Dengarkan Artikel
Oleh Andi Kurniawan
Tujuh hari tujuh malam, langit mendung disertai hujan tanpa henti, terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Tak ada yang tahu, bahwa air di dalam gunung sedang bersiap turun dari hulu sampai ke hilir, tepatnya pada tanggal 26 November 2025 di beberapa desa yang berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai Jambo Aye dan DAM Jambo Aye seperti Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Pada pukul 5 sore, air sudah mulai meluap ke pemukiman, sehingga memaksa warganya untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Menurut kesaksian salah satu korban yang kami jumpai di Huntara, menceritakan salah seorang tetangganya yang menyelamatkan diri dengan memanjat pohon. Namun jatuh ke dalam air karena sudah lemas tidak sanggup lagi bertahan selama dua hari dua malam tanpa makanan.
Air banjir bandang terus mengalir mengikuti aliran sungai dan menerjang sejumlah kecamatan di Aceh utara. Saat kami berkunjung di salah satu Pesantren/Dayah Bustanul Thayyibah di Gampong Alue Ie Mirah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Kondisi Dayah sangat parah, karena letak Dayah hanya beberapa meter dari pinggir sungai yang tersambung ke sungai Jambo Aye.
Air sungai belakang Dayah mulai meluap pada tengah malam Kamis, tanggal 27 November 2025. Para santri dan guru serta pimpinan Dayah pukul 2 malam sudah dipaksa untuk meninggalkan Dayah, menyelematkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Pimpinan Dayah pada saat itu, Ummi Rajabah tidak dapat pergi terlalu jauh lagi, karena sudah terjebak oleh air banjir yang deras. Meunasah atau Mushalla kampung tetangga yang lumayan tinggi menjadi penyelamat bagi Ummi dan guru serta santri yang bersamanya.
📚 Artikel Terkait
Alhamdulillah tidak ada korban jiwa yang meninggal dunia, santri, dewan guru semuanya selamat. Namun mereka tidak sempat menyelamatkan apapun yang ada di Dayah. Seperti kitab-kitab yang menjadi bahan utama dalam proses belajar mengajar semua direndam oleh banjir dan lumpur. Begitu juga dengan bilik santri dan segala macam peralatan dapur, kesekretariatan dan mushalla. Semuanya harus ditata ulang kembali.
Sampai hari ini lumpur di bilik santri masih tertanam. Sebagian santri belum kembali ke Dayah, karena kondisi Dayah memang belum layak tinggal apalagi untuk melakukan proses belajar.
Sebelum banjir melanda, Dayah tidak hanya tempat belajar anak muda-mudi yang sedang menuntut ilmu agama. Ada juga pengajian bagi ibu-ibu kampung sekitar yang dipimpin langsung oleh Ummi Rajabah selaku pimpinan Dayah.
Di tengah keterbatasan, para santri dan guru tetap berusaha tegar. Dengan peralatan seadanya, mereka membersihkan lumpur dan mengeringkan kitab yang masih bisa diselamatkan. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk memulihkan Dayah seperti sediakala. Dibutuhkan uluran tangan dari para dermawan agar para santri dapat kembali belajar dengan nyaman dan aman. Apa institusi sebesar Badan Dayah yang ada di ibu kota propinsi Banda Aceh, menutup mata?
Jika di sekolah formal, di bawah naungan kementrian pendidikan dasar dan menengah. Ada TNI dan ASN yang membersihkan dan sejumlah bantuan untuk siswa, guru dan sekolah. Apakah hal terserupa juga dapat diperoleh oleh santri, guru dan prasarana di Dayah?. Mengingat kedua lembaga pendidikan ini memiliki peran yang sama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Melalui tulisan ini, kami mengajak para pembaca untuk bersama-sama membantu Dayah Bustanul Thayyibah yang terdampak banjir bandang. Bantuan sekecil apa pun sangat berarti untuk memperbaiki fasilitas, mengganti perlengkapan belajar, dan mengembalikan semangat para santri dalam menuntut ilmu. Semoga kepedulian kita menjadi jalan bagi mereka untuk bangkit kembali dan melanjutkan perjuangan menimba ilmu agama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






