Dengarkan Artikel
Oleh Hurriyatuddaraini
(Inong Literasi)
Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur. Di depanku, rumah kami berdiri dengan wajah yang asing. Bukan rumah yang biasa kutahu. Tidak ada halaman bersih tempat aku berlari, tidak ada kursi kayu tempat Ayah biasa duduk sore hari. Yang ada hanya tumpukan tanah, batang kayu besar, dan sisa-sisa air yang sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
“Bu… ini rumah kita ya?” tanyaku pelan.
Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam jemariku lebih erat.
Aku melihat ke sekeliling. Banyak kayu. Banyak tanah. Dulu lantai rumah dingin dan bersih. Sekarang semuanya cokelat. Tanah bukan hanya di lantai, ia masuk ke mana-mana, menumpuk tinggi. Aku melihat orang-orang dewasa berjalan pelan di sekitar rumah. Tanah hampir menutupi sebagian dada mereka. Aku baru tahu tanah bisa setinggi itu.
“Bu, sepeda aku selamat?”
Ibu menggeleng pelan.
“Mobil mainan aku?”
Ibu terdiam.
“Mainan aku yang warna merah itu?”
Ibu menarik napas panjang.
Aku tidak marah. Aku hanya bingung.
Aku ingat malam itu. Air datang cepat sekali. Ibu mengangkat adikku. Ayah mengangkatku. Kami naik ke atas, ke atas kulkas, ke atas mesin. Aku pusing. Aku mengantuk. Aku ingat selimut basah dan tali yang diikatkan ke sesuatu. Aku ingat suara air yang keras dan tidak berhenti.
📚 Artikel Terkait
“Bu, kemarin kita naik ke atas itu ya?”
“Iya, Nak.”
“Kenapa?”
“Supaya aman.”
Aku menoleh ke adikku. Dia berdiri lebih dekat ke Ibu. Bajunya kotor. Rambutnya terasa lembap. Dia menatap rumah sambil mengerutkan dahi.
“Kok rumah dedek kotor sih, Bu?” katanya polos.
“Kenapa banyak tanah?”
“Airnya sudah tidak ada ya? Sudah tidak tenggelam lagi?”
Ibu mengangguk. Tetapi matanya berkaca-kaca.
Hujan sudah sering datang belakangan ini. Hampir setiap hari. Kata Ayah, hujan membuat tanah semakin lemah. Sungai yang dulu jaraknya lumayan jauh dari rumah, sekarang alirannya berbelok. Airnya masuk ke halaman rumah penduduk, bahkan ke sekolah. Tempat yang dulu aman kini menjadi jalur air.
Aku melihat ke belakang rumah. Tanah di bawahnya sudah amblas. Sebagiannya jatuh ke sungai. Sekilas aku mendengar percakapan ibu dan ayah bahwa rumah ini tidak bisa ditempati lagi. Sedih sekali. Aku mendengar itu, tetapi sulit memahaminya.
Aku berjalan sedikit lebih jauh dan menemukan satu sandal. Bukan punyaku. Mungkin milik siapa saja. Aku memegangnya lama, lalu meletakkannya kembali. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Bu,” kataku lagi, “kalau rumahnya kotor, nanti kita bersihin kan?”
Ibu tersenyum kecil, senyum yang terlihat berat.
“Iya. Pelan-pelan.”
Aku berpikir, mungkin rumah seperti aku. Capek. Kotor. Tetapi masih berdiri, meski tidak lagi bisa ditinggali.
Aku ingin bertanya banyak hal. Kenapa sungai bisa pindah? Kenapa tanah bisa turun? Kenapa rumah bisa hilang tanpa benar-benar pergi? Tetapi aku tidak bertanya. Aku takut Ibu sedih.
Aku hanya bertanya satu hal yang paling penting bagiku.
“Bu… rumah kita masih bisa ditempati, kan?”
Ibu berjongkok di depanku. Tangannya memegang pipiku. Ia diam cukup lama, seperti sedang mencari kata yang tidak melukaiku.
“Kita tidak tinggal di sini dulu,” katanya pelan.
“Kita cari tempat yang aman.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi aku mengangguk.
Aku menatap langit Aceh yang mulai cerah. Aku melihat orang-orang datang membawa makanan, selimut serta keperluan lain. Ada yang tidak kukenal, tetapi tersenyum padaku.
Aku menggenggam tangan Ibu lebih kuat.
Rumah kami memang penuh tanah.
Dan kini, perlahan tak lagi bisa ditempati.
Tetapi hari itu aku belajar,
selama kami masih berjalan bersama,
rumah belum sepenuhnya hilang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






