POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

Asmaul HusnaOleh Asmaul Husna
January 8, 2026
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi

Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir angin malam menembus hingga ke sanubari, seolah membawa pesan bahwa malam akan segera berakhir, berganti fajar yang perlahan menyingsing.

Arham menyibak tirai pembatas yang selama ini menjadi dinding tipis pelindung dari dinginnya malam dan teriknya siang. Bangunan sederhana itu bahkan nyaris tak pantas disebut tempat tinggal, berdinding terpal, beralaskan tanah, dengan kayu-kayu kiriman banjir sebagai penyangga.

Ia memilih pulang, meski rumahnya telah bersemayam di balik lumpur, hanya menyisakan atap sebagai bukti bahwa di sana pernah ada kehidupan dan kebahagiaan. Ia tak sanggup berlama-lama tinggal di pengungsian.

“Sudah bangun, Neuk? Segera salat Subuh. Air untuk berwudu sudah Ibu siapkan.”

Suara wanita paruh baya itu adalah sumber kekuatan Arham. Wanita yang sama pula yang membuatnya enggan menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota setelah menyelesaikan sarjana. Ia memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi, melanjutkan usaha mendiang ayahnya, usaha kecil yang telah dirintis sejak ia masih berseragam putih merah.

Menjadi atasan di usaha besar yang dirintis orang lain, posisi kita tetaplah bawahan. Namun menjadi seseorang di usaha yang kita bangun sendiri, meski kecil, kita tetaplah atasan.

Petuah itu masih terpatri kuat dalam ingatannya, meski sang ayah telah lama berpulang.

“Baik, Bu,” jawab Arham singkat.

Air dingin membasahi wajah dan anggota tubuhnya, meluruhkan lelah serta kekhilafan bersama tetes-tetes yang jatuh ke tanah. Ia menarik napas panjang, menguatkan diri untuk kembali menjalani hari, apa pun keadaannya.

Nyaris sebulan berlalu sejak banjir bandang itu datang. Katanya, akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Namun mengapa banjir datang bersama ribuan kayu dan meninggalkan kubangan lumpur yang begitu pekat? Entahlah.

Para relawan mulai berkemas. Posko-posko bantuan satu per satu ditutup. Mereka pamit, tugas mereka dianggap selesai, meski kondisi masih jauh dari kata pulih. Bukan karena empati menipis atau rasa kemanusiaan menghilang, tetapi karena ada panggilan lain yang tak kalah nyaring: jiwa-jiwa yang perlu dinafkahi, serta wajah-wajah kecil yang menanti jawaban, “Ayah kapan pulang?”

Seburuk apa pun kenyataan, hari terus berjalan. Waktu tak pernah menunggu. Itulah yang Arham pahami. Namun dari mana ia harus memulai?

📚 Artikel Terkait

Ketika Para Hipokrit Dipencundangi oleh Penipu Bermodalkan Pencitraan

Uleebalang Bukan Pengkhianat: Menimbang Ulang Sejarah Aceh yang Terlupakan

Peringatan Hari Anak Nasional: Antara Kekhawatiran, Mimpi, dan Harapan

PUISI-PUISI DESTRI MAIROZA

Rumah telah tertimbun lumpur. Tempat usaha porak-poranda, meski rangkanya masih berdiri.
Aku harus bergerak. Aku tak bisa terus seperti ini.

“Menangis boleh, menyerah jangan.”
Kalimat itu kembali menguatkan tekadnya.

Suatu sore, Arham memberanikan diri berbincang dengan Pak Kaseem, kepala desa.

“Pak, salah satu masalah terbesar saat ini adalah tumpukan lumpur yang tidak tahu hendak dibawa ke mana. Saat warga membersihkan rumah, lumpur itu dibuang keluar. Ketika hujan turun, lumpur kembali masuk dan mengotori semuanya,” ujar Arham.

“Izin saya mengusulkan, mungkin kita bisa membuat tempat pencetakan batu bata, semacam pabrik bata. Lumpur bisa dimanfaatkan, pemuda desa bisa diberdayakan. Kayu-kayu kecil kiriman banjir dapat dijadikan bahan bakar. Perlahan tapi pasti, roda ekonomi bisa kembali berputar.”
Pak Kaseem mengangguk pelan.

“Terima kasih, Nak Arham. Usulanmu baik. Namun menurut saya, yang paling mendesak adalah menormalisasi aliran sungai agar kembali berfungsi. Itu pekerjaan besar dan harus melibatkan banyak pihak.”

“Iya, Pak. Saya paham. Tapi sepertinya hal itu bisa kita lakukan beriringan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” jawab Arham, tetap kukuh.

“Saya mengerti, Nak. Tapi tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” balas Pak Kaseem.
Obrolan sore itu berakhir tanpa keputusan.
Setidaknya aku sudah mencoba, batin Arham.

Hari-hari berlalu. Lumpur di perkampungan mulai mengeras. Warga membenahi apa yang mampu mereka perbaiki. Sebagian mengikuti jejak Arham, membangun gubuk sederhana sekadar untuk bernaung.

Hingga suatu hari, pemandangan berbeda tersaji. Alat berat hilir mudik, truk berderet lalu-lalang.

“Mungkin ini pertanda baik,” pikir warga, juga Arham.

Namun kenyataan berkata lain. Kubangan lumpur itu ternyata akan dibawa ke tempat lain dan diolah menjadi batu bata oleh pihak tertentu. Para pekerjanya pun bukan pemuda desa, seperti yang pernah diusulkan Arham.

Terlepas dari itu, warga tetap menyambutnya dengan lega. Cepat atau lambat, desa mereka akan bersih dan kembali layak ditinggali. Barangkali seperti kisah kaum Nabi Nuh, mereka yang mengotori kapal, mereka pula yang membersihkannya. Mungkin begitu.Bagi warga, yang terpenting desa bebas dari lumpur. Itu kabar gembira.

Namun tidak sepenuhnya bagi Arham.
Ia tahu, ada kemungkinan lain yang lebih memberdayakan, lebih bermakna, dan pernah ia suarakan. Kini peluang itu menghilang begitu saja.
Penyesalan memenuhi dadanya.

Adakah penyesalan yang lebih perih daripada melihat kesempatan berharga, yang bisa berguna bagi banyak orang,lenyap tanpa jejak?

Apakah perasaan serupa juga singgah di hati Pak Kaseem?
Entahlah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Jejak Digital Perempuan, Moral Publik, dan Ruang Strategis Negara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00