Dengarkan Artikel
Oleh: Ilhamdi Sulaiman
Warkop Babe Togap sore itu sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan sendok yang sesekali beradu dengan gelas kopi. Asap rokok tidak lagi ramai seperti biasanya, seolah ikut menahan diri.
Boy dan Ilham duduk berhadapan. Di antara mereka, dua gelas kopi yang mulai dingin.
Ilham menatap cairan hitam itu lama, seakan sedang membaca nasibnya sendiri.
“Boy,” katanya pelan, “pernah kau pikirkan… kenapa banyak orang Cina tampak lebih sejahtera dari sebagian umat Islam?”
Boy mengangkat kepala.
“Mungkin karena mereka terbiasa berdagang. Disiplin. Kerja keras. Dari kecil sudah diajarkan mandiri.”
Ilham mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Ada benarnya. Tapi aku pernah mendengar orang bercanda soal ini. Katanya karena cara berdoa.”
Boy menoleh.
“Cara berdoa?”
Ilham mengangkat tangannya memegang hio sebentar, lalu menurunkannya berulang kali.
“Orang bilang, mereka berdoa seakan menjemput rezeki, sementara kita menadah menunggu. Tapi tentu itu hanya kiasan.”
Boy tersenyum samar.
“Yang menentukan bukan posisi tangan,” katanya, “melainkan gerak kaki dan arah hidup.”
Ilham menghela napas.
“Benar. Islam tidak pernah mengajarkan menunggu tanpa usaha. Rezeki dicari, bukan sekadar diminta.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
“Tapi ada hal lain yang lebih menggangguku.”
Boy menunggu.
“Ada orang Islam yang kaya raya,” kata Ilham lirih, “namun hidupnya gelisah. Tidak tenang. Tidak bahagia.”
📚 Artikel Terkait
Boy mengangguk pelan.
“Aku juga melihatnya.”
“Karena ia lupa bersyukur,” lanjut Ilham. “Ia merasa semua datang dari kepandaiannya sendiri. Dari siasatnya. Dari kerja kerasnya. Ia lupa bahwa semua itu titipan.”
Boy menatap meja.
“Itulah kufur nikmat,” katanya pelan.
“Rezekinya bertambah, tapi hatinya mengering.”
Ilham mengangguk.
“Masjid baginya hanya bangunan. Tetangga hanya latar. Orang miskin hanya pemandangan.”
“Dunia ia kejar,” sambung Boy, “akhirat ia tangguhkan. Seolah hidup ini tak akan selesai.”
Ilham merapatkan kedua tangannya di atas meja.
“Padahal Islam mengajarkan keseimbangan. Hablum minallah… hubungan dengan Allah.”
Boy melanjutkan,
“Hablum minannas… hubungan dengan manusia.”
“Jika salah satu pincang,” kata Ilham, “hidup pun ikut timpang. Kaya menjadi beban, bukan ketenangan.”
Boy tersenyum tipis, pahit.
“Berarti bukan kekayaan yang membuat bahagia, tapi keberkahan.”
Ilham mengangguk mantap.
“Dan keberkahan lahir dari syukur, usaha yang jujur, dan ingat bahwa kita ini hanya hamba.”
Mereka terdiam lama.
Kopi di hadapan mereka telah dingin sepenuhnya.
Dari balik meja, Babe Togap berkata lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri,
“Kalau begitu, yang miskin jangan putus asa… dan yang kaya jangan lupa pulang.”
Boy dan Ilham saling pandang.
Dalam diam, mereka paham:
doa bukan tentang arah tangan,
melainkan arah hati.
Dan rezeki bukan tentang seberapa banyak yang digenggam,
tetapi seberapa banyak yang disyukuri dan dibagikan.
Tamat.
Penutup tahun 2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






