• Latest

Mengenang Kejayaan Istana Alhambra sampai Islam di Spanyol Hilang

Januari 17, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengenang Kejayaan Istana Alhambra sampai Islam di Spanyol Hilang

Redaksiby Redaksi
Januari 17, 2026
Reading Time: 4 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Masih dalam suasana peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Saya ingin membahas sebuah sejarah keberadaan Islam di Spanyol. Di sana ada istana megah, indah masih berdiri, sisa peninggalan Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid. Istana itu masih terawat dengan baik sampai saat ini. Sayangnya, tidak ada lagi Islam di sana. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!

Di atas sebuah bukit bernama Sabika, menghadap kota Granada yang tenang dan pegunungan Sierra Nevada yang dingin, berdirilah Istana Alhambra. Dari kejauhan ia tampak seperti benteng biasa, berwarna merah kecokelatan, seolah menyatu dengan tanah. Tapi begitu melangkah masuk, orang segera sadar, ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah sisa napas terakhir peradaban Islam di Eropa Barat, yang kini hanya tinggal dinding, air mancur, dan kaligrafi, tanpa manusianya.

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Alhambra mulai dibangun pada abad ke-13, ketika kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia sudah sekarat. Kerajaan-kerajaan Kristen dari utara menekan tanpa henti, dan satu per satu wilayah Islam runtuh. Yang tersisa hanyalah Granada, kerajaan kecil yang bertahan bukan karena kuat, melainkan karena cerdas bernegosiasi. Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid, memilih strategi bertahan hidup, membayar upeti kepada kerajaan Kristen sambil membangun simbol kejayaan dari dalam. Dari pilihan itulah Alhambra lahir.

Istana ini dibangun bukan dengan kemewahan mencolok ala istana Eropa, tetapi dengan filosofi Islam yang sederhana dan dalam. Tidak ada patung raja yang menonjolkan keagungan diri. Yang ada justru kaligrafi, pola geometri, taman, dan air yang mengalir tenang. Dinding-dindingnya dipenuhi tulisan Arab yang berulang-ulang mengingatkan satu hal, “Wa la ghaliba illa Allah” tiada kemenangan selain milik Allah. Ironisnya, kalimat ini diukir justru saat kekalahan sudah menunggu di tikungan sejarah.

Selama lebih dari dua abad, Alhambra menjadi pusat pemerintahan, benteng pertahanan, dan istana para sultan Nasrid. Di sinilah hukum dibuat, seni berkembang, ilmu pengetahuan dijaga, dan kehidupan Islam berjalan berdampingan dengan komunitas Yahudi dan Kristen. Granada menjadi contoh hidup bahwa perbedaan bisa diatur tanpa saling memusnahkan. Setidaknya, sampai kekuasaan berubah tangan.

Tahun 1492, Granada menyerah. Bukan dengan ledakan meriam besar, tapi dengan perjanjian tertulis. Sultan terakhir, Abu ‘Abdillah yang oleh sejarah Barat dipanggil Boabdil menyerahkan kunci kota kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dunia Kristen merayakannya sebagai kemenangan iman, sementara dunia Islam mencatatnya sebagai akhir sebuah zaman. Perjanjian Granada menjanjikan umat Islam kebebasan beragama, perlindungan masjid, dan hak menjalankan tradisi. Di atas kertas, Islam masih hidup. Di kenyataan, ia mulai dihitung mundur.

Beberapa tahun pertama, Alhambra masih berdiri sebagai simbol masa lalu yang “dibiarkan”. Muslim masih shalat, bahasa Arab masih terdengar, dan kehidupan berjalan seolah janji ditepati. Tapi negara tidak suka keberadaan identitas yang tidak tunduk sepenuhnya. Ketika pendekatan damai gagal membuat Muslim berpindah agama, cara halus diganti dengan cara cepat. Kitab-kitab Arab dibakar. Ulama dipenjara. Baptisan dipaksakan. Perjanjian dianggap gugur, bukan karena dilanggar penguasa, tetapi karena rakyat berani bertahan menjadi diri sendiri.

Masjid-masjid diubah menjadi gereja. Alhambra, yang dulu penuh doa Islam, mulai menjadi istana Kristen. Bahkan Istana Charles V dibangun di tengah kompleksnya, bangunan besar bergaya Renaissance, seolah ingin berkata, sejarah lama sudah ditindih sejarah baru. Islam tidak dihancurkan sekaligus, tapi dipaksa berganti nama, berganti pakaian, berganti kebiasaan, sampai lupa siapa dirinya.

Umat Islam yang tersisa dipaksa menjadi Kristen dan disebut Morisco. Secara resmi mereka “selamat”, tapi setiap gerak mereka diawasi. Tidak makan babi dianggap mencurigakan. Mandi terlalu sering dianggap bid’ah. Bahasa Arab dilarang karena terlalu jujur mengingatkan masa lalu. Inkuisisi mengintip dapur, memeriksa panci, dan menghitung iman dari menu makan malam. Islam tidak lagi punya masjid, ia bersembunyi di bisikan, di ingatan, dan di rumah-rumah yang penuh ketakutan.

Akhirnya negara memutuskan, menyamar saja tidak cukup. Antara tahun 1609 hingga 1614, seluruh Morisco diusir dari Spanyol. Ratusan ribu manusia dipaksa pergi dari tanah yang telah mereka bangun berabad-abad. Banyak yang mati di laut, banyak yang tidak pernah sampai. Spanyol pun “bersih”. Tidak ada lagi Islam, setidaknya secara resmi.

Yang tersisa hanyalah Alhambra. Ia berdiri indah, dikagumi wisatawan, difoto dari segala sudut, dan dipuji sebagai warisan dunia. Tapi dindingnya menyimpan ironi: keindahan yang lahir dari peradaban yang dihapus. Islam di Spanyol tidak hilang karena bangunannya runtuh, tetapi karena manusianya disingkirkan. Alhambra menjadi saksi bisu, kejayaan bisa diawetkan sebagai museum, sementara pemeluknya dihapus dari ingatan kolektif.

Sampai hari ini, kaligrafi itu masih ada di dinding Alhambra, mengulang kalimat yang sama, pelan dan pahit, tiada kemenangan selain milik Allah, meski manusia sering merasa sebaliknya.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
POTRET yang Lahir Dari Kata Merawat Literasi, Menjaga Zaman

POTRET yang Lahir Dari Kata Merawat Literasi, Menjaga Zaman

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com