• Latest

Arah Tangan, Arah Hidup

Januari 13, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Arah Tangan, Arah Hidup

Ilhamdi Sulaiman by Ilhamdi Sulaiman
Januari 13, 2026
in #Cerpen
Reading Time: 2 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: Ilhamdi Sulaiman

Warkop Babe Togap sore itu sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan sendok yang sesekali beradu dengan gelas kopi. Asap rokok tidak lagi ramai seperti biasanya, seolah ikut menahan diri.


Boy dan Ilham duduk berhadapan. Di antara mereka, dua gelas kopi yang mulai dingin.
Ilham menatap cairan hitam itu lama, seakan sedang membaca nasibnya sendiri.
“Boy,” katanya pelan, “pernah kau pikirkan… kenapa banyak orang Cina tampak lebih sejahtera dari sebagian umat Islam?”

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026


Boy mengangkat kepala.
“Mungkin karena mereka terbiasa berdagang. Disiplin. Kerja keras. Dari kecil sudah diajarkan mandiri.”
Ilham mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Ada benarnya. Tapi aku pernah mendengar orang bercanda soal ini. Katanya karena cara berdoa.”
Boy menoleh.
“Cara berdoa?”


Ilham mengangkat tangannya memegang hio sebentar, lalu menurunkannya berulang kali.
“Orang bilang, mereka berdoa seakan menjemput rezeki, sementara kita menadah menunggu. Tapi tentu itu hanya kiasan.”
Boy tersenyum samar.


“Yang menentukan bukan posisi tangan,” katanya, “melainkan gerak kaki dan arah hidup.”
Ilham menghela napas.
“Benar. Islam tidak pernah mengajarkan menunggu tanpa usaha. Rezeki dicari, bukan sekadar diminta.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
“Tapi ada hal lain yang lebih menggangguku.”
Boy menunggu.
“Ada orang Islam yang kaya raya,” kata Ilham lirih, “namun hidupnya gelisah. Tidak tenang. Tidak bahagia.”


Boy mengangguk pelan.
“Aku juga melihatnya.”
“Karena ia lupa bersyukur,” lanjut Ilham. “Ia merasa semua datang dari kepandaiannya sendiri. Dari siasatnya. Dari kerja kerasnya. Ia lupa bahwa semua itu titipan.”
Boy menatap meja.
“Itulah kufur nikmat,” katanya pelan.

“Rezekinya bertambah, tapi hatinya mengering.”
Ilham mengangguk.
“Masjid baginya hanya bangunan. Tetangga hanya latar. Orang miskin hanya pemandangan.”
“Dunia ia kejar,” sambung Boy, “akhirat ia tangguhkan. Seolah hidup ini tak akan selesai.”


Ilham merapatkan kedua tangannya di atas meja.
“Padahal Islam mengajarkan keseimbangan. Hablum minallah… hubungan dengan Allah.”
Boy melanjutkan,
“Hablum minannas… hubungan dengan manusia.”
“Jika salah satu pincang,” kata Ilham, “hidup pun ikut timpang. Kaya menjadi beban, bukan ketenangan.”


Boy tersenyum tipis, pahit.
“Berarti bukan kekayaan yang membuat bahagia, tapi keberkahan.”
Ilham mengangguk mantap.
“Dan keberkahan lahir dari syukur, usaha yang jujur, dan ingat bahwa kita ini hanya hamba.”
Mereka terdiam lama.
Kopi di hadapan mereka telah dingin sepenuhnya.


Dari balik meja, Babe Togap berkata lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri,
“Kalau begitu, yang miskin jangan putus asa… dan yang kaya jangan lupa pulang.”
Boy dan Ilham saling pandang.
Dalam diam, mereka paham:
doa bukan tentang arah tangan,
melainkan arah hati.
Dan rezeki bukan tentang seberapa banyak yang digenggam,
tetapi seberapa banyak yang disyukuri dan dibagikan.

Tamat.
Penutup tahun 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 291x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Trauma Kolektif Tanpa Rekonstruksi: Aceh, Kepemimpinan Pasca-Kolonial, dan Paradoks Penderitaan dalam Negara Indonesia

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com