POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Indonesia Raya atau Indonesia Lelah?

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 25, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Meninjau Ulang Negara Besar, Tata Kelola Lemah, dan Keberanian Memilih Hasil Terbaik


Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati Kebangsaan dan Keadilan

Hujan lebat yang memaksa saya berhenti di pinggir jalan—berteduh bersama motor dan kesunyian sesaat—memberi ruang untuk berpikir lebih jernih tentang negeri ini. Dalam keadaan tidak bisa bergerak, justru pikiran berjalan jauh. Tentang Indonesia. Tentang negara yang begitu besar, tetapi terasa kelelahan. Tentang rakyat yang terus diminta bersabar, sementara hasil dari kesabaran itu tak kunjung terasa adil.

Indonesia adalah negara raksasa: wilayah luas, penduduk terbesar keempat di dunia, kekayaan alam melimpah. Hampir semua indikator kuantitatif menempatkan kita sebagai negara “besar”. Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah kebesaran itu benar-benar bekerja untuk kebahagiaan dan martabat rakyat?

Di sinilah ironi Indonesia hari ini. Negara tumbuh membesar, tetapi kapasitas mengelolanya tertinggal. Tubuh membesar, sementara otot melemah. Kekayaan mengalir deras, namun tidak sampai ke akar. Yang menikmati justru segelintir elite ekonomi dan politik, sementara rakyat menghadapi banjir, kemiskinan, konflik agraria, dan ketidakpastian hidup. Ini bukan sekadar masalah moral individu, melainkan persoalan desain negara dan tata kelola.

Dalam perspektif abad ke-21, negara tidak lagi dinilai dari luas wilayah, jumlah tentara, atau kerasnya slogan persatuan. Negara dinilai dari state capacity—kemampuan nyata untuk mengelola wilayah, hukum, fiskal, dan sumber daya manusia secara adil dan berkelanjutan. Pada titik ini, Indonesia menghadapi masalah serius: terdapat ketidaksesuaian antara skala negara dan kualitas tata kelolanya.

Kita sering membanggakan semboyan “NKRI harga mati”. Tetapi pertanyaan jujur yang jarang diajukan adalah: harga itu dibayar oleh siapa? Jika harga yang dibayar adalah rusaknya lingkungan, hilangnya tanah rakyat, buruh murah tanpa perlindungan, serta pelanggaran hak asasi manusia yang tidak terselesaikan, maka semboyan itu kehilangan makna etiknya. Kesetiaan pada negara seharusnya tidak mengharuskan rakyat menutup mata terhadap ketidakadilan.

📚 Artikel Terkait

CUT NYAK DHIEN

Berdampingan dengan Corona? Siapa Takut?

Gampong Ramah Anak

Sumber Belajar di Era Digital

Konstitusi Republik Indonesia secara tegas menyatakan tujuan bernegara: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menegakkan keadilan sosial. Namun dalam praktiknya, orientasi kebijakan sering bergeser dari welfare ke growth, dari keadilan ke ambisi, dari manusia ke proyek. Pembangunan diukur dari beton, bukan dari kualitas hidup.

Akibatnya, kita menyaksikan paradoks: negara yang kaya sumber daya tetapi gagal menjamin kesejahteraan merata; negara yang demokratis secara prosedural tetapi miskin kepercayaan publik; negara yang berdaulat secara simbolik tetapi rapuh secara ekologis. Hutan ditebang, tambang dibuka, dan perkebunan monokultur meluas, sementara bencana ekologis menjadi rutinitas. Alam diperlakukan sebagai komoditas jangka pendek, bukan sebagai penopang kehidupan generasi mendatang.

Di berbagai wilayah, termasuk Aceh, eksploitasi sumber daya sering kali dilakukan tanpa partisipasi rakyat yang bermakna. Konflik lahan, penggusuran, dan marginalisasi masyarakat lokal menjadi harga yang “dianggap wajar” demi pembangunan. Di sini, negara tampak kuat ke bawah, tetapi lemah ke atas. Hukum tajam kepada rakyat, tumpul kepada pemodal besar.

Jika kita jujur belajar dari pengalaman negara lain, terutama negara-negara kecil, muncul pelajaran penting. Singapura, Selandia Baru, atau beberapa negara Nordik tidak memiliki wilayah luas dan populasi besar. Namun mereka fokus pada kualitas tata kelola, investasi pada sumber daya manusia, dan kepastian hukum. Mereka tidak sibuk membanggakan kebesaran simbolik, tetapi memastikan negara bekerja efektif bagi warganya.

Perbandingan ini bukan untuk merendahkan Indonesia atau memuja negara lain. Ini adalah cermin. Ukuran negara harus sebanding dengan kemampuan mengelola. Dalam ilmu kebijakan publik, ketidakseimbangan antara skala dan kapasitas hampir selalu berujung pada korupsi, inefisiensi, dan kekerasan struktural. Negara yang terlalu besar tanpa tata kelola kuat cenderung melahirkan militerisme dan oligarki.

Di sinilah keberanian berpikir diperlukan. Kita perlu keluar dari jebakan ide-ide kosong dan ambisi besar yang tidak diiringi kemampuan nyata. Abad ke-21 menuntut orientasi pada hasil (outcome-oriented governance), bukan sekadar proses dan niat. Tidak ada proses yang sepenuhnya indah—demokrasi, reformasi, dan pembangunan selalu penuh konflik. Tetapi proses yang sulit harus melahirkan hasil yang bermakna: keadilan, kesejahteraan, dan rasa aman.

Jika proses panjang, mahal, dan penuh pengorbanan justru menghasilkan kekacauan, ketimpangan, dan ketidakpercayaan publik, maka yang perlu ditinjau ulang bukan rakyatnya, melainkan desain negaranya. Dalam analogi rumah tangga, rumah yang terlalu besar namun penuh konflik dan kerusakan tidak otomatis layak dipertahankan dalam bentuk yang sama. Tujuan utama hidup bersama adalah kebahagiaan dan kelayakan hidup, bukan sekadar mempertahankan bentuk.

Meninjau ulang tidak selalu berarti memecah belah. Dalam banyak kasus, peninjauan ulang justru menyelamatkan. Ia membuka ruang untuk desain ulang, desentralisasi yang sungguh-sungguh, pembagian kewenangan yang adil, dan penguatan komunitas lokal. Negara modern bukan negara yang memaksakan keseragaman, melainkan negara yang mampu mengelola keberagaman dengan adil.

Keberanian memilih adalah kunci abad ke-21. Memilih efisiensi daripada simbolisme. Memilih keadilan daripada ambisi kosong. Memilih keberlanjutan daripada eksploitasi. Negara tidak perlu terlihat perkasa jika rakyatnya menderita. Negara tidak perlu terlalu besar jika tidak mampu mengelola secara manusiawi.

Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kurang adalah keberanian moral dan kecerdasan institusional untuk mengubah arah. Kita tidak membutuhkan lebih banyak slogan, tetapi lebih banyak kejujuran. Kita tidak membutuhkan proyek raksasa, tetapi kebijakan yang menyentuh hidup rakyat. Kita tidak membutuhkan kekuasaan yang keras, tetapi negara yang dipercaya.

Indonesia Raya seharusnya berarti rakyat yang merasa dilindungi, dihargai, dan memiliki masa depan. Jika hari ini Indonesia terasa lelah, maka tugas kita bersama adalah menyembuhkannya—dengan refleksi yang jujur, analisis yang tajam, dan keberanian memilih jalan terbaik, meski tidak mudah.

Karena pada akhirnya, negara yang benar-benar besar bukanlah yang tubuhnya gemuk, melainkan yang mampu menghadirkan keadilan dan kebahagiaan bagi warganya. Dan itulah Indonesia yang patut kita perjuangkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Moral Masyarakat dalam Bencana

Aceh Butuh Komando Tunggal Darurat Banjir: Saatnya Bertindak, Bukan Rapat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00