Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Masih dalam suasana peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Saya ingin membahas sebuah sejarah keberadaan Islam di Spanyol. Di sana ada istana megah, indah masih berdiri, sisa peninggalan Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid. Istana itu masih terawat dengan baik sampai saat ini. Sayangnya, tidak ada lagi Islam di sana. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!
Di atas sebuah bukit bernama Sabika, menghadap kota Granada yang tenang dan pegunungan Sierra Nevada yang dingin, berdirilah Istana Alhambra. Dari kejauhan ia tampak seperti benteng biasa, berwarna merah kecokelatan, seolah menyatu dengan tanah. Tapi begitu melangkah masuk, orang segera sadar, ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah sisa napas terakhir peradaban Islam di Eropa Barat, yang kini hanya tinggal dinding, air mancur, dan kaligrafi, tanpa manusianya.
Alhambra mulai dibangun pada abad ke-13, ketika kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia sudah sekarat. Kerajaan-kerajaan Kristen dari utara menekan tanpa henti, dan satu per satu wilayah Islam runtuh. Yang tersisa hanyalah Granada, kerajaan kecil yang bertahan bukan karena kuat, melainkan karena cerdas bernegosiasi. Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid, memilih strategi bertahan hidup, membayar upeti kepada kerajaan Kristen sambil membangun simbol kejayaan dari dalam. Dari pilihan itulah Alhambra lahir.
Istana ini dibangun bukan dengan kemewahan mencolok ala istana Eropa, tetapi dengan filosofi Islam yang sederhana dan dalam. Tidak ada patung raja yang menonjolkan keagungan diri. Yang ada justru kaligrafi, pola geometri, taman, dan air yang mengalir tenang. Dinding-dindingnya dipenuhi tulisan Arab yang berulang-ulang mengingatkan satu hal, “Wa la ghaliba illa Allah” tiada kemenangan selain milik Allah. Ironisnya, kalimat ini diukir justru saat kekalahan sudah menunggu di tikungan sejarah.
Selama lebih dari dua abad, Alhambra menjadi pusat pemerintahan, benteng pertahanan, dan istana para sultan Nasrid. Di sinilah hukum dibuat, seni berkembang, ilmu pengetahuan dijaga, dan kehidupan Islam berjalan berdampingan dengan komunitas Yahudi dan Kristen. Granada menjadi contoh hidup bahwa perbedaan bisa diatur tanpa saling memusnahkan. Setidaknya, sampai kekuasaan berubah tangan.
Tahun 1492, Granada menyerah. Bukan dengan ledakan meriam besar, tapi dengan perjanjian tertulis. Sultan terakhir, Abu ‘Abdillah yang oleh sejarah Barat dipanggil Boabdil menyerahkan kunci kota kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dunia Kristen merayakannya sebagai kemenangan iman, sementara dunia Islam mencatatnya sebagai akhir sebuah zaman. Perjanjian Granada menjanjikan umat Islam kebebasan beragama, perlindungan masjid, dan hak menjalankan tradisi. Di atas kertas, Islam masih hidup. Di kenyataan, ia mulai dihitung mundur.
📚 Artikel Terkait
Beberapa tahun pertama, Alhambra masih berdiri sebagai simbol masa lalu yang “dibiarkan”. Muslim masih shalat, bahasa Arab masih terdengar, dan kehidupan berjalan seolah janji ditepati. Tapi negara tidak suka keberadaan identitas yang tidak tunduk sepenuhnya. Ketika pendekatan damai gagal membuat Muslim berpindah agama, cara halus diganti dengan cara cepat. Kitab-kitab Arab dibakar. Ulama dipenjara. Baptisan dipaksakan. Perjanjian dianggap gugur, bukan karena dilanggar penguasa, tetapi karena rakyat berani bertahan menjadi diri sendiri.
Masjid-masjid diubah menjadi gereja. Alhambra, yang dulu penuh doa Islam, mulai menjadi istana Kristen. Bahkan Istana Charles V dibangun di tengah kompleksnya, bangunan besar bergaya Renaissance, seolah ingin berkata, sejarah lama sudah ditindih sejarah baru. Islam tidak dihancurkan sekaligus, tapi dipaksa berganti nama, berganti pakaian, berganti kebiasaan, sampai lupa siapa dirinya.
Umat Islam yang tersisa dipaksa menjadi Kristen dan disebut Morisco. Secara resmi mereka “selamat”, tapi setiap gerak mereka diawasi. Tidak makan babi dianggap mencurigakan. Mandi terlalu sering dianggap bid’ah. Bahasa Arab dilarang karena terlalu jujur mengingatkan masa lalu. Inkuisisi mengintip dapur, memeriksa panci, dan menghitung iman dari menu makan malam. Islam tidak lagi punya masjid, ia bersembunyi di bisikan, di ingatan, dan di rumah-rumah yang penuh ketakutan.
Akhirnya negara memutuskan, menyamar saja tidak cukup. Antara tahun 1609 hingga 1614, seluruh Morisco diusir dari Spanyol. Ratusan ribu manusia dipaksa pergi dari tanah yang telah mereka bangun berabad-abad. Banyak yang mati di laut, banyak yang tidak pernah sampai. Spanyol pun “bersih”. Tidak ada lagi Islam, setidaknya secara resmi.
Yang tersisa hanyalah Alhambra. Ia berdiri indah, dikagumi wisatawan, difoto dari segala sudut, dan dipuji sebagai warisan dunia. Tapi dindingnya menyimpan ironi: keindahan yang lahir dari peradaban yang dihapus. Islam di Spanyol tidak hilang karena bangunannya runtuh, tetapi karena manusianya disingkirkan. Alhambra menjadi saksi bisu, kejayaan bisa diawetkan sebagai museum, sementara pemeluknya dihapus dari ingatan kolektif.
Sampai hari ini, kaligrafi itu masih ada di dinding Alhambra, mengulang kalimat yang sama, pelan dan pahit, tiada kemenangan selain milik Allah, meski manusia sering merasa sebaliknya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






