POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Sungai Datang ke Rumah Kami

RedaksiOleh Redaksi
January 3, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hurriyatuddaraini
(Inong Literasi)

Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur. Di depanku, rumah kami berdiri dengan wajah yang asing. Bukan rumah yang biasa kutahu. Tidak ada halaman bersih tempat aku berlari, tidak ada kursi kayu tempat Ayah biasa duduk sore hari. Yang ada hanya tumpukan tanah, batang kayu besar, dan sisa-sisa air yang sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

“Bu… ini rumah kita ya?” tanyaku pelan.
Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam jemariku lebih erat.

Aku melihat ke sekeliling. Banyak kayu. Banyak tanah. Dulu lantai rumah dingin dan bersih. Sekarang semuanya cokelat. Tanah bukan hanya di lantai, ia masuk ke mana-mana, menumpuk tinggi. Aku melihat orang-orang dewasa berjalan pelan di sekitar rumah. Tanah hampir menutupi sebagian dada mereka. Aku baru tahu tanah bisa setinggi itu.

“Bu, sepeda aku selamat?”
Ibu menggeleng pelan.

“Mobil mainan aku?”
Ibu terdiam.

“Mainan aku yang warna merah itu?”
Ibu menarik napas panjang.

Aku tidak marah. Aku hanya bingung.

Aku ingat malam itu. Air datang cepat sekali. Ibu mengangkat adikku. Ayah mengangkatku. Kami naik ke atas, ke atas kulkas, ke atas mesin. Aku pusing. Aku mengantuk. Aku ingat selimut basah dan tali yang diikatkan ke sesuatu. Aku ingat suara air yang keras dan tidak berhenti.

📚 Artikel Terkait

Gaza yang Tak Pernah Padam

Tahun Kesedihan

Di Antara Bunyi Palu dan Mesin Tua

Sajak-sajak di Langit Gaza

“Bu, kemarin kita naik ke atas itu ya?”
“Iya, Nak.”
“Kenapa?”
“Supaya aman.”

Aku menoleh ke adikku. Dia berdiri lebih dekat ke Ibu. Bajunya kotor. Rambutnya terasa lembap. Dia menatap rumah sambil mengerutkan dahi.

“Kok rumah dedek kotor sih, Bu?” katanya polos.
“Kenapa banyak tanah?”
“Airnya sudah tidak ada ya? Sudah tidak tenggelam lagi?”
Ibu mengangguk. Tetapi matanya berkaca-kaca.

Hujan sudah sering datang belakangan ini. Hampir setiap hari. Kata Ayah, hujan membuat tanah semakin lemah. Sungai yang dulu jaraknya lumayan jauh dari rumah, sekarang alirannya berbelok. Airnya masuk ke halaman rumah penduduk, bahkan ke sekolah. Tempat yang dulu aman kini menjadi jalur air.

Aku melihat ke belakang rumah. Tanah di bawahnya sudah amblas. Sebagiannya jatuh ke sungai. Sekilas aku mendengar percakapan ibu dan ayah bahwa rumah ini tidak bisa ditempati lagi. Sedih sekali. Aku mendengar itu, tetapi sulit memahaminya.
Aku berjalan sedikit lebih jauh dan menemukan satu sandal. Bukan punyaku. Mungkin milik siapa saja. Aku memegangnya lama, lalu meletakkannya kembali. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Bu,” kataku lagi, “kalau rumahnya kotor, nanti kita bersihin kan?”
Ibu tersenyum kecil, senyum yang terlihat berat.
“Iya. Pelan-pelan.”

Aku berpikir, mungkin rumah seperti aku. Capek. Kotor. Tetapi masih berdiri, meski tidak lagi bisa ditinggali.
Aku ingin bertanya banyak hal. Kenapa sungai bisa pindah? Kenapa tanah bisa turun? Kenapa rumah bisa hilang tanpa benar-benar pergi? Tetapi aku tidak bertanya. Aku takut Ibu sedih.
Aku hanya bertanya satu hal yang paling penting bagiku.

“Bu… rumah kita masih bisa ditempati, kan?”
Ibu berjongkok di depanku. Tangannya memegang pipiku. Ia diam cukup lama, seperti sedang mencari kata yang tidak melukaiku.

“Kita tidak tinggal di sini dulu,” katanya pelan.
“Kita cari tempat yang aman.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi aku mengangguk.

Aku menatap langit Aceh yang mulai cerah. Aku melihat orang-orang datang membawa makanan, selimut serta keperluan lain. Ada yang tidak kukenal, tetapi tersenyum padaku.

Aku menggenggam tangan Ibu lebih kuat.
Rumah kami memang penuh tanah.
Dan kini, perlahan tak lagi bisa ditempati.
Tetapi hari itu aku belajar,
selama kami masih berjalan bersama,
rumah belum sepenuhnya hilang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Membela Aceh, Menyelamatkan Republik: Bencana Ekologi, Memori Kolektif, dan Ujian Keadilan Negara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00