• Latest
Arah Tangan, Arah Hidup - 1001198553_11zon | #Cerpen | Potret Online

Arah Tangan, Arah Hidup

Januari 13, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Arah Tangan, Arah Hidup

Ilhamdi Sulaiman by Ilhamdi Sulaiman
Januari 13, 2026
in #Cerpen
Reading Time: 2 mins read
0
Arah Tangan, Arah Hidup - 1001198553_11zon | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh: Ilhamdi Sulaiman

Warkop Babe Togap sore itu sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan sendok yang sesekali beradu dengan gelas kopi. Asap rokok tidak lagi ramai seperti biasanya, seolah ikut menahan diri.


Boy dan Ilham duduk berhadapan. Di antara mereka, dua gelas kopi yang mulai dingin.
Ilham menatap cairan hitam itu lama, seakan sedang membaca nasibnya sendiri.
“Boy,” katanya pelan, “pernah kau pikirkan… kenapa banyak orang Cina tampak lebih sejahtera dari sebagian umat Islam?”


Boy mengangkat kepala.
“Mungkin karena mereka terbiasa berdagang. Disiplin. Kerja keras. Dari kecil sudah diajarkan mandiri.”
Ilham mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Ada benarnya. Tapi aku pernah mendengar orang bercanda soal ini. Katanya karena cara berdoa.”
Boy menoleh.
“Cara berdoa?”


Ilham mengangkat tangannya memegang hio sebentar, lalu menurunkannya berulang kali.
“Orang bilang, mereka berdoa seakan menjemput rezeki, sementara kita menadah menunggu. Tapi tentu itu hanya kiasan.”
Boy tersenyum samar.


“Yang menentukan bukan posisi tangan,” katanya, “melainkan gerak kaki dan arah hidup.”
Ilham menghela napas.
“Benar. Islam tidak pernah mengajarkan menunggu tanpa usaha. Rezeki dicari, bukan sekadar diminta.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
“Tapi ada hal lain yang lebih menggangguku.”
Boy menunggu.
“Ada orang Islam yang kaya raya,” kata Ilham lirih, “namun hidupnya gelisah. Tidak tenang. Tidak bahagia.”


Boy mengangguk pelan.
“Aku juga melihatnya.”
“Karena ia lupa bersyukur,” lanjut Ilham. “Ia merasa semua datang dari kepandaiannya sendiri. Dari siasatnya. Dari kerja kerasnya. Ia lupa bahwa semua itu titipan.”
Boy menatap meja.
“Itulah kufur nikmat,” katanya pelan.

“Rezekinya bertambah, tapi hatinya mengering.”
Ilham mengangguk.
“Masjid baginya hanya bangunan. Tetangga hanya latar. Orang miskin hanya pemandangan.”
“Dunia ia kejar,” sambung Boy, “akhirat ia tangguhkan. Seolah hidup ini tak akan selesai.”


Ilham merapatkan kedua tangannya di atas meja.
“Padahal Islam mengajarkan keseimbangan. Hablum minallah… hubungan dengan Allah.”
Boy melanjutkan,
“Hablum minannas… hubungan dengan manusia.”
“Jika salah satu pincang,” kata Ilham, “hidup pun ikut timpang. Kaya menjadi beban, bukan ketenangan.”


Boy tersenyum tipis, pahit.
“Berarti bukan kekayaan yang membuat bahagia, tapi keberkahan.”
Ilham mengangguk mantap.
“Dan keberkahan lahir dari syukur, usaha yang jujur, dan ingat bahwa kita ini hanya hamba.”
Mereka terdiam lama.
Kopi di hadapan mereka telah dingin sepenuhnya.


Dari balik meja, Babe Togap berkata lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri,
“Kalau begitu, yang miskin jangan putus asa… dan yang kaya jangan lupa pulang.”
Boy dan Ilham saling pandang.
Dalam diam, mereka paham:
doa bukan tentang arah tangan,
melainkan arah hati.
Dan rezeki bukan tentang seberapa banyak yang digenggam,
tetapi seberapa banyak yang disyukuri dan dibagikan.

Tamat.
Penutup tahun 2025.

Share234SendTweet146Share
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Next Post
Arah Tangan, Arah Hidup - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | #Cerpen | Potret Online

Trauma Kolektif Tanpa Rekonstruksi: Aceh, Kepemimpinan Pasca-Kolonial, dan Paradoks Penderitaan dalam Negara Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com