• Latest

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

Desember 30, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

Redaksi by Redaksi
Desember 30, 2025
in #Cerpen, Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Alya Azzahra

Senja menyelimuti langit dengan warna kuning keemasan, seperti goresan kuas raksasa yang digerakkan perlahan oleh tangan tak terlihat. Cahaya matahari tidak lagi menyengat, melainkan lembut, menyentuh apa pun yang dilewatinya dengan kehangatan yang samar. Udara sore terasa lebih tenang, seolah dunia ikut melambat bersamaku.

Aku melangkah menyusuri lorong-lorong sempit yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Lorong yang dulu terasa begitu luas kini tampak lebih kecil, namun justru di situlah kenangan terasa semakin padat. 

Setiap langkah membawa ingatan yang tak pernah benar-benar hilang. Batu-batu kecil di jalan masih tersusun tak beraturan, sebagian telah retak, sebagian lagi tertutup debu dan lumut. Aku menunduk sesekali, memperhatikan jejak langkahku sendiri, seakan berharap menemukan jejak langkah masa kecil yang pernah tertinggal di sana.

Bangunan-bangunan di sepanjang lorong berdiri kokoh meski tak lagi muda. Catnya memudar, dindingnya retak, namun ada keteguhan yang tak tergantikan. Aku menatap setiap detailnya dengan saksama, seolah membaca satu per satu ukiran kenangan yang terpatri di dinding-dinding itu. Setiap sudut menyimpan cerita, setiap celah menghadirkan bayangan masa lalu.

Tanpa aba-aba, sebuah suara kecil tiba-tiba memenuhi pikiranku.

“Yeee, aku ada sepeda baru!”

Aku berhenti melangkah. Bibirku bergetar membentuk senyum tipis. Suara itu begitu jelas, penuh kegirangan yang polos.Dalam benakku, seorang anak kecil melompat-lompat di halaman rumah dengan mata berbinar. Rambutnya berantakan, pipinya memerah karena terlalu bersemangat. 

Sepeda kecil berdiri di dekatnya, masih mengilap, seolah baru saja keluar dari mimpi.

“Kemari lah, biar Kakek ajarkan caranya,” ucap sebuah suara tua namun hangat.

Alya kecil berlari menghampiri Kakek tanpa ragu. Lelaki tua itu berjongkok, memegang sepeda dengan kedua tangannya.Tangannya keriput, urat-uratnya terlihat jelas, namun sentuhannya selalu menenangkan.

“Alya siap, Kakek!” seru Alya lantang, penuh keyakinan meski rasa takut terselip di dadanya.

“Kakek hitung ya… satu… dua… tiga… ayo!”

Sepeda itu mulai bergerak perlahan. Alya mengayuh dengan hati-hati. Tubuhnya sedikit oleng, kakinya gemetar, namun Kakek tetap berada di belakang, siap menangkap jika ia terjatuh. Detik-detik itu terasa begitu panjang, namun juga begitu berarti.

“Yeee, Kakek! Alya bisaaa!”

Tawa itu pecah, mengisi halaman rumah, bercampur dengan senyum bangga Kakek. Aku menutup mata. Kenangan itu terasa begitu nyata, seolah aku benar-benar berada di sana lagi.

Saat membuka mata, aku menyadari air mata telah mengalir di pipiku. Aku mengusapnya pelan, menarik napas dalam-dalam.Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang ingin keluar namun tak menemukan jalan.

Aku kembali melangkah hingga akhirnya kakiku berhenti di depan sebuah rumah tua. Rumah itu berdiri dengan sederhana, tak lagi kokoh seperti dulu. Atapnya tampak kusam, kayu-kayunya mulai lapuk, dan catnya mengelupas di sana-sini.Namun, ada sesuatu yang tak pernah berubah kehangatan yang diam-diam menyelimutinya.

Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu. Tanganku terkulai di samping tubuh, mataku menatap pintu kayu yang tertutup rapat. Dalam diam, aku berbisik,
“Kakek… Alya kembali.”

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aku meraih kunci dari dalam tas. Tanganku bergetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Perlahan, kunci itu kuputar.Suara klik terdengar pelan, namun cukup untuk membuat hatiku bergetar. Pintu itu terbuka, dan aroma khas rumah tua langsung menyambutku aroma kayu, debu, dan kenangan.

Aku melangkah masuk. Rumah itu terasa sunyi, namun bukan sunyi yang menakutkan. Sunyi yang penuh cerita. Aku menatap setiap sudutnya, setiap lekuk dindingnya. Di sinilah aku dilahirkan. Di sinilah aku belajar berjalan, belajar tertawa, dan belajar menangis. Tempat yang selalu memelukku saat dunia terasa terlalu berat.

Ruang keluarga masih sama. Sofa lama berdiri di tempatnya, meja kayu kecil di tengah ruangan, dan foto-foto lama terpajang rapi di dinding. Aku berjalan mendekat, mengamati satu per satu foto itu. Wajah-wajah yang tersenyum dari masa lalu menatapku seolah bertanya ke mana aku pergi selama ini.

ADVERTISEMENT

Mataku tertuju pada satu foto Kakek menggendongku saat aku masih balita. Senyumnya begitu hangat, matanya memancarkan cinta yang tak pernah habis. Aku menyentuh bingkai foto itu dengan ujung jari, seakan bisa merasakan kehadirannya kembali.

Langkah kakiku kemudian terarah ke ujung rumah. Ada satu kamar yang selalu membuat jantungku berdegup lebih kencang.Aku berdiri di depan pintunya, menarik napas, lalu perlahan membukanya dan menyalakan lampu.

Cahaya lampu menerangi kamar yang masih utuh seperti dulu.Tempat tidur rapi, lemari kayu berdiri kokoh, dan sajadah terlipat di sudut ruangan. Tidak ada yang berubah. Seolah waktu berhenti di kamar itu.

Aku melangkah masuk dengan hati-hati. Dalam sekejap, aku seperti melihat Kakek duduk di tepi tempat tidur. Mengenakan kemeja rapi kesayangannya, wajahnya tenang, matanya teduh.Aku bisa membayangkan beliau merapikan jam tangannya, atau duduk diam setelah salat, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang dalam.

“Kakek…” bisikku lirih.

Air mata kembali mengalir. “Alya rindu sekali dengan Kakek.”Aku menelan ludah, mencoba menahan tangis. “Apakah Tuhan akan marah jika Alya meminta Kakek kembali?”
Suara itu bergetar. “Alya ingin memeluk Kakek… Alya ingin bermain lagi bersama Kakek.”

Aku menyentuh benda-benda peninggalannya satu per satu. Jam tangan tua, buku doa, dan beberapa pakaian yang masih tersimpan rapi. Setiap benda membawa cerita, setiap sentuhan menghadirkan bayangan masa lalu. Aku merasa seolah Kakek masih ada di sana, hanya tak terlihat.

Setelah cukup lama, aku mengambil satu barang sebuah foto lama. Foto aku dan Kakek berdiri berdampingan, tersenyum lebar di bawah sinar matahari.

Aku keluar dan duduk di kursi teras. Langit kini mulai gelap.Senja perlahan menyembunyikan dirinya, digantikan malam yang sunyi. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Aku memandangi foto itu, mengelusnya dengan hati-hati.

Di foto itu, Kakek tampak sangat tampan. Meski telah tua, iaselalu berpakaian rapi, selalu menjaga penampilannya. Sampai sekarang, aku masih mengingat aroma parfumnya aroma yang menenangkan, aroma yang selalu membuatku merasa aman.Aroma itu kini menjadi salah satu parfum favoritku, seolah dengan memakainya aku bisa kembali dekat dengannya.

Aku menatap langit yang mulai dipenuhi bintang. Dalam diam, seakan langit berbisik bahwa siapa pun, pada akhirnya, akankembali kepada Tuhan-Nya. Kehilangan memang menyakitkan, namun cinta yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar pergi.Ia hidup dalam kenangan, dalam doa, dan dalam hati orang-orang yang mencintai.

Aku tersenyum kecil di balik air mata. “Kakek… terima kasih sudah menjadi rumah paling hangat dalam hidup Alya.”

Malam pun turun sepenuhnya, memeluk rumah tua itu dengan lembut. Dan aku tahu, meski Kakek telah pergi, kenangantentangnya akan selalu tinggal kenangan yang tak pernah pergi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com