POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Agama

RedaksiOleh Redaksi
December 25, 2025
Agama
🔊

Dengarkan Artikel


aldrinarief di CAFE Buku Reiner Emyot Ointoe

Agama tidak datang untuk membuatmu nyaman,
ia datang untuk membuatmu jujur.
Jujur pada luka,
pada kehancuran batin,
pada hati yang kehilangan arah
namun terlalu sombong untuk mengaku haus.

Agama bukan sekadar aturan dan larangan,
bukan hafalan doa,
bukan pakaian yang tampak saleh.
Agama adalah cermin
yang memaksa manusia menatap dirinya
tanpa topeng,
tanpa alasan,
tanpa pembelaan.

Ketika jiwamu lelah,
agama tidak selalu berkata,
“Tenanglah.”
Sering kali agama justru bertanya,
“Apa yang sedang kamu sembah sebenarnya?”

Karena banyak orang
mengucap nama Tuhan,
namun hidupnya diserahkan
pada uang,
status,
dan pengakuan manusia.

Agama mengajarkan satu hukum sunyi:
tidak ada kebangkitan
tanpa kematian.
Tidak ada cahaya
tanpa kegelapan yang dilalui.
Tidak ada iman
tanpa runtuhnya keakuan.

Hati yang hancur
bukan tanda ditinggalkan Tuhan,
melainkan tanda
bahwa pegangan palsu
sedang dicabut satu per satu.
Dan itu sakit.
Sangat sakit.

📚 Artikel Terkait

Wagub Sumbar Minta SatuPena Sumbar Urus HAKI IMLF

HANYA ISTRIKU

Perempuan, Ketahanan Keluarga, dan Ketegasan Negara

Ironi “Iron Lady” dan Politik Identitas yang Retak

Agama tidak buru-buru menyembuhkan.
Ia membiarkanmu jatuh
agar kamu berhenti bersandar
pada dirimu sendiri.
Ia membiarkanmu kosong
agar kamu tahu
siapa yang sesungguhnya mengisi.

Banyak orang merasa gelisah
bukan karena kurang ibadah,
melainkan karena ibadahnya
tidak lagi menyentuh makna.
Mulut bergerak,
hati tetap bising.
Tubuh sujud,
jiwa tetap berlari.

Padahal agama sejak awal
ingin membawa manusia pulang.
Pulang dari kesibukan yang memabukkan,
dari ambisi yang mengikis jiwa,
dari kebanggaan yang pelan-pelan
membunuh ketenangan.

Agama tidak memperbaiki egomu.
Ia menghancurkannya.
Agar yang tersisa
bukan rasa hebat,
melainkan rasa berserah.

Dan ketika seseorang benar-benar beragama,
ia tidak menjadi paling benar,
tidak paling keras,
tidak paling merasa suci.
Ia justru menjadi
lebih rendah hati,
lebih lembut,
lebih takut menyakiti.

Karena ia tahu,
Tuhan tidak tinggal
di bangunan,
di simbol,
atau di teriakan moral.

Tuhan tinggal
di hati yang hancur
namun memilih jujur,
di jiwa yang lelah
namun tetap berharap,
di manusia yang akhirnya sadar
bahwa ia tidak punya apa-apa
selain kebutuhan
untuk berserah.

Itulah agama.
Bukan pelarian dari penderitaan,
melainkan cahaya
yang membuat penderitaan
bermakna.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Indonesia Raya atau Indonesia Lelah?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00