POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenang Kejayaan Istana Alhambra sampai Islam di Spanyol Hilang

RedaksiOleh Redaksi
January 17, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Masih dalam suasana peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Saya ingin membahas sebuah sejarah keberadaan Islam di Spanyol. Di sana ada istana megah, indah masih berdiri, sisa peninggalan Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid. Istana itu masih terawat dengan baik sampai saat ini. Sayangnya, tidak ada lagi Islam di sana. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!

Di atas sebuah bukit bernama Sabika, menghadap kota Granada yang tenang dan pegunungan Sierra Nevada yang dingin, berdirilah Istana Alhambra. Dari kejauhan ia tampak seperti benteng biasa, berwarna merah kecokelatan, seolah menyatu dengan tanah. Tapi begitu melangkah masuk, orang segera sadar, ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah sisa napas terakhir peradaban Islam di Eropa Barat, yang kini hanya tinggal dinding, air mancur, dan kaligrafi, tanpa manusianya.

Alhambra mulai dibangun pada abad ke-13, ketika kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia sudah sekarat. Kerajaan-kerajaan Kristen dari utara menekan tanpa henti, dan satu per satu wilayah Islam runtuh. Yang tersisa hanyalah Granada, kerajaan kecil yang bertahan bukan karena kuat, melainkan karena cerdas bernegosiasi. Muhammad I Ibn al-Ahmar, pendiri Dinasti Nasrid, memilih strategi bertahan hidup, membayar upeti kepada kerajaan Kristen sambil membangun simbol kejayaan dari dalam. Dari pilihan itulah Alhambra lahir.

Istana ini dibangun bukan dengan kemewahan mencolok ala istana Eropa, tetapi dengan filosofi Islam yang sederhana dan dalam. Tidak ada patung raja yang menonjolkan keagungan diri. Yang ada justru kaligrafi, pola geometri, taman, dan air yang mengalir tenang. Dinding-dindingnya dipenuhi tulisan Arab yang berulang-ulang mengingatkan satu hal, “Wa la ghaliba illa Allah” tiada kemenangan selain milik Allah. Ironisnya, kalimat ini diukir justru saat kekalahan sudah menunggu di tikungan sejarah.

Selama lebih dari dua abad, Alhambra menjadi pusat pemerintahan, benteng pertahanan, dan istana para sultan Nasrid. Di sinilah hukum dibuat, seni berkembang, ilmu pengetahuan dijaga, dan kehidupan Islam berjalan berdampingan dengan komunitas Yahudi dan Kristen. Granada menjadi contoh hidup bahwa perbedaan bisa diatur tanpa saling memusnahkan. Setidaknya, sampai kekuasaan berubah tangan.

Tahun 1492, Granada menyerah. Bukan dengan ledakan meriam besar, tapi dengan perjanjian tertulis. Sultan terakhir, Abu ‘Abdillah yang oleh sejarah Barat dipanggil Boabdil menyerahkan kunci kota kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dunia Kristen merayakannya sebagai kemenangan iman, sementara dunia Islam mencatatnya sebagai akhir sebuah zaman. Perjanjian Granada menjanjikan umat Islam kebebasan beragama, perlindungan masjid, dan hak menjalankan tradisi. Di atas kertas, Islam masih hidup. Di kenyataan, ia mulai dihitung mundur.

📚 Artikel Terkait

Untuk Kamu Yang Ingin Menetap

Eleği Negeriku  Yang Gelap Gulita

Sekolah Rakyat

Apakah Sudah Seharusnya Aceh Merdeka?

Beberapa tahun pertama, Alhambra masih berdiri sebagai simbol masa lalu yang “dibiarkan”. Muslim masih shalat, bahasa Arab masih terdengar, dan kehidupan berjalan seolah janji ditepati. Tapi negara tidak suka keberadaan identitas yang tidak tunduk sepenuhnya. Ketika pendekatan damai gagal membuat Muslim berpindah agama, cara halus diganti dengan cara cepat. Kitab-kitab Arab dibakar. Ulama dipenjara. Baptisan dipaksakan. Perjanjian dianggap gugur, bukan karena dilanggar penguasa, tetapi karena rakyat berani bertahan menjadi diri sendiri.

Masjid-masjid diubah menjadi gereja. Alhambra, yang dulu penuh doa Islam, mulai menjadi istana Kristen. Bahkan Istana Charles V dibangun di tengah kompleksnya, bangunan besar bergaya Renaissance, seolah ingin berkata, sejarah lama sudah ditindih sejarah baru. Islam tidak dihancurkan sekaligus, tapi dipaksa berganti nama, berganti pakaian, berganti kebiasaan, sampai lupa siapa dirinya.

Umat Islam yang tersisa dipaksa menjadi Kristen dan disebut Morisco. Secara resmi mereka “selamat”, tapi setiap gerak mereka diawasi. Tidak makan babi dianggap mencurigakan. Mandi terlalu sering dianggap bid’ah. Bahasa Arab dilarang karena terlalu jujur mengingatkan masa lalu. Inkuisisi mengintip dapur, memeriksa panci, dan menghitung iman dari menu makan malam. Islam tidak lagi punya masjid, ia bersembunyi di bisikan, di ingatan, dan di rumah-rumah yang penuh ketakutan.

Akhirnya negara memutuskan, menyamar saja tidak cukup. Antara tahun 1609 hingga 1614, seluruh Morisco diusir dari Spanyol. Ratusan ribu manusia dipaksa pergi dari tanah yang telah mereka bangun berabad-abad. Banyak yang mati di laut, banyak yang tidak pernah sampai. Spanyol pun “bersih”. Tidak ada lagi Islam, setidaknya secara resmi.

Yang tersisa hanyalah Alhambra. Ia berdiri indah, dikagumi wisatawan, difoto dari segala sudut, dan dipuji sebagai warisan dunia. Tapi dindingnya menyimpan ironi: keindahan yang lahir dari peradaban yang dihapus. Islam di Spanyol tidak hilang karena bangunannya runtuh, tetapi karena manusianya disingkirkan. Alhambra menjadi saksi bisu, kejayaan bisa diawetkan sebagai museum, sementara pemeluknya dihapus dari ingatan kolektif.

Sampai hari ini, kaligrafi itu masih ada di dinding Alhambra, mengulang kalimat yang sama, pelan dan pahit, tiada kemenangan selain milik Allah, meski manusia sering merasa sebaliknya.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
POTRET yang Lahir Dari Kata Merawat Literasi, Menjaga Zaman

POTRET yang Lahir Dari Kata Merawat Literasi, Menjaga Zaman

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00