Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman –
Pemerhati Kebencanaan dan Mitigasi
Setiap kali banjir besar melanda Sumatera, termasuk banjir bandang yang terjadi di pesisir timur Aceh, reaksi publik hampir selalu sama: mencari siapa yang patut disalahkan. Pemerintah dituding lalai, korporasi dicurigai merusak, dan pihak luar disebut-sebut sebagai aktor utama kehancuran lingkungan. Tuduhan-tuduhan ini mungkin tidak sepenuhnya keliru, tetapi ilmu kebencanaan mengingatkan bahwa bencana jarang lahir dari satu tangan. Ia adalah hasil akumulasi keputusan kolektif yang berlangsung lama, sering kali jauh sebelum bencana itu terjadi.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengadili siapa pun. Ia ditulis untuk mengajak kita semua—negara, korporasi, dan masyarakat—melihat banjir secara ilmiah, agar kita tidak terus terjebak dalam siklus menyalahkan setelah air surut, tanpa pernah belajar sebelum hujan turun.
Bencana Menurut Ilmu: Proses yang Panjang, Bukan Kejadian Tiba-Tiba
Dalam ilmu kebencanaan, bencana bukan peristiwa tunggal, melainkan hasil dari pertemuan tiga unsur: bahaya alam (hazard), kerentanan (vulnerability), dan paparan (exposure). Hujan deras adalah bahaya alam. Tetapi hujan sendiri tidak otomatis menciptakan bencana.
Kalimat penting yang jarang disadari publik adalah:
“Bencana tidak dimulai ketika hujan turun, tetapi ketika keputusan-keputusan yang melemahkan lingkungan dibiarkan menumpuk.”
Dengan cara pandang ini, banjir bandang hari ini sesungguhnya adalah jejak masa lalu.
Hujan Bukan Musuh, Lingkungan yang Rapuh-lah Masalahnya
Banyak orang masih percaya bahwa hujan ekstrem adalah penyebab utama banjir bandang. Padahal, dalam kajian hidrologi, hujan ekstrem hanyalah pemicu, bukan penyebab kerusakan. Penyebab sesungguhnya adalah hilangnya kemampuan alam untuk menahan air.
Daerah aliran sungai (DAS) yang sehat bekerja seperti spons. Ia menyerap air hujan, menahannya di dalam tanah dan vegetasi, lalu melepaskannya perlahan ke sungai. Ketika spons ini rusak—karena hutan berkurang, tanah memadat, dan lereng terpotong—air tidak lagi ditahan. Ia mengalir sekaligus, cepat, dan membawa material penghancur.
Karena itu, banjir bandang bukan semata karena “air terlalu banyak”, tetapi karena daya tampung lingkungan terlalu kecil.
Faktor Alam dan Faktor Manusia: Pembacaan Ilmiah
Berbagai kajian kebencanaan di wilayah tropis menunjukkan bahwa banjir besar hampir tidak pernah murni alamiah. Secara umum, kontribusinya terbagi sebagai berikut:
40–45 persen berasal dari faktor alam: curah hujan ekstrem, variabilitas iklim, dan topografi
55–60 persen berasal dari faktor manusia: perubahan tutupan lahan, eksploitasi sumber daya, tata ruang, dan lemahnya mitigasi
Ini bukan tuduhan, tetapi cara sains membaca struktur risiko. Tanpa campur tangan manusia, banjir mungkin tetap terjadi, tetapi tidak akan mencapai daya rusak seperti yang kita alami sekarang.
Yang Sering Tak Diakui: Budaya Nafkah dan Normalisasi Perusakan
Diskusi tentang bencana sering berhenti pada pemerintah dan perusahaan besar. Namun, dalam realitas sosial di Sumatera—termasuk Aceh—ada satu lapisan yang jarang disentuh secara jujur: budaya ekonomi masyarakat lokal.
Di banyak desa lereng gunung, hutan telah lama menjadi sumber nafkah. Panglung kayu berdiri di dekat hutan. Orang-orang dengan bangga menceritakan bahwa mereka memiliki palu kayu, mesin potong, gergaji, dan alat-alat lain. Kayu ditebang bukan untuk ekspor besar, melainkan untuk pasar lokal: papan rumah, kusen, bahan bangunan, atau industri kecil.
Secara kasat mata, ini terlihat wajar. Ini bukan kejahatan besar. Tetapi ilmu kebencanaan melihatnya secara berbeda.
Illegal Logging Skala Kecil tapi Masif
📚 Artikel Terkait
Masalah utama bukan satu panglung kayu, melainkan ratusan panglung di puluhan desa. Penebangan yang dilakukan sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus, dalam jangka panjang, menghilangkan fungsi ekologis lereng gunung.
Inilah yang dalam kajian lingkungan disebut sebagai illegal logging tersembunyi:
tidak selalu terorganisir besar,
tidak selalu untuk pasar internasional,
tetapi masif karena dilakukan oleh banyak orang, dengan pembenaran nafkah.
Hutan tidak runtuh karena satu orang menebang pohon, tetapi karena ribuan orang melakukan hal yang sama dengan alasan yang dianggap sah.
Sawit, Karet, Kopi, dan Logika Masa Depan
Hal serupa terjadi pada pembukaan lahan untuk sawit, karet, kopi, dan komoditas lain. Di banyak percakapan, kepemilikan kebun luas sering diceritakan dengan kebanggaan: “Ini tabungan masa depan.”
Narasi ini tidak lahir dari keserakahan semata, melainkan dari ketiadaan perencanaan ekologis. Pembukaan lahan dilakukan tanpa kajian DAS, tanpa mempertimbangkan lereng, aliran air, dan daya dukung tanah. Yang dihitung adalah hasil panen, bukan risiko hidrologi.
Secara ilmiah, perubahan tutupan lahan di hulu DAS adalah salah satu faktor paling kuat dalam meningkatkan risiko banjir bandang.
Tambang, Alat Berat, dan Kerusakan Lereng
Cerita lain yang sering terdengar adalah tentang alat berat yang bekerja di pegunungan—untuk tambang emas atau aktivitas lain. Kepemilikan alat berat bahkan menjadi simbol keberhasilan ekonomi.
Namun dalam perspektif kebencanaan, lereng yang dipotong dan digali adalah lereng yang dilemahkan. Ketika hujan turun, tanah yang struktur alaminya rusak akan kehilangan stabilitas. Longsor dan aliran material hanyalah soal waktu.
Sekali lagi, masalahnya bukan satu alat berat, tetapi normalisasi aktivitas berisiko tinggi tanpa kajian ilmiah.
Perumahan dan Hilangnya Ruang Air
Selain hutan dan kebun, pembukaan lahan untuk perumahan juga berkontribusi. Dataran banjir yang seharusnya menjadi ruang air diubah menjadi kawasan hunian. Tanah ditutup beton, saluran alami dipersempit, dan air kehilangan tempat untuk mengalir.
Ilmu kebencanaan menyebut ini sebagai peningkatan paparan risiko. Kita membangun tepat di lokasi yang secara alamiah memang ingin dilewati air.
Paradoks Kesadaran: Tidak Bodoh, Tapi Tidak Ilmiah
Masyarakat bukan bodoh. Mereka bekerja, bertahan hidup, dan mencari masa depan. Namun masalahnya adalah cara berpikir yang tidak berbasis ilmu kebencanaan. Risiko dianggap jauh, sementara manfaat ekonomi terasa dekat.
Inilah paradoksnya: kerusakan terjadi pelan-pelan, tetapi bencana datang sekaligus.
Mitigasi Tidak Akan Berhasil Tanpa Kesadaran Kolektif
Selama mitigasi dianggap hanya tugas negara, bencana akan terus berulang. Ilmu kebencanaan menunjukkan bahwa mitigasi sejati lahir dari kesadaran kolektif: kesediaan masyarakat untuk menimbang ulang cara mencari nafkah agar tidak merusak sistem penyangga kehidupan bersama.
Mitigasi bukan anti-rezeki, tetapi mencari rezeki tanpa menghancurkan daya hidup.
Penutup: Pencerahan Sebelum Bencana
Banjir di Sumatera adalah cermin relasi kita dengan alam. Ia bukan sekadar kegagalan kebijakan, tetapi juga refleksi budaya ekonomi dan cara berpikir kita bersama. Menyalahkan setelah bencana tidak akan mengubah masa depan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk belajar sebelum bencana berikutnya datang.
Ilmu kebencanaan hadir sebagai pencerahan: menghubungkan sebab dan akibat yang terpisah oleh waktu, dan mengingatkan bahwa setiap keputusan kecil hari ini sedang membentuk risiko besar esok hari.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama bukan hanya siapa yang salah, tetapi:
apakah cara kita mencari hidup hari ini sedang menjaga, atau justru merusak, kehidupan anak cucu kita nanti?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





