POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

RedaksiOleh Redaksi
December 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Alya Azzahra

Senja menyelimuti langit dengan warna kuning keemasan, seperti goresan kuas raksasa yang digerakkan perlahan oleh tangan tak terlihat. Cahaya matahari tidak lagi menyengat, melainkan lembut, menyentuh apa pun yang dilewatinya dengan kehangatan yang samar. Udara sore terasa lebih tenang, seolah dunia ikut melambat bersamaku.

Aku melangkah menyusuri lorong-lorong sempit yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Lorong yang dulu terasa begitu luas kini tampak lebih kecil, namun justru di situlah kenangan terasa semakin padat. 

Setiap langkah membawa ingatan yang tak pernah benar-benar hilang. Batu-batu kecil di jalan masih tersusun tak beraturan, sebagian telah retak, sebagian lagi tertutup debu dan lumut. Aku menunduk sesekali, memperhatikan jejak langkahku sendiri, seakan berharap menemukan jejak langkah masa kecil yang pernah tertinggal di sana.

Bangunan-bangunan di sepanjang lorong berdiri kokoh meski tak lagi muda. Catnya memudar, dindingnya retak, namun ada keteguhan yang tak tergantikan. Aku menatap setiap detailnya dengan saksama, seolah membaca satu per satu ukiran kenangan yang terpatri di dinding-dinding itu. Setiap sudut menyimpan cerita, setiap celah menghadirkan bayangan masa lalu.

Tanpa aba-aba, sebuah suara kecil tiba-tiba memenuhi pikiranku.

“Yeee, aku ada sepeda baru!”

Aku berhenti melangkah. Bibirku bergetar membentuk senyum tipis. Suara itu begitu jelas, penuh kegirangan yang polos.Dalam benakku, seorang anak kecil melompat-lompat di halaman rumah dengan mata berbinar. Rambutnya berantakan, pipinya memerah karena terlalu bersemangat. 

Sepeda kecil berdiri di dekatnya, masih mengilap, seolah baru saja keluar dari mimpi.

“Kemari lah, biar Kakek ajarkan caranya,” ucap sebuah suara tua namun hangat.

Alya kecil berlari menghampiri Kakek tanpa ragu. Lelaki tua itu berjongkok, memegang sepeda dengan kedua tangannya.Tangannya keriput, urat-uratnya terlihat jelas, namun sentuhannya selalu menenangkan.

“Alya siap, Kakek!” seru Alya lantang, penuh keyakinan meski rasa takut terselip di dadanya.

“Kakek hitung ya… satu… dua… tiga… ayo!”

Sepeda itu mulai bergerak perlahan. Alya mengayuh dengan hati-hati. Tubuhnya sedikit oleng, kakinya gemetar, namun Kakek tetap berada di belakang, siap menangkap jika ia terjatuh. Detik-detik itu terasa begitu panjang, namun juga begitu berarti.

“Yeee, Kakek! Alya bisaaa!”

📚 Artikel Terkait

Irwanda DSi Ajak Jamaah Jangan Bermegah Megahan

SURAT DARI LANGIT

JUAL BELI BERTEMPO DI ACEH: ANTARA KEARIFAN LOKAL DAN KEPATUHAN SYARIAH

Carilah Beasiswa Untuk Pendidikan Yang Lebih Baik

Tawa itu pecah, mengisi halaman rumah, bercampur dengan senyum bangga Kakek. Aku menutup mata. Kenangan itu terasa begitu nyata, seolah aku benar-benar berada di sana lagi.

Saat membuka mata, aku menyadari air mata telah mengalir di pipiku. Aku mengusapnya pelan, menarik napas dalam-dalam.Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang ingin keluar namun tak menemukan jalan.

Aku kembali melangkah hingga akhirnya kakiku berhenti di depan sebuah rumah tua. Rumah itu berdiri dengan sederhana, tak lagi kokoh seperti dulu. Atapnya tampak kusam, kayu-kayunya mulai lapuk, dan catnya mengelupas di sana-sini.Namun, ada sesuatu yang tak pernah berubah kehangatan yang diam-diam menyelimutinya.

Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu. Tanganku terkulai di samping tubuh, mataku menatap pintu kayu yang tertutup rapat. Dalam diam, aku berbisik,
“Kakek… Alya kembali.”

Aku meraih kunci dari dalam tas. Tanganku bergetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Perlahan, kunci itu kuputar.Suara klik terdengar pelan, namun cukup untuk membuat hatiku bergetar. Pintu itu terbuka, dan aroma khas rumah tua langsung menyambutku aroma kayu, debu, dan kenangan.

Aku melangkah masuk. Rumah itu terasa sunyi, namun bukan sunyi yang menakutkan. Sunyi yang penuh cerita. Aku menatap setiap sudutnya, setiap lekuk dindingnya. Di sinilah aku dilahirkan. Di sinilah aku belajar berjalan, belajar tertawa, dan belajar menangis. Tempat yang selalu memelukku saat dunia terasa terlalu berat.

Ruang keluarga masih sama. Sofa lama berdiri di tempatnya, meja kayu kecil di tengah ruangan, dan foto-foto lama terpajang rapi di dinding. Aku berjalan mendekat, mengamati satu per satu foto itu. Wajah-wajah yang tersenyum dari masa lalu menatapku seolah bertanya ke mana aku pergi selama ini.

Mataku tertuju pada satu foto Kakek menggendongku saat aku masih balita. Senyumnya begitu hangat, matanya memancarkan cinta yang tak pernah habis. Aku menyentuh bingkai foto itu dengan ujung jari, seakan bisa merasakan kehadirannya kembali.

Langkah kakiku kemudian terarah ke ujung rumah. Ada satu kamar yang selalu membuat jantungku berdegup lebih kencang.Aku berdiri di depan pintunya, menarik napas, lalu perlahan membukanya dan menyalakan lampu.

Cahaya lampu menerangi kamar yang masih utuh seperti dulu.Tempat tidur rapi, lemari kayu berdiri kokoh, dan sajadah terlipat di sudut ruangan. Tidak ada yang berubah. Seolah waktu berhenti di kamar itu.

Aku melangkah masuk dengan hati-hati. Dalam sekejap, aku seperti melihat Kakek duduk di tepi tempat tidur. Mengenakan kemeja rapi kesayangannya, wajahnya tenang, matanya teduh.Aku bisa membayangkan beliau merapikan jam tangannya, atau duduk diam setelah salat, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang dalam.

“Kakek…” bisikku lirih.

Air mata kembali mengalir. “Alya rindu sekali dengan Kakek.”Aku menelan ludah, mencoba menahan tangis. “Apakah Tuhan akan marah jika Alya meminta Kakek kembali?”
Suara itu bergetar. “Alya ingin memeluk Kakek… Alya ingin bermain lagi bersama Kakek.”

Aku menyentuh benda-benda peninggalannya satu per satu. Jam tangan tua, buku doa, dan beberapa pakaian yang masih tersimpan rapi. Setiap benda membawa cerita, setiap sentuhan menghadirkan bayangan masa lalu. Aku merasa seolah Kakek masih ada di sana, hanya tak terlihat.

Setelah cukup lama, aku mengambil satu barang sebuah foto lama. Foto aku dan Kakek berdiri berdampingan, tersenyum lebar di bawah sinar matahari.

Aku keluar dan duduk di kursi teras. Langit kini mulai gelap.Senja perlahan menyembunyikan dirinya, digantikan malam yang sunyi. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Aku memandangi foto itu, mengelusnya dengan hati-hati.

Di foto itu, Kakek tampak sangat tampan. Meski telah tua, iaselalu berpakaian rapi, selalu menjaga penampilannya. Sampai sekarang, aku masih mengingat aroma parfumnya aroma yang menenangkan, aroma yang selalu membuatku merasa aman.Aroma itu kini menjadi salah satu parfum favoritku, seolah dengan memakainya aku bisa kembali dekat dengannya.

Aku menatap langit yang mulai dipenuhi bintang. Dalam diam, seakan langit berbisik bahwa siapa pun, pada akhirnya, akankembali kepada Tuhan-Nya. Kehilangan memang menyakitkan, namun cinta yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar pergi.Ia hidup dalam kenangan, dalam doa, dan dalam hati orang-orang yang mencintai.

Aku tersenyum kecil di balik air mata. “Kakek… terima kasih sudah menjadi rumah paling hangat dalam hidup Alya.”

Malam pun turun sepenuhnya, memeluk rumah tua itu dengan lembut. Dan aku tahu, meski Kakek telah pergi, kenangantentangnya akan selalu tinggal kenangan yang tak pernah pergi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00