Dengarkan Artikel
Oleh: dr. Novita Sari Yahya
Pendahuluan: Ketika Narkoba Menjadi Alasan Perang
Membaca kabar tentang serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela yang diawali operasi intelijen CIA terhadap jalur pelabuhan yang disebut sebagai simpul perdagangan narkoba membuat banyak pihak terdiam cukup lama. Bukan semata karena dentuman bom atau eskalasi militer, melainkan karena satu fakta yang mengusik nalar: sebuah negara merdeka dan berdaulat dapat dijatuhkan dengan dalih perang melawan narkoba.
Narkoba tidak lagi diposisikan sebagai kejahatan kriminal biasa. Dalam narasi global Amerika Serikat, narkotika diklasifikasikan sebagai extraordinary crime, kejahatan luar biasa yang dianggap mengancam keamanan nasional dan stabilitas internasional. Dari titik inilah, negara yang pemerintahannya dituduh melindungi sindikat narkoba dapat dengan mudah dicap sebagai ancaman global. Cap tersebut kemudian dijadikan legitimasi untuk intervensi, bahkan agresi militer.
Di bawah pemerintahan Donald Trump, Venezuela ditempatkan dalam kategori tersebut. Pemerintah Amerika menuduh rezim di Caracas secara sistematis melindungi kartel narkoba internasional. Tuduhan itu menjadi dasar pengerahan kekuatan militer, mulai dari operasi intelijen, serangan terbatas, hingga bombardir fasilitas yang diklaim sebagai pabrik dan jalur distribusi kokain.
Narkoba sebagai Instrumen Geopolitik
Dalam sejarah politik global, alasan perang jarang berdiri di atas satu motif tunggal. Narkoba, seperti halnya senjata pemusnah massal atau terorisme, sering kali berfungsi sebagai pintu masuk bagi kepentingan yang lebih besar. Venezuela adalah contoh paling terang dari kompleksitas tersebut.
Di satu sisi, Venezuela memang menghadapi persoalan serius terkait kejahatan terorganisasi. Laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa wilayah negara ini kerap digunakan sebagai jalur transit kokain dari Kolombia menuju Karibia, Amerika Tengah, dan akhirnya Amerika Serikat. Kartel narkoba memanfaatkan lemahnya institusi negara, krisis ekonomi, serta konflik politik internal.
Namun di sisi lain, Venezuela juga dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Fakta ini memunculkan kecurigaan yang sulit diabaikan: apakah perang terhadap narkoba murni soal keamanan, ataukah sekadar dalih untuk mengamankan kepentingan energi dan geopolitik?
Rumor tentang motif minyak bukan sekadar teori konspirasi pinggiran. Sejumlah analis internasional menilai bahwa tekanan terhadap Venezuela memiliki korelasi kuat dengan posisi strategis negara tersebut dalam peta energi global, terlebih ketika hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara produsen minyak lain mengalami dinamika yang tidak stabil.
Pola Lama dalam Sejarah Amerika
Apa yang terjadi di Venezuela bukanlah anomali. Sejarah Amerika Serikat menunjukkan pola yang berulang: intervensi militer selalu dibungkus dengan narasi moral. Pada awal 2000-an, Irak diserang dengan tuduhan memiliki senjata pemusnah massal. Rezim Saddam Hussein dijatuhkan, tetapi senjata yang menjadi alasan utama perang itu tak pernah ditemukan.
Kini, pola serupa muncul dalam perang melawan narkoba. Negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko, Kolombia, dan Venezuela menjadi sasaran tekanan keras. Perbedaannya hanya pada objek tuduhan. Jika dahulu senjata nuklir dan kimia dijadikan momok global, kini narkoba mengambil peran tersebut.
Trump bahkan secara terbuka menyebut kartel narkoba sebagai organisasi teroris. Dengan label itu, penggunaan kekuatan militer lintas batas menjadi sah dalam logika hukum dan politik Amerika Serikat. Narkoba tidak lagi diperlakukan sebagai masalah sosial atau kesehatan publik, melainkan sebagai ancaman militer.
Venezuela, Kolombia, dan Meksiko: Segitiga Api Narkotika
Wilayah Amerika Latin sejak lama menjadi episentrum perdagangan narkotika global. Kolombia dikenal sebagai produsen utama kokain, Meksiko sebagai pusat kartel distribusi, sementara Venezuela berfungsi sebagai jalur transit strategis.
Amerika Serikat menempatkan dirinya sebagai korban utama dari aliran narkoba tersebut. Namun pendekatan yang dipilih bukanlah diplomasi atau kerja sama pembangunan, melainkan tindakan militer.
Di Kolombia, Amerika terlibat langsung dalam operasi udara dan pelatihan militer melalui program seperti Plan Colombia. Di Meksiko, tekanan diarahkan pada penindakan keras terhadap kartel, meski sering kali berujung pada kekerasan brutal dan korban sipil. Sementara di Venezuela, pendekatan yang dipilih jauh lebih agresif karena beririsan dengan konflik ideologi dan politik antara Washington dan Caracas.
Sinyal Keras bagi Negara Berdaulat
📚 Artikel Terkait
Serangan Amerika terhadap Venezuela mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada dunia internasional, termasuk Indonesia. Pesan itu berbunyi: jika sebuah negara dianggap gagal atau enggan memberantas sindikat narkoba, maka kedaulatannya dapat dipertanyakan.
Ini adalah pergeseran serius dalam tatanan hubungan internasional. Kedaulatan negara tidak lagi mutlak, melainkan bersyarat. Syaratnya adalah kesesuaian dengan standar keamanan global yang ditetapkan oleh kekuatan besar.
Bagi Indonesia, pesan ini seharusnya dibaca dengan penuh kewaspadaan. Persoalan narkoba di Indonesia bukanlah isu kecil. Jaringan internasional, jalur laut yang luas, serta keterlibatan aparat yang korup menjadi kerentanan nyata. Jika negara terlihat lemah atau kompromistis terhadap sindikat narkoba, konsekuensinya tidak lagi sekadar kritik diplomatik.
Pelajaran dari Filipina
Filipina memberikan contoh konkret bagaimana narkoba dijadikan isu internasional. Kebijakan perang terhadap narkoba di bawah Presiden Rodrigo Duterte menuai kritik tajam dari dunia internasional karena dianggap melanggar HAM. Namun pada saat yang sama, Filipina berusaha menunjukkan bahwa negara tidak melindungi kartel.
Situasi ini menunjukkan dilema negara berkembang: terlalu keras, dituduh melanggar HAM; terlalu lunak, dicurigai melindungi sindikat. Di tengah tekanan itu, negara harus tetap menjaga kedaulatan dan integritas hukum nasionalnya.
Venezuela, dalam narasi Amerika, dianggap gagal melakukan keduanya. Rezim dituduh tidak hanya lalai, tetapi juga aktif melindungi kartel. Tuduhan inilah yang kemudian dijadikan dasar moral dan politik untuk intervensi.
Narkoba, Kekuasaan, dan Standar Ganda
Ironisnya, Amerika Serikat sendiri adalah pasar terbesar narkoba dunia. Permintaan yang tinggi dari dalam negeri menjadi mesin utama perdagangan kokain dan heroin global. Namun akar persoalan ini jarang disorot secara seimbang.
Perang terhadap narkoba lebih sering diarahkan ke negara produsen dan transit, bukan ke pembenahan struktural di negara konsumen. Standar ganda ini menimbulkan pertanyaan etis: sejauh mana perang narkoba benar-benar bertujuan menyelamatkan manusia, dan sejauh mana ia berfungsi sebagai alat dominasi global?
Venezuela menjadi korban dari ketimpangan tersebut. Negara itu diposisikan sebagai biang masalah, sementara faktor permintaan global, termasuk dari Amerika sendiri, nyaris luput dari sorotan.
Penutup: Menjaga Kedaulatan di Tengah Tekanan Global
Serangan militer Amerika terhadap Venezuela dengan dalih perang melawan narkoba adalah peristiwa penting yang patut direnungkan secara serius. Peristiwa ini, bukan hanya soal konflik dua negara, melainkan tentang arah baru hubungan internasional di mana narkoba dijadikan legitimasi untuk intervensi.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, pesan ini tidak boleh diabaikan. Perang melawan narkoba harus dilakukan dengan keseriusan, integritas, dan keberanian politik. Bukan demi menyenangkan kekuatan global, melainkan demi melindungi rakyat dan menjaga kedaulatan negara.
Namun pada saat yang sama, dunia juga perlu bersikap jujur. Narkoba adalah masalah global yang tidak bisa diselesaikan dengan bom dan rudal semata. Selama kepentingan ekonomi, politik, dan energi masih bercampur dengan narasi moral, perang atas nama narkoba akan selalu menyisakan pertanyaan: siapa sebenarnya yang dilindungi, dan siapa yang dikorbankan.
Daftar Referensi
CNBC Indonesia. (2025). Ledakan besar Amerika bom Venezuela.
Kompas.id. (2025). Berdalih perangi narkoba, apa sebenarnya target AS di Venezuela.
InSight Crime. (2024). Venezuela Organized Crime Overview.
CNBC Indonesia. (2025). Mengenal Kartel Matahari yang dicap teroris.
Politico. (2025). Trump’s War on Drug Cartels and Mexico.
Bloomberg Technoz. (2025). Trump sahkan UU baru untuk perangi kecanduan narkoba AS.
Detik.com. (2025). Presiden Kolombia ungkap AS bombardir pabrik kokain di Venezuela.
Ambisius News. (2025). Krisis Venezuela: Narkoba sebagai dalih, minyak sebagai incaran.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





