Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir angin malam menembus hingga ke sanubari, seolah membawa pesan bahwa malam akan segera berakhir, berganti fajar yang perlahan menyingsing.
Arham menyibak tirai pembatas yang selama ini menjadi dinding tipis pelindung dari dinginnya malam dan teriknya siang. Bangunan sederhana itu bahkan nyaris tak pantas disebut tempat tinggal, berdinding terpal, beralaskan tanah, dengan kayu-kayu kiriman banjir sebagai penyangga.
Ia memilih pulang, meski rumahnya telah bersemayam di balik lumpur, hanya menyisakan atap sebagai bukti bahwa di sana pernah ada kehidupan dan kebahagiaan. Ia tak sanggup berlama-lama tinggal di pengungsian.
“Sudah bangun, Neuk? Segera salat Subuh. Air untuk berwudu sudah Ibu siapkan.”
Suara wanita paruh baya itu adalah sumber kekuatan Arham. Wanita yang sama pula yang membuatnya enggan menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota setelah menyelesaikan sarjana. Ia memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi, melanjutkan usaha mendiang ayahnya, usaha kecil yang telah dirintis sejak ia masih berseragam putih merah.
Menjadi atasan di usaha besar yang dirintis orang lain, posisi kita tetaplah bawahan. Namun menjadi seseorang di usaha yang kita bangun sendiri, meski kecil, kita tetaplah atasan.
Petuah itu masih terpatri kuat dalam ingatannya, meski sang ayah telah lama berpulang.
“Baik, Bu,” jawab Arham singkat.
Air dingin membasahi wajah dan anggota tubuhnya, meluruhkan lelah serta kekhilafan bersama tetes-tetes yang jatuh ke tanah. Ia menarik napas panjang, menguatkan diri untuk kembali menjalani hari, apa pun keadaannya.
Nyaris sebulan berlalu sejak banjir bandang itu datang. Katanya, akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Namun mengapa banjir datang bersama ribuan kayu dan meninggalkan kubangan lumpur yang begitu pekat? Entahlah.
Para relawan mulai berkemas. Posko-posko bantuan satu per satu ditutup. Mereka pamit, tugas mereka dianggap selesai, meski kondisi masih jauh dari kata pulih. Bukan karena empati menipis atau rasa kemanusiaan menghilang, tetapi karena ada panggilan lain yang tak kalah nyaring: jiwa-jiwa yang perlu dinafkahi, serta wajah-wajah kecil yang menanti jawaban, “Ayah kapan pulang?”
Seburuk apa pun kenyataan, hari terus berjalan. Waktu tak pernah menunggu. Itulah yang Arham pahami. Namun dari mana ia harus memulai?
📚 Artikel Terkait
Rumah telah tertimbun lumpur. Tempat usaha porak-poranda, meski rangkanya masih berdiri.
Aku harus bergerak. Aku tak bisa terus seperti ini.
“Menangis boleh, menyerah jangan.”
Kalimat itu kembali menguatkan tekadnya.
Suatu sore, Arham memberanikan diri berbincang dengan Pak Kaseem, kepala desa.
“Pak, salah satu masalah terbesar saat ini adalah tumpukan lumpur yang tidak tahu hendak dibawa ke mana. Saat warga membersihkan rumah, lumpur itu dibuang keluar. Ketika hujan turun, lumpur kembali masuk dan mengotori semuanya,” ujar Arham.
“Izin saya mengusulkan, mungkin kita bisa membuat tempat pencetakan batu bata, semacam pabrik bata. Lumpur bisa dimanfaatkan, pemuda desa bisa diberdayakan. Kayu-kayu kecil kiriman banjir dapat dijadikan bahan bakar. Perlahan tapi pasti, roda ekonomi bisa kembali berputar.”
Pak Kaseem mengangguk pelan.
“Terima kasih, Nak Arham. Usulanmu baik. Namun menurut saya, yang paling mendesak adalah menormalisasi aliran sungai agar kembali berfungsi. Itu pekerjaan besar dan harus melibatkan banyak pihak.”
“Iya, Pak. Saya paham. Tapi sepertinya hal itu bisa kita lakukan beriringan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” jawab Arham, tetap kukuh.
“Saya mengerti, Nak. Tapi tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” balas Pak Kaseem.
Obrolan sore itu berakhir tanpa keputusan.
Setidaknya aku sudah mencoba, batin Arham.
Hari-hari berlalu. Lumpur di perkampungan mulai mengeras. Warga membenahi apa yang mampu mereka perbaiki. Sebagian mengikuti jejak Arham, membangun gubuk sederhana sekadar untuk bernaung.
Hingga suatu hari, pemandangan berbeda tersaji. Alat berat hilir mudik, truk berderet lalu-lalang.
“Mungkin ini pertanda baik,” pikir warga, juga Arham.
Namun kenyataan berkata lain. Kubangan lumpur itu ternyata akan dibawa ke tempat lain dan diolah menjadi batu bata oleh pihak tertentu. Para pekerjanya pun bukan pemuda desa, seperti yang pernah diusulkan Arham.
Terlepas dari itu, warga tetap menyambutnya dengan lega. Cepat atau lambat, desa mereka akan bersih dan kembali layak ditinggali. Barangkali seperti kisah kaum Nabi Nuh, mereka yang mengotori kapal, mereka pula yang membersihkannya. Mungkin begitu.Bagi warga, yang terpenting desa bebas dari lumpur. Itu kabar gembira.
Namun tidak sepenuhnya bagi Arham.
Ia tahu, ada kemungkinan lain yang lebih memberdayakan, lebih bermakna, dan pernah ia suarakan. Kini peluang itu menghilang begitu saja.
Penyesalan memenuhi dadanya.
Adakah penyesalan yang lebih perih daripada melihat kesempatan berharga, yang bisa berguna bagi banyak orang,lenyap tanpa jejak?
Apakah perasaan serupa juga singgah di hati Pak Kaseem?
Entahlah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





