• Latest
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Desember 24, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Redaksi by Redaksi
Desember 24, 2025
in #Cerpen, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Takengon
Reading Time: 4 mins read
0
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hamdani Mulya

Suara syair Didong Gayo yang bersenandung syahdu tiba-tiba menghilang perlahan tenggelam, dibawa suara arus gemuruh banjir bandang di tanah Gayo.

Gayo, Aceh Tengah, terpuruk dalam kesedihan. Hujan deras yang tak henti-hentinya selama beberapa hari membuat Sungai Peusangan meluap, membanjiri desa-desa di sekitarnya. Di tengah kesulitan itu, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Gayo menjadi pusat perhatian. Guru-guru dan murid-murid berusaha menyelamatkan diri dari terjangan banjir bandang.

Pak Wen, seorang guru sejarah yang penuh semangat, berlari ke kelas Ibu Munawariate, yang sedang mengajar matematika. “Ibu, air sudah mulai masuk ke sekolah! Kita harus evakuasi murid-murid!” teriak Pak Wen.

Ibu Munawariate, seorang guru yang bijak dan sabar, langsung menghentikan pelajaran dan memerintahkan murid-murid untuk berkumpul di lapangan. Mereka berlari keluar kelas, membawa tas dan buku-buku mereka.

Di lapangan, Pak Wen membagi murid-murid menjadi beberapa kelompok. “Kita harus pergi ke tempat yang lebih tinggi! Ikuti saya!” katanya, sambil memimpin kelompok pertama.

Rai dan Reu, dua murid yang akrab, berlari bersama-sama. Mereka memegang tangan erat, takut terpisah dalam kesibukan evakuasi. Ine, ibu Rai, berlari menolong mereka, membantunya berdiri dan melanjutkan perjalanan.

“Ama, lapangan pacuan kuda kita!” teriak Reu, sambil menunjuk lapangan pacuan kuda Gayo yang amblas, hancur diterjang banjir bandang.

Ama, ayah Reu, menatap lapangan pacuan kuda itu, mata basah oleh air mata. “Kita akan bangkit kembali, Reu. Gayo tidak boleh runtuh.”

Saat mereka mencapai tempat yang lebih tinggi, mereka melihat sekolah mereka, SMP Gayo, terendam air. Bangunan sekolah yang kokoh itu kini roboh, hancur diterjang banjir bandang.

Pak Wen dan Ibu Munawariate saling menatap, mata mereka basah oleh air mata. Mereka tahu, sekolah yang menjadi tempat mereka mengajar dan belajar selama ini, kini telah tiada.

“Murid-murid, kita harus kuat,” kata Pak Wen, suaranya bergetar. “Kita akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.”

Murid-murid mengangguk, mata mereka juga basah oleh air mata. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

Hari-hari berikutnya, Gayo masih terisolasi. Warga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, termasuk makanan dan air bersih. Pak Wen dan Ibu Munawariate berusaha membantu warga, membagikan makanan yang masih tersisa dan air yang mereka dapatkan.

Rai dan Reu membantu Ine, membagikan makanan kepada warga yang membutuhkan. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki harapan. Mereka tahu, mereka akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.

Di tengah kesulitan, Ine mengajak Rai dan Reu untuk melakukan zikir dan doa bersama, sebagai tanda kesyukuran dan harapan.

“Ine, apa tujuan kegiatan ini?” tanya Rai.

“Zikir dan doa bersama ini adalah tanda kesyukuran kita, Rai. Kita berterima kasih kepada Allah atas apa yang kita miliki, dan kita berharap agar Gayo bangkit kembali,” jawab Ine.

Rai dan Reu mengangguk, mata mereka berbinar. Mereka tahu, mereka memiliki iman yang kuat dan mempunyai kesabaran yang tinggi. Sebagai orang Gayo yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang mereka anut.

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki harapan. Mereka tahu, mereka akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.

Minggu berikutnya, warga Gayo mulai membersihkan puing-puing bangunan yang hancur. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin gotong royong, membersihkan sekolah yang roboh.

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Rai dan Reu membantu Ine, membersihkan rumah mereka yang rusak. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

Bulan berikutnya, warga Gayo mulai membangun kembali sekolah mereka. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin proyek pembangunan, dengan bantuan warga sekitar.

Rai dan Reu membantu Ine, mengumpulkan bahan-bahan untuk pembangunan sekolah mereka.

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki kekuatan untuk bangkit berusaha.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan, sekolah SMP Gayo selesai dibangun kembali. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin upacara peresmian, dengan dihadiri warga sekitar.

Rai dan Reu berdiri di depan sekolah, melihat bangunan baru yang kokoh. Mereka tahu, mereka telah melalui kesulitan yang berat, tetapi mereka tidak menyerah.

“Ine, kita berhasil!” kata Rai, sambil memeluk Ine.

ADVERTISEMENT

“Kita berhasil, Rai,” jawab Ine, sambil tersenyum. “Gayo akan selalu bangkit kembali.” sambung Ine penuh haru.

Tanah Gayo masih diselimuti kabut yang menggigil. Malam pun menyongsong embun di rintik-rintik daun kopi yang mulai menghijau. Warga lelap dalam mimpi, seperti mimpi orang Gayo yang selalu bangkit menggapai mimpi menjadi nyata.

Takengon-Aceh Utara, 22 Desember 2025

Riwayat Penulis
Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala (USK). Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Meutuah Diklat, dan Jurnal Al-Huda.
Puisinya juga terkumpul bersama penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (2016), Yogja dalam Nafasku (2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM 2017), dan Gempa Pidie Jaya (2017). Selain menulis puisi dan cerpen Hamdani juga menulis artikel pendidikan, sejarah, dan esai bertema lingkungan.
Hamdani Mulya telah berhasil menulis beberapa buku diantaranya berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh dan Wajah Aceh dalam Puisi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2020.

(Editor : LK. Ara)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

10 Sajak Pilihan Terbaik Pulo Lasman Simanjuntak Jelang Akhir Tahun

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com