagi, Das Kopitalisme berhenti di sana, seolah fetisisme adalah nasib akhir kopi. Padahal, anarkisme mengingatkan: fetisisme selalu bisa dibongkar melalui praktik langsung.

Ketika petani menjual langsung ke komunitas, konsumen mengenal kebun dan musim panen, hingga kopi diseduh bersama tanpa merek, nilai tukar tidak lenyap, tetapi kehilangan dominasinya. Yang muncul adalah nilai relasional: rasa, cerita, kerja, dan perawatan.

Dengan kata lain, kopi tidak hanya “teks kapitalisme”, tetapi juga arsip perlawanan sehari-hari.

Ruang Kopi Tidak Pernah Sepenuhnya Dijajah

Narasi Das Kopitalisme merindukan kedai kopi sebagai ruang politik masa lalu, seolah hari ini ruang itu mati. Ini lah nostalgia modernis.

Antropologi anarkis melihat politik tidak selalu hadir sebagai ide besar, melainkan sebagai gelak tawa sinis, praktek berhutang kopi, diskusi setengah mabuk, jaringan informal tanpa manifesto. Kedai kopi hari ini mungkin berlogo, tetapi percakapan di dalamnya sering melampaui niat pasar. Kapitalisme boleh menyewa ruang; tapi makna tetap liar.

Kopi sebagai Latihan Anarki Ekologis

Dalam perubahan iklim yang kian nyata sebagai krisis iklim, kopi menjadi tanaman rapuh. Ia memaksa manusia belajar tentang saling ketergantungan, keterbatasan, dan perlunya kerja kolektif lintas spesies.

Ini tentu saja bertentangan langsung dengan ideologi kapitalisme yang menekankan kontrol dan pertumbuhan tak terbatas. Setiap cangkir kopi sejatinya adalah pelajaran tentang ketidakberdaulatan manusia—bahwa rasa pahit manis tidak bisa diproduksi sepenuhnya oleh pasar.

Penutup: Kopi yang takkan pernah Tuntas

Jika Das Kopitalisme membaca kopi sebagai simbol dominasi, maka tulisan ini justru membacanya sebagai praktik yang selalu bocor dari sistem. Ada rembesan perlawanan kepada sistem.

Kopi memang dikomodifikasi, tetapi tidak pernah selesai menjadi komoditas. Ia selalu menyisakan ampas, percakapan, solidaritas kecil, dan kemungkinan hidup di luar logika laba.

Kopi tidak hanya harus “dibaca”. Ia harus dirawat, diperdebatkan, dan kadang disabotase secara halus.
Dan justru di situlah harapannya. Kopitalisme, Ndasmu! ☕

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00