POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

RedaksiOleh Redaksi
December 24, 2025
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hamdani Mulya

Suara syair Didong Gayo yang bersenandung syahdu tiba-tiba menghilang perlahan tenggelam, dibawa suara arus gemuruh banjir bandang di tanah Gayo.

Gayo, Aceh Tengah, terpuruk dalam kesedihan. Hujan deras yang tak henti-hentinya selama beberapa hari membuat Sungai Peusangan meluap, membanjiri desa-desa di sekitarnya. Di tengah kesulitan itu, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Gayo menjadi pusat perhatian. Guru-guru dan murid-murid berusaha menyelamatkan diri dari terjangan banjir bandang.

Pak Wen, seorang guru sejarah yang penuh semangat, berlari ke kelas Ibu Munawariate, yang sedang mengajar matematika. “Ibu, air sudah mulai masuk ke sekolah! Kita harus evakuasi murid-murid!” teriak Pak Wen.

Ibu Munawariate, seorang guru yang bijak dan sabar, langsung menghentikan pelajaran dan memerintahkan murid-murid untuk berkumpul di lapangan. Mereka berlari keluar kelas, membawa tas dan buku-buku mereka.

Di lapangan, Pak Wen membagi murid-murid menjadi beberapa kelompok. “Kita harus pergi ke tempat yang lebih tinggi! Ikuti saya!” katanya, sambil memimpin kelompok pertama.

Rai dan Reu, dua murid yang akrab, berlari bersama-sama. Mereka memegang tangan erat, takut terpisah dalam kesibukan evakuasi. Ine, ibu Rai, berlari menolong mereka, membantunya berdiri dan melanjutkan perjalanan.

“Ama, lapangan pacuan kuda kita!” teriak Reu, sambil menunjuk lapangan pacuan kuda Gayo yang amblas, hancur diterjang banjir bandang.

Ama, ayah Reu, menatap lapangan pacuan kuda itu, mata basah oleh air mata. “Kita akan bangkit kembali, Reu. Gayo tidak boleh runtuh.”

Saat mereka mencapai tempat yang lebih tinggi, mereka melihat sekolah mereka, SMP Gayo, terendam air. Bangunan sekolah yang kokoh itu kini roboh, hancur diterjang banjir bandang.

Pak Wen dan Ibu Munawariate saling menatap, mata mereka basah oleh air mata. Mereka tahu, sekolah yang menjadi tempat mereka mengajar dan belajar selama ini, kini telah tiada.

“Murid-murid, kita harus kuat,” kata Pak Wen, suaranya bergetar. “Kita akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.”

Murid-murid mengangguk, mata mereka juga basah oleh air mata. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

Hari-hari berikutnya, Gayo masih terisolasi. Warga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, termasuk makanan dan air bersih. Pak Wen dan Ibu Munawariate berusaha membantu warga, membagikan makanan yang masih tersisa dan air yang mereka dapatkan.

Rai dan Reu membantu Ine, membagikan makanan kepada warga yang membutuhkan. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

📚 Artikel Terkait

Menangis Tidak Menyelesaikan Masalah, Ibu Menteri…

Dua Setangkai Puisi Rosli K. Matari

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki harapan. Mereka tahu, mereka akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.

Di tengah kesulitan, Ine mengajak Rai dan Reu untuk melakukan zikir dan doa bersama, sebagai tanda kesyukuran dan harapan.

“Ine, apa tujuan kegiatan ini?” tanya Rai.

“Zikir dan doa bersama ini adalah tanda kesyukuran kita, Rai. Kita berterima kasih kepada Allah atas apa yang kita miliki, dan kita berharap agar Gayo bangkit kembali,” jawab Ine.

Rai dan Reu mengangguk, mata mereka berbinar. Mereka tahu, mereka memiliki iman yang kuat dan mempunyai kesabaran yang tinggi. Sebagai orang Gayo yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang mereka anut.

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki harapan. Mereka tahu, mereka akan bangkit kembali, seperti Gayo yang selalu bangkit dari kesulitan.

Minggu berikutnya, warga Gayo mulai membersihkan puing-puing bangunan yang hancur. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin gotong royong, membersihkan sekolah yang roboh.

Rai dan Reu membantu Ine, membersihkan rumah mereka yang rusak. Mereka tahu, mereka harus kuat, untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk Gayo.

Bulan berikutnya, warga Gayo mulai membangun kembali sekolah mereka. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin proyek pembangunan, dengan bantuan warga sekitar.

Rai dan Reu membantu Ine, mengumpulkan bahan-bahan untuk pembangunan sekolah mereka.

Gayo, Aceh Tengah, masih terisolasi, tetapi warga masih memiliki kekuatan untuk bangkit berusaha.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan, sekolah SMP Gayo selesai dibangun kembali. Pak Wen dan Ibu Munawariate memimpin upacara peresmian, dengan dihadiri warga sekitar.

Rai dan Reu berdiri di depan sekolah, melihat bangunan baru yang kokoh. Mereka tahu, mereka telah melalui kesulitan yang berat, tetapi mereka tidak menyerah.

“Ine, kita berhasil!” kata Rai, sambil memeluk Ine.

“Kita berhasil, Rai,” jawab Ine, sambil tersenyum. “Gayo akan selalu bangkit kembali.” sambung Ine penuh haru.

Tanah Gayo masih diselimuti kabut yang menggigil. Malam pun menyongsong embun di rintik-rintik daun kopi yang mulai menghijau. Warga lelap dalam mimpi, seperti mimpi orang Gayo yang selalu bangkit menggapai mimpi menjadi nyata.

Takengon-Aceh Utara, 22 Desember 2025

Riwayat Penulis
Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe. Lahir di desa Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara 10 Mai 1979. Alumni Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala (USK). Karya Hamdani Mulya dipublikasikan di harian Serambi Indonesia, Kutaradja, Waspada, Haba Rakyat, Majalah Fakta, Santunan Jadid, Seumangat BRR, Meutuah Diklat, dan Jurnal Al-Huda.
Puisinya juga terkumpul bersama penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Dalam Beku Waktu (2003), Paru Dunia (2016), Yogja dalam Nafasku (2016), Aceh 5:03 6,4 SR (FAM 2017), dan Gempa Pidie Jaya (2017). Selain menulis puisi dan cerpen Hamdani juga menulis artikel pendidikan, sejarah, dan esai bertema lingkungan.
Hamdani Mulya telah berhasil menulis beberapa buku diantaranya berjudul Jejak Dakwah Sultan Malikussaleh dan Wajah Aceh dalam Puisi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2020.

(Editor : LK. Ara)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

10 Sajak Pilihan Terbaik Pulo Lasman Simanjuntak Jelang Akhir Tahun

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00