Dengarkan Artikel
Oleh Hurriyatuddaraini
Di Aceh, ada satu adat yang hidup bukan sekadar sebagai kebiasaan turun-temurun, melainkan sebagai cara memandang sesama manusia: peumulia jamee atau memuliakan tamu. Adat ini tidak lahir dari aturan tertulis, tetapi dari kesadaran kolektif bahwa tamu adalah amanah. Karena itu, siapa pun yang datang ke rumah orang Aceh hampir mustahil pulang tanpa makan. Bahkan sekadar singgah, selalu ada usaha menjamu, menyuguhi, atau setidaknya memastikan tamu merasa diterima.
Dalam keseharian, adat ini berjalan begitu alami. Ia tidak dianggap istimewa, apalagi dibanggakan. Ia hidup dalam kebiasaan kecil: menambah lauk, menuang air, atau menggeser piring agar tamu lebih dulu mengambil.
Namun makna peumulia jamee menjadi terasa berbeda ketika Aceh berada dalam kondisi darurat, saat banyak orang justru sedang berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya.
Tak sedikit pendatang yang menceritakan pengalaman itu dengan rasa takjub. Kisah-kisah tersebut kerap beredar di media sosial, dibagikan oleh pelancong maupun relawan. Banyak yang mengaku kaget melihat warga yang sedang tertimpa musibah masih menyempatkan diri menjamu tamu. Di tengah kehilangan dan keterbatasan, keramahan itu tetap hadir.
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh sejumlah figur publik yang turun langsung ke Aceh. Salah satunya adalah Chiki Fawzi, yang sejak awal musibah telah beberapa kali datang ke berbagai lokasi terdampak. Dalam pengalamannya, hampir setiap posko yang ia datangi, terutama ketika bertemu ibu-ibu Aceh, selalu ada upaya menjamu relawan. Padahal, di saat yang sama, harga kebutuhan pokok melonjak, rumah dan harta benda banyak yang hanyut atau rusak parah. Namun dengan segala keterbatasan yang ada, mereka tetap berusaha memberi.
Bukan hanya Chiki. Beberapa influencer lain yang turut hadir sebagai relawan juga merasakan hal yang sama. Cerita-cerita itu berulang dengan pola yang serupa: rasa sungkan dari tamu, ketulusan dari tuan rumah, dan keharuan yang sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman-pengalaman ini memperlihatkan bahwa peumulia jamee bukan kisah tunggal, melainkan denyut nilai yang hidup di banyak tempat dan peristiwa.
Yang menarik, keterkejutan ini ternyata bukan hanya milik orang luar. Kami yang lahir dan besar di Aceh, yang sejak kecil hidup bersama nilai peumulia jamee, justru ikut terdiam ketika mengalaminya dalam situasi seperti sekarang. Sebab di hari-hari normal, adat ini adalah hal yang biasa. Namun dalam kondisi bencana, ketika segalanya serba terbatas, tradisi ini terasa seperti sesuatu yang nyaris tak masuk akal, sekaligus sangat menggetarkan.
📚 Artikel Terkait
Beberapa hari yang lalu, kami, tim Inong Literasi, mendatangi sebuah posko pengungsian. Kami datang dengan membawa bantuan untuk kebutuhan dasar di pengungsian. Sejak awal, kami memahami betul kondisi di lapangan dan berbagai kebutuhan para penyintas. Namun dengan keterbatasan yang kami miliki, tidak semua permintaan dapat terpenuhi. Niat kami sederhana: hadir, melihat langsung keadaan, mendengar cerita para penyintas sebagai bentuk dukungan psikososial, dan membawa bantuan sebisanya.
Posko itu dipenuhi aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti. Orang-orang berlalu-lalang mengatur logistik. Di saat yang bersamaan, berbagai lembaga lain juga datang membawa bantuan. Ada yang membersihkan area, ada yang beristirahat sejenak, lalu kembali bergerak. Wajah-wajah lelah terlihat jelas di hampir setiap sudut. Di tengah suasana seperti itu, kami berusaha menempatkan diri sebagai tamu yang tahu batas.
Namun Aceh, seperti biasa, memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan makna memberi.
Di sela kesibukan posko, seorang adik mendekat. Wajahnya tampak letih, tetapi sorot matanya hangat. Di tangannya, ia membawa beberapa gelas minuman dan menyodorkannya kepada kami tanpa banyak kata. Minuman itu, dalam kondisi normal, mungkin tampak biasa saja. Namun dalam situasi darurat, rasanya menjadi sesuatu yang istimewa, bahkan mewah. Kami tahu, apa yang ia berikan bukanlah sesuatu yang mudah didapat. Dalam kondisi seperti ini, air minum dan kebutuhan dasar lainnya menjadi barang berharga, dan itu adalah milik mereka, disiapkan dari keterbatasan yang ada.
Rasa sungkan langsung menyergap. Naluri pertama kami adalah menolak. Ada perasaan tidak pantas menerima jamuan dari orang-orang yang justru sedang berada dalam posisi paling rentan. Namun tubuh kami lelah dan tenggorokan terasa kering. Yang membuat kami akhirnya menerima bukan sekadar rasa haus, melainkan cara ia memberi. Ia tidak memaksa, tidak memberi penjelasan panjang, dan tidak menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah pengorbanan. Ia memberi dengan cara yang sangat Aceh: tenang, wajar, seolah berkata bahwa inilah hal yang semestinya dilakukan.
Di momen sederhana itu, peumulia jamee terasa bukan lagi sekadar adat. Ia menjelma menjadi nilai kemanusiaan yang hidup. Dalam konteks bencana, ketika manusia kehilangan banyak hal sekaligus, tradisi ini justru menjaga satu hal penting: martabat. Bahwa meski terluka, Aceh tidak ingin dikenal hanya sebagai korban.
Bahkan, seorang ibu di pengungsian pernah berkata kepada seorang relawan ketika relawan itu menolak makan karena merasa sungkan.
“Sedang musibah, masa kami ikut makan,” ujar sang relawan saat diajak makan bersama.
Sang ibu menjawab dengan tenang,
“Man, adak pih relawan keun deuk syit, harus makan juga.”
Relawan itu tak kuasa menahan tangis. Hingga selesai makan, air matanya terus berjatuhan, membayangkan betapa tulusnya perlakuan masyarakat di daerah bencana, orang-orang yang tengah kehilangan banyak hal, namun tetap memilih memberi, memuliakan, dan menjaga martabat sesama.
Di posko-posko, di rumah-rumah yang tersisa, di antara lumpur dan lelah, tradisi ini terus hidup. Tanpa seremoni, tanpa sorotan. Ia hadir dalam secangkir minuman sederhana, dalam sikap yang mungkin tampak kecil, tetapi menyimpan makna besar.
Aceh boleh terluka.
Namun selama tradisi ini tetap dijaga, Aceh tidak pernah benar-benar kehilangan jiwanya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






