Dengarkan Artikel
Oleh Mustofa W. Hasyim
Menghilang atau berkurangnya pemikir kebudayaan dapat mengarah pada gejala munculnya involusi kebidayaan. Involusi adalah banyaknya kegiatan yang tidak siginifikan terhadap perubahan. Jadi involusi kebudayaan dapat dipahami sebagai terjadinyq banyak kegiatan kebudayaan, tetapi tidak signifikan terhadap perubahan kebudayaan. Sebab kegiatan yang banyak itu cenderung bersifat teknis dan klise. Mungkin ada gebyarnya, tapi, gebyarnya itu tempelan dan lebih bersifat artifisial.
Para pemikir kebudayaan biasanya mampu berfikir altrnatif dan kreatif serta nakal baik dalam memberi makna baru atau mempersegar pesan pesan kultural di balik kegiatan kebudayaan yang ada atau yang dirancang ada.
Ketika di Yogya terasa langka dari hadirnya pemikir kebudayaan,maka ancaman terjadinya involusi kebudayaan bisa saja muncul sewaktu waktu.
📚 Artikel Terkait
Tentu ada cara untuk mencegah involusi kebudayaan itu. Pertama mengadakan dialog kebudayaan yang intensif dan terbuka, sehingga para aktivis kebudayaan bisa berlatih menjadi pemikir kebudayaan. Kedua, kegiatan kebudayaan harus meaningfull atau penuh makna, bukan aktivitas teknis atau sekadar menghibur, semacam klangenan belaka.
Ketiga, melakukan kaderisasi serniman budayawan lewat edukasi dan menjawab tantangan baru dalam kebudayaan. Ibukota yang bergerak dan DIY yang bergerak secara kebudayaan bisa menjadi laboratorium bagi kader seni budaya untuk berkarya dan memikirkan karyanya. Kapasitasnya sebagai pelaku atau seniman dan budayawan bisa bertambah meningkat menjadi pemikir kebudayaan yang kompeten.
Nah. Tiga langkah penting ini bisa fasilitasi di awal tahun 2026. Dengan demikian. Tahun baru senada kebudayaan adalah terbukanya pintu lebar-lebar untuk melaju ke depan. Meninggalkan situasi dan kondisi involusi itu. Siap? *mwh 30 des 2025)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





